Gaya Hidup
Al Fina

Pertamax Ganti Pertalite, Kopi Kafe Bikin Sendiri! Menkeu Soroti Fenomena Lifestyle Downgrade

Pertamax Ganti Pertalite, Kopi Kafe Bikin Sendiri! Menkeu Soroti Fenomena Lifestyle Downgrade

09 Oktober 2026 | 11:57

KebonCinta.com – Fenomena lifestyle downgrade atau penurunan standar gaya hidup mulai menjadi perhatian di tengah tekanan pengeluaran masyarakat. Kebiasaan yang sebelumnya dianggap biasa, seperti menggunakan Pertamax, membeli kopi di kafe, hingga menikmati makanan di luar rumah, kini mulai dipertimbangkan kembali demi menjaga kondisi keuangan.

Bagi sebagian Gen Z dan milenial, perubahan ini bukan sekadar tren hidup sederhana. Mengatur pengeluaran menjadi kebutuhan agar uang bulanan tetap cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok, membayar tagihan, dan menyisihkan tabungan.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara turut menanggapi fenomena tersebut. Menurutnya, hal terpenting dalam memperkuat perekonomian adalah memastikan masyarakat memiliki sumber pendapatan yang memadai.

Baca Juga: Beasiswa Indonesia Bangkit 2026 Dibuka! Ada 5 Program Gratis, Ini Kuota dan Link Pendaftarannya 

Pernyataan itu disampaikan Suahasil dalam diskusi di salah satu televisi Nasional, sebagaimana dikutip pada Jumat (9/10/2026).

“Saya menghargai seluruh pendapat dari masyarakat ya. Memang cara kerja ekonomi kita ini yang paling-paling penting menurut saya adalah bagaimana perekonomian kita ini menciptakan income, menciptakan pendapatan bagi masing-masing individu, bagi rumah tangga, bagi perusahaan, dan seterusnya,” ujar Suahasil.

Bukan Cuma Berhemat, Pendapatan Masyarakat Perlu Diperkuat

Mengurangi pengeluaran memang bisa menjadi langkah untuk menjaga kondisi keuangan. Namun, kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari juga sangat dipengaruhi oleh pendapatan yang mereka terima.

Suahasil menekankan pentingnya aktivitas ekonomi yang mampu menghasilkan pendapatan bagi individu, rumah tangga, maupun perusahaan. Dengan pendapatan yang lebih kuat, masyarakat diharapkan mempunyai ruang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kesejahteraan.

Bagi pekerja muda yang mengandalkan gaji bulanan, persoalan ini terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kenaikan kebutuhan rutin dapat membuat ruang untuk hiburan, nongkrong, belanja, hingga menabung semakin terbatas.

Karena itu, fenomena lifestyle downgrade perlu dilihat bukan hanya sebagai perubahan kebiasaan konsumsi, melainkan juga sebagai gambaran bagaimana masyarakat menyesuaikan pengeluaran dengan kemampuan finansialnya.

Mengapa Gen Z dan Milenial Mulai Mengubah Gaya Hidup?

Perubahan gaya hidup dapat dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari membawa bekal, membuat kopi sendiri, memilih transportasi yang lebih ekonomis, hingga menunda pembelian barang yang belum mendesak.

Langkah tersebut bisa membantu mengendalikan pengeluaran. Namun, penghematan tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing individu.

Ada perbedaan antara hidup hemat secara sadar dan terpaksa mengurangi kebutuhan karena pendapatan tidak lagi mencukupi. Yang pertama merupakan pilihan pengelolaan keuangan, sedangkan yang kedua dapat menunjukkan adanya tekanan terhadap daya beli.

Oleh sebab itu, kemampuan mengatur anggaran sebaiknya berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan pendapatan, mengembangkan keterampilan, dan mencari peluang kerja yang lebih baik.

APBN Bukan Satu-satunya Penggerak Ekonomi

Suahasil menjelaskan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hanya mencakup sebagian dari keseluruhan aktivitas perekonomian nasional.

Pada 2026, belanja negara disebut mencapai sekitar Rp4.000 triliun, sedangkan produk domestik bruto (PDB) diperkirakan sekitar Rp25.000 triliun. Dengan perbandingan tersebut, kontribusi belanja pemerintah setara sekitar 14–15% dari PDB.

Sementara itu, aktivitas rumah tangga dan dunia usaha menjadi bagian besar lainnya dalam perekonomian, mulai dari konsumsi, investasi, ekspansi perusahaan, hingga ekspor.

Menurut Suahasil, pemerintah perlu memastikan belanja negara memberikan efek berganda bagi kegiatan ekonomi masyarakat. Pengelolaan anggaran yang efektif diharapkan ikut mendukung konsumsi rumah tangga dan pertumbuhan usaha.

Pemerintah juga merancang APBN 2027 dengan belanja sekitar Rp4.100 triliun dan target defisit sebesar 2,4% terhadap PDB. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan estimasi defisit 2026 sebesar 2,85%.

Apa Artinya bagi Keuangan Pribadi?

Fenomena lifestyle downgrade menjadi pengingat bahwa pengelolaan keuangan tidak cukup hanya dengan memangkas pengeluaran. Masyarakat juga perlu memahami kebutuhan prioritas, menghindari utang konsumtif yang tidak terukur, serta membangun sumber pendapatan yang lebih berkelanjutan.

Bagi Gen Z dan milenial, membuat anggaran bulanan, memisahkan kebutuhan dan keinginan, serta mengevaluasi pengeluaran rutin dapat menjadi langkah awal yang realistis.

Namun, penghematan pribadi bukan pengganti kebijakan ekonomi yang mendukung penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan.

Pesan utama dari tanggapan Suahasil adalah pentingnya memperkuat kemampuan ekonomi masyarakat. Sebab, ketika pendapatan lebih memadai dan kesempatan kerja tersedia, masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan tanpa harus terus-menerus menurunkan standar hidupnya.**

Tags:
Suahasil Nazara ekonomi Indonesia gaya keuangan

Komentar Pengguna