Parenting
Rahman Abdullah

Pentingnya Literasi Digital untuk Anak, Ini 4 Dampak Buruk yang Bisa Dicegah Sejak Dini

Pentingnya Literasi Digital untuk Anak, Ini 4 Dampak Buruk yang Bisa Dicegah Sejak Dini

21 Oktober 2026 | 19:40

KebonCinta.com-- Penggunaan teknologi digital kini semakin dekat dengan kehidupan anak-anak. Ponsel pintar, media sosial, permainan daring, hingga platform berbagi video menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari, baik untuk belajar maupun mencari hiburan. Di balik kemudahan tersebut, ada tantangan yang perlu diperhatikan orang tua agar anak tidak terjebak dalam penggunaan teknologi yang berlebihan.

Anak-anak yang belum memiliki pemahaman memadai tentang dunia digital cenderung membutuhkan pendampingan untuk membedakan penggunaan teknologi yang bermanfaat dan perilaku yang berisiko. Karena itu, mengenalkan literasi digital sejak dini menjadi langkah penting untuk membekali mereka menghadapi perkembangan teknologi.

Literasi digital bukan sekadar kemampuan mengoperasikan perangkat atau membuka aplikasi. Anak juga perlu memahami etika berkomunikasi di internet, menjaga privasi, mengenali informasi yang belum tentu benar, serta mengetahui cara menggunakan teknologi secara aman dan bertanggung jawab.

Hary Budiarto menyoroti pentingnya literasi digital bagi anak agar mereka lebih siap menghadapi berbagai risiko di ruang digital. Tanpa pemahaman dan pengawasan yang memadai, penggunaan teknologi berpotensi memengaruhi kebiasaan sehari-hari, hubungan sosial, hingga kondisi emosional anak.

Baca Juga: 10 Cara Menumbuhkan Minat Baca Anak Sejak Dini agar Gemar Membaca di Era Digital 

1. Anak Sulit Mengatur Waktu karena Terlalu Asyik dengan Gawai

Salah satu tantangan yang sering dihadapi keluarga adalah ketika anak sulit berhenti menggunakan perangkat digital. Permainan daring, video pendek, dan tontonan yang terus berganti dapat membuat anak ingin menghabiskan waktu lebih lama di depan layar.

Tanpa batasan yang jelas, kebiasaan tersebut berpotensi menggeser waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar, tidur, berolahraga, atau bermain bersama teman. Anak juga dapat mengalami kesulitan mengikuti jadwal harian karena terlalu larut dalam aktivitas digital.

Jika berlangsung terus-menerus, pola ini bisa mengganggu keseimbangan aktivitas anak. Kurangnya waktu tidur, misalnya, dapat membuat anak lebih mudah lelah dan kurang siap mengikuti pelajaran di sekolah.

Orang tua dapat membantu dengan membuat kesepakatan mengenai waktu penggunaan gawai. Jadwal belajar, waktu istirahat, dan kegiatan bersama keluarga perlu tetap menjadi prioritas. Anak juga sebaiknya diberi kesempatan untuk belajar mengakhiri aktivitas digital secara mandiri.

2. Interaksi Sosial Anak Bisa Berkurang

Masa kanak-kanak merupakan periode penting untuk mengenal lingkungan, membangun pertemanan, dan belajar memahami orang lain. Melalui permainan bersama, anak berlatih berbagi, bekerja sama, menyelesaikan perselisihan, serta mengungkapkan perasaan.

Namun, jika sebagian besar waktu luang dihabiskan dengan perangkat digital, kesempatan untuk menjalani pengalaman sosial secara langsung dapat berkurang.

Anak mungkin lebih memilih bermain gim sendirian daripada mengikuti kegiatan bersama teman atau keluarga. Apabila kebiasaan ini terus berlangsung, perkembangan keterampilan sosialnya berpotensi kurang optimal.

Meski demikian, teknologi digital tidak selalu menjauhkan anak dari lingkungan sosial. Internet juga dapat menjadi sarana berkomunikasi dan bekerja sama apabila digunakan dengan tepat.

Kuncinya adalah menjaga keseimbangan. Orang tua dapat mengajak anak bermain di luar rumah, mengikuti kegiatan kelompok, melakukan aktivitas keluarga, atau berkunjung ke lingkungan sekitar agar anak tetap memiliki pengalaman berinteraksi secara langsung.

Baca Juga: Bolehkah Makan Buah Sebelum Makan Nasi? Ini Penjelasan dan Tips agar Pencernaan Tetap Nyaman 

3. Penggunaan Digital Berlebihan Berisiko Mengganggu Kesehatan Mental

Dunia digital menghadirkan berbagai hiburan yang menarik, tetapi anak belum tentu memiliki kemampuan yang cukup untuk mengelola emosi ketika menghadapi pengalaman yang tidak menyenangkan di internet.

Kekalahan dalam permainan, komentar negatif, perundungan siber, atau paparan konten yang tidak sesuai usia dapat memicu rasa kecewa, takut, dan cemas. Jika anak terus-menerus menghadapi situasi tersebut tanpa dukungan yang memadai, kesejahteraan emosionalnya bisa terganggu.

Penggunaan gawai yang berlebihan juga dapat mengurangi waktu tidur dan aktivitas fisik.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 2
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Literasi Digital anak dan internet Keamanan Digital

Komentar Pengguna