Keboncinta.com-- Menjadi orang tua kerap identik dengan keinginan kuat untuk melindungi anak dari segala risiko. Mulai dari memilih lingkungan terbaik, mengatur aktivitas harian, hingga memastikan setiap langkah anak berada dalam pengawasan.
Namun, temuan ilmiah terbaru justru menunjukkan bahwa pola asuh yang terlalu protektif dapat membawa dampak jangka panjang yang tidak terduga, bahkan berpotensi menurunkan harapan hidup anak di masa depan.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports ini merupakan hasil kolaborasi Federal University of Sao Carlos, Brasil, dan University College London (UCL).
Studi tersebut menganalisis hampir 1.000 partisipan kelahiran 1950–1960 yang tergabung dalam English Longitudinal Study of Ageing.
Baca Juga: Resmi Mulai 2026! BKN Tegaskan Status Tenaga Honorer Dihapus, Hanya PNS dan PPPK yang Diakui Negara
Fokus utama penelitian adalah menelusuri keterkaitan antara pengalaman pola asuh di masa kecil dengan risiko kematian saat memasuki usia dewasa.
Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan kuat antara pola asuh overprotektif dan peningkatan risiko kematian sebelum usia 80 tahun. Laki-laki yang dibesarkan dengan ayah yang terlalu protektif tercatat memiliki risiko meninggal 12 persen lebih tinggi.
Dampak yang lebih besar justru dialami perempuan, dengan peningkatan risiko mencapai 22 persen. Sebaliknya, perempuan yang merasakan kehangatan dan kasih sayang kuat dari ibu sejak kecil memiliki risiko kematian 14 persen lebih rendah.
Peneliti utama, Aline Fernanda de Souza Canelada, menjelaskan bahwa pola asuh yang terlalu mengekang dapat menghambat perkembangan psikologis anak.
Baca Juga: Gaji PPPK Cair Februari 2026 Dipastikan Tetap! Ini Fakta Lengkap dan Rincian Nominal per Golongan
Anak cenderung tumbuh dengan rasa takut berlebihan, rendah percaya diri, serta kesulitan mengambil keputusan secara mandiri. Kondisi ini dapat terbawa hingga dewasa dan berdampak pada kesehatan mental maupun fisik dalam jangka panjang.
Temuan lain yang tak kalah mencengangkan adalah tingginya risiko kematian pada laki-laki yang dibesarkan oleh orang tua tunggal. Penelitian mencatat bahwa kelompok ini memiliki risiko meninggal sebelum usia 80 tahun hingga 179 persen lebih tinggi.
Fakta ini memperkuat kesimpulan bahwa stabilitas keluarga dan kualitas hubungan emosional sejak masa kanak-kanak memainkan peran besar dalam menentukan kualitas hidup seseorang di kemudian hari.
Para ahli menegaskan bahwa pola asuh yang ideal bukanlah pengawasan berlebihan, melainkan keseimbangan antara bimbingan dan pemberian ruang.
Baca Juga: Guncang Dunia! Bos The Fed Diselidiki Jaksa AS, Bursa Ambruk dan Emas Perak Meledak ke Rekor Baru
Anak tetap membutuhkan aturan dan arahan, namun juga perlu kesempatan untuk mandiri, mencoba hal baru, dan belajar dari kesalahan.
Pendekatan inilah yang dinilai mampu membentuk pribadi yang tangguh, percaya diri, serta memiliki kesehatan mental dan fisik yang lebih baik hingga dewasa di masa depan.***