Keboncinta.com-- Tidak sedikit mahasiswa yang merasa percaya diri saat presentasi di depan kelas, tetapi mendadak gugup ketika harus berbicara di hadapan warga saat KKN.
Padahal, keduanya sama-sama berbicara di depan orang banyak.
Bedanya, presentasi di kelas biasanya dilakukan di lingkungan yang sudah akrab, sementara KKN mempertemukan mahasiswa dengan masyarakat yang memiliki usia, latar belakang, dan cara pandang yang sangat beragam.
Di sinilah banyak mahasiswa menyadari bahwa kemampuan public speaking bukan sekadar soal berani berbicara, melainkan kemampuan menyampaikan pesan agar benar-benar dipahami dan diterima oleh orang lain.
Selama KKN, hampir setiap kegiatan membutuhkan komunikasi yang baik.
Mulai dari memperkenalkan diri kepada perangkat desa, berdiskusi dengan tokoh masyarakat, menyampaikan program kerja, memandu sosialisasi, hingga menjadi pembawa acara dalam kegiatan warga.
Jika mahasiswa kesulitan menyampaikan ide dengan jelas, program yang sebenarnya baik pun bisa kurang mendapat dukungan.
Sebaliknya, cara berbicara yang ramah, jelas, dan penuh penghargaan sering kali mampu membangun kepercayaan masyarakat sejak awal.
Ternyata, keberhasilan sebuah program tidak hanya bergantung pada konsepnya, tetapi juga pada bagaimana program tersebut dikomunikasikan.
Yang menarik, public speaking saat KKN tidak selalu identik dengan pidato panjang atau berbicara menggunakan bahasa yang formal.
Justru kemampuan menyesuaikan bahasa dengan lawan bicara menjadi salah satu tantangan terbesar.
Mahasiswa perlu belajar kapan harus menggunakan bahasa yang santai, kapan harus lebih sopan, dan bagaimana menjelaskan suatu gagasan dengan kalimat yang sederhana.
Mereka juga belajar mendengarkan, membaca respons audiens, mengelola rasa gugup, hingga tetap tenang ketika mendapat pertanyaan yang tidak terduga.
Semua pengalaman itu membentuk rasa percaya diri yang lahir dari latihan nyata, bukan sekadar teori komunikasi yang dipelajari di bangku kuliah.