KEBONCINTA.COM – Di atas lembaran kertas daluwang yang kecokelatan dan berserat kasar, tersembunyi sebuah visualisasi kosmologi yang dahsyat dan menakjubkan dari era Jawa kuno. Kitab ‘Cerita Kiamat’, sebuah manuskrip legendaris koleksi P Panji Jaya Prawirakusuma, kini resmi mendapat pengakuan tertinggi dari negara sebagai salah satu mahakarya literasi dan ingatan kolektif bangsa yang paling berharga.
🔗 Baca Juga: Dari Pesantren ke Pemasok IKEA: BLKK Al Manshuriyah Bertransformasi Jadi PT CMT, Siapkan 2.000 Penjahit
Naskah kuno setebal 92 halaman tersebut merupakan manifestasi luar biasa dari pandangan hidup masyarakat Cirebon tempo dulu dalam memetakan kehancuran jagat raya. Ditulis menggunakan pena tradisional di atas olahan kulit kayu pohon saeh, setiap lekuk aksara carakan berbahasa Cirebon di dalamnya menguraikan narasi eskatologis yang megah—mulai dari tanda-tanda kerusakan alam, momen puncak keruntuhan semesta, hingga deskripsi gamblang mengenai kehidupan spiritual setelah kiamat terjadi.
Kedahsyatan Narasi Eskatologi Lokal yang Memukau Dunia Akademis
Keindahan sekaligus kedalaman gambaran akhir zaman dalam kitab ‘Cerita Kiamat’ ini tidak hanya memikat para pecinta sejarah lokal, tetapi juga menjadi magnet bagi para peneliti dan filolog terkemuka dari berbagai perguruan tinggi serta Perpustakaan Nasional (Perpusnas). Kerapian penulisan serta konsistensi pesan moral yang terkandung di dalamnya menjadikan naskah ini rujukan emas dalam menguak pengetahuan kosmologi Nusantara abad lampau.
"Dari naskah ini telah lahir para peneliti yang sukses jadi filolog," kata Panji dengan nada bangga saat menceritakan daya tarik spektakuler yang dimiliki kitab koleksinya tersebut.
Keagungan pesan dalam lembaran tua ini mencapai puncaknya pada Pembukaan Festival Literasi 2026, ketika negara secara resmi memberikan sertifikat keabsahan dan perlindungan hukum kepada Panji beserta tiga kolektor naskah kuno Cirebon lainnya. Sebanyak 24 naskah milik Panji—dengan ‘Cerita Kiamat’ sebagai salah satu mahakarya utamanya—kini sah menjadi bagian dari khazanah pustaka nasional yang dilindungi.
Menyelamatkan Kisah Kehancuran Semesta dari Lapuknya Zaman
Ironisnya, saat kitab tersebut mengisahkan kehancuran dunia di masa depan, fisik kertas daluwang berusia ratusan tahun itu sendiri tengah berjuang melawan ancaman kepunahan. Kertas tradisional yang rapuh ini sangat sensitif terhadap perubahan suhu, kelembapan udara, hingga ancaman mikroorganisme dan rayap.
Oleh karena itu, pengakuan negara ini diharapkan menjadi titik balik penyelamatan fisik dan alih pengetahuan. Para pelestari naskah mendorong digulirkannya proses digitalisasi, transliterasi, hingga penerjemahan ke bahasa modern agar visi menakjubkan tentang akhir zaman dari leluhur Cirebon ini dapat terus dipelajari oleh generasi mendatang tanpa mengikis fisik aslinya.
Melalui sinergi riset dan penyelamatan fisik yang intensif, rahasia akhir zaman yang terukir indah dalam kitab 'Cerita Kiamat' akan tetap berdiri kokoh sebagai bukti betapa tingginya peradaban literasi dan spiritualitas Cirebon di panggung dunia. (swd)
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir