Keboncinta.com-- Selama bertahun-tahun, sekolah sering dipandang sebagai tempat untuk mengikuti pembelajaran, mengerjakan tugas, membaca buku, dan mengejar nilai ujian. Namun, perkembangan dunia pendidikan menunjukkan bahwa keberhasilan peserta didik tidak cukup diukur hanya dari pencapaian akademiknya.
Pendidikan kini semakin diarahkan untuk membentuk peserta didik secara utuh, baik dari sisi pengetahuan, keterampilan maupun karakter. Gagasan tersebut turut menjadi perhatian Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Kepala Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan Kemendikdasmen, Irsyad Zamjani, PhD, menyampaikan pentingnya pendekatan pendidikan yang mampu mengembangkan potensi siswa secara menyeluruh.
Hal itu disampaikannya ketika menghadiri Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 di Jakarta, Sabtu, 5 September 2026.
Menurut Irsyad, gagasan pendidikan holistik memiliki keterkaitan dengan arah kebijakan pembelajaran yang tengah dikembangkan. Pembentukan karakter siswa dapat diperkuat melalui kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler, sehingga proses pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas.
Baca Juga: Akhir 2026 Disebut Bakal Penuh Bencana Ini Fakta dan Ancaman yang Perlu Diwaspadai Indonesia
Konsep deep learning atau pembelajaran mendalam yang dikembangkan Kemendikdasmen menempatkan pengalaman peserta didik sebagai bagian penting dalam proses belajar.
Pendekatan tersebut menekankan tiga prinsip utama, yaitu joyful learning, mindful learning, dan meaningful learning. Ketiganya mengarahkan pembelajaran agar berlangsung dengan suasana menyenangkan, kesadaran dalam belajar, serta memberikan makna bagi kehidupan siswa.
Dalam penerapan mindful learning, siswa tidak berhenti pada kemampuan mengingat atau memahami materi. Mereka juga diarahkan untuk menyadari apa yang sudah dipahami, bagaimana proses mereka belajar, serta mengapa pengetahuan tersebut penting.
Dengan cara tersebut, siswa memperoleh kesempatan untuk melakukan refleksi dan mengenali proses belajarnya sendiri. Pembelajaran pun tidak hanya berorientasi pada hasil akhir, tetapi juga pengalaman yang dilalui peserta didik.
Dalam pandangannya, Irsyad menilai terdapat praktik pendidikan di pesantren yang sejalan dengan konsep pendidikan holistik. Pendidikan di pesantren tidak hanya memberikan pengetahuan melalui kegiatan pembelajaran formal, tetapi juga membentuk karakter melalui rutinitas sehari-hari.
Nilai seperti disiplin, tanggung jawab, kemandirian, dan kemampuan bekerja sama tidak sebatas diajarkan dalam bentuk teori. Nilai tersebut menjadi bagian dari kehidupan dan aktivitas peserta didik sehari-hari.
Menurut Irsyad, pola pembentukan karakter seperti itu telah lama menjadi bagian dari tradisi pendidikan pesantren.
Baca Juga: Taklukkan TWK CPNS 2026 dengan Latihan Soal Pancasila Pemerintahan dan Good Governance
Ia bahkan menyebut bahwa kebijakan pendidikan nasional saat ini berupaya mencapai sesuatu yang sudah dipraktikkan pesantren sejak lama.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan holistik tidak selalu harus dilakukan dengan menambah materi pembelajaran. Pembentukan peserta didik secara utuh juga dapat dilakukan melalui pengalaman, kebiasaan, serta aktivitas nyata.
Arah pengembangan pendidikan nasional juga tercermin melalui delapan dimensi profil lulusan yang diharapkan dimiliki peserta didik.
Kedelapan aspek tersebut meliputi keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, kemampuan bernalar kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, serta komunikasi.
Kerangka tersebut menunjukkan bahwa tujuan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan siswa memperoleh nilai tinggi dalam ujian. Sekolah juga memiliki peran dalam mempersiapkan peserta didik menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan.
Siswa perlu memiliki kemampuan untuk berpikir kritis, menyelesaikan persoalan, bekerja bersama orang lain, menjaga kesehatan, berkomunikasi, serta mengambil peran secara positif di tengah masyarakat.
Baca Juga: Anak Krakatau Kembali Bersuara Warga Diminta Tak Abaikan Tanda Alam dan Tetap Siaga
Pengembangan karakter tidak harus sepenuhnya dilakukan melalui pembelajaran di kelas. Kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler dapat menjadi bagian penting dalam memberikan pengalaman yang lebih luas kepada siswa.
Berbagai aktivitas seperti olahraga, seni, organisasi, bahasa, kegiatan sosial, hingga proyek yang dikerjakan secara berkelompok dapat memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan yang tidak selalu tercermin melalui nilai rapor atau hasil ujian.
Karena itu, kegiatan di luar pembelajaran utama sebaiknya tidak dipandang hanya sebagai aktivitas tambahan. Dengan perencanaan yang tepat, kegiatan tersebut dapat menjadi sarana untuk membentuk karakter sekaligus mengembangkan kompetensi peserta didik.
Pengalaman berorganisasi, misalnya, dapat melatih kepemimpinan dan komunikasi. Sementara kegiatan kelompok dapat membangun kemampuan bekerja sama dan bertanggung jawab.
Menurut Irsyad, tantangan pendidikan bukan hanya memastikan siswa mendapatkan pengetahuan sebanyak-banyaknya. Hal yang lebih penting adalah melihat bagaimana pengetahuan tersebut membentuk kemampuan dan karakter peserta didik.
Pengetahuan yang diperoleh di sekolah diharapkan dapat digunakan untuk menghadapi persoalan nyata. Siswa bukan hanya mengetahui suatu konsep, tetapi juga mampu memahami manfaatnya dan menggunakannya secara tepat.
Dengan karakter yang kuat, kemampuan berpikir yang matang, serta keterampilan bekerja sama dan berkomunikasi, pengetahuan yang dimiliki peserta didik dapat memberikan manfaat yang lebih luas.
Pada akhirnya, pendidikan holistik menempatkan siswa sebagai pribadi yang perlu berkembang secara menyeluruh. Sekolah tidak hanya bertugas mencetak siswa dengan nilai akademik tinggi, tetapi juga mempersiapkan generasi yang memiliki karakter, keterampilan, kesehatan, dan kemampuan menghadapi tantangan kehidupan.***