KebonCinta.com - Pesan singkat yang biasanya mudah dipahami kini harus dibaca berulang kali. Hal kecil lebih sering terlupakan, sementara pilihan sederhana terasa sulit diputuskan. Ketika mulai berbeda dari kebiasaan, perubahan tersebut dapat membuat aktivitas sehari-hari terasa lebih melelahkan.
Kesulitan dalam proses berpikir perlu mendapat perhatian, terutama jika terus berulang dan menghambat kegiatan. Meski demikian, sulit fokus atau mudah lupa belum cukup untuk menyimpulkan seseorang mengalami gangguan kesehatan mental tertentu.
Psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie menjelaskan bahwa perubahan kondisi mental dapat terlihat pada aspek kognitif, yaitu kemampuan seseorang dalam menjalankan proses berpikir.
Baca Juga: Hari Kesehatan Mental Sedunia, Psikolog Ingatkan Keluarga Tak Harus Selalu Memberi Solusi
Perubahan yang perlu dicermati antara lain sulit berkonsentrasi, mudah lupa, kesulitan mengambil keputusan, serta munculnya pikiran negatif secara berulang. Seseorang juga dapat merasa kepalanya selalu penuh sehingga sulit memusatkan perhatian.
Namun, tanda-tanda tersebut perlu dipahami dalam konteks keadaan masing-masing. Mengenalinya dapat membantu seseorang menjelaskan keluhan, tetapi tidak dapat menggantikan pemeriksaan profesional.
Perhatian sesekali teralihkan belum tentu menunjukkan persoalan yang menetap. Hal yang perlu diperhatikan adalah apakah kemampuan berkonsentrasi mulai berubah cukup jauh dari kondisi biasanya.
Tugas yang sebelumnya mudah dikerjakan, misalnya, kini berulang kali membutuhkan usaha lebih besar. Informasi yang biasanya dapat diingat juga semakin sering terlupakan hingga menghambat pekerjaan atau kegiatan di rumah.
Efnie menekankan pentingnya memperhatikan perubahan dari keadaan sebelumnya, berapa lama perubahan berlangsung, dan pengaruhnya terhadap fungsi kehidupan. Satu hari yang terasa berat belum memberikan gambaran lengkap mengenai kondisi seseorang.
Baca Juga: Anak Sedang Tantrum? Psikolog Ingatkan Orang Tua Jangan Ikut Marah, Begini Cara Meresponsnya
Terus memikirkan pilihan tanpa mampu menentukan langkah dapat membuat kegiatan tertunda. Bahkan keputusan sederhana terasa menguras tenaga karena pertimbangan yang sama muncul berulang kali.
Pikiran negatif yang terus berputar juga dapat menyita perhatian. Akibatnya, seseorang kesulitan memberikan ruang bagi tugas atau urusan lain yang perlu diselesaikan.
Untuk memahami polanya, catat kapan kesulitan muncul, seberapa sering terjadi, dan kegiatan apa yang terdampak. Catatan sederhana ini dapat membantu saat menyampaikan keluhan kepada tenaga profesional.
Menurut Efnie, satu atau dua tanda perubahan tidak otomatis menunjukkan adanya gangguan kesehatan mental tertentu. Penilaian perlu mempertimbangkan keseluruhan keadaan seseorang.
Apabila keluhan menetap, semakin berat, atau mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, evaluasi profesional perlu dipertimbangkan. Bantuan juga dapat dicari segera ketika kesulitan sudah terasa berat, tanpa harus menunggu sampai waktu tertentu.
Baca Juga: Anak Mulai Lebih Nyaman Curhat ke AI? Psikolog Ingatkan Orang Tua Harus Jadi Tempat Cerita yang Aman
Pikiran terasa penuh dan sulit memutuskan layak diperhatikan ketika menjadi perubahan nyata dalam keseharian. Memahami pola serta dampaknya dapat menjadi langkah awal untuk mencari dukungan yang sesuai, tanpa terburu-buru memberi label pada diri sendiri. ***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir