Keboncinta.com — Harga pangan di sejumlah pasar tradisional menunjukkan pergerakan yang berbeda. Harga daging ayam mengalami kenaikan hingga mencapai Rp 45.000 per kilogram, sedangkan harga telur ayam ras justru mengalami penurunan menjadi Rp 23.000 per kilogram. Perubahan harga tersebut menjadi perhatian masyarakat, terutama di tengah kebutuhan rumah tangga yang terus meningkat.
Berdasarkan pantauan di Pasar Serdang Kemayoran dan Pasar Senen Jaya, Jakarta, harga daging ayam mengalami kenaikan dalam beberapa bulan terakhir. Sementara itu, harga telur ayam mulai menunjukkan tren penurunan setelah sebelumnya sempat berada di kisaran Rp 26.000 hingga Rp 27.000 per kilogram.
Baca Juga: Harga Emas Pekan Ini Jadi Sorotan, Pemilu Paruh Waktu AS Bisa Pengaruhi Pergerakan Pasar
Harga daging ayam di Pasar Serdang Kemayoran bervariasi berdasarkan ukuran dan jenis potongan. Pada Rabu (4/11/2026), harga ayam utuh dijual mulai dari Rp 38.000 hingga Rp 40.000 per kilogram. Adapun bagian dada ayam dipasarkan dengan harga lebih tinggi, yakni Rp 53.000 per kilogram.
Kondisi serupa juga ditemukan di Pasar Senen Jaya. Di pasar tersebut, harga ayam utuh berada pada kisaran Rp 35.000 hingga Rp 45.000 per kilogram, tergantung ukuran. Sementara itu, harga dada ayam mencapai Rp 55.000 per kilogram.
Perbedaan harga di masing-masing pasar dipengaruhi oleh ukuran ayam, jenis potongan, serta kondisi pasokan yang diterima pedagang. Kenaikan harga daging ayam ini turut memberikan tekanan terhadap pengeluaran masyarakat, khususnya konsumen yang menjadikan ayam sebagai sumber protein utama dalam menu sehari-hari.
Salah seorang pedagang di Pasar Senen Jaya mengungkapkan bahwa kenaikan harga daging ayam telah berlangsung selama sekitar lima bulan. Menurutnya, kondisi tersebut berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan pasokan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Naik ada lima bulan (karena) MBG, beneran. Jadi, stoknya itu berkurang," ujarnya.
Pedagang tersebut menjelaskan bahwa program MBG menyerap pasokan ayam dalam jumlah besar. Akibatnya, jumlah stok yang tersedia untuk pedagang di pasar tradisional mengalami pengurangan.
Kondisi ini membuat pasokan ayam di pasar tidak sebanyak sebelumnya. Ketika permintaan meningkat, sementara ketersediaan barang mengalami keterbatasan, harga daging ayam berpotensi terdorong naik.
Ia juga mengungkapkan bahwa sebelum program MBG berjalan, harga daging ayam relatif lebih murah. Bahkan, harga ayam saat itu masih bisa ditemukan di bawah Rp 30.000 per kilogram.
Kenaikan harga yang berlangsung selama beberapa bulan tersebut menunjukkan adanya perubahan kondisi pasar. Pedagang harus menyesuaikan harga jual dengan biaya pembelian dan ketersediaan pasokan dari distributor.
Berbeda dengan daging ayam yang mengalami kenaikan, harga telur ayam ras justru mengalami penurunan. Berdasarkan keterangan pedagang di Pasar Senen Jaya, harga telur ayam saat ini berada di kisaran Rp 23.000 per kilogram.
Harga tersebut lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya, ketika telur ayam sempat dijual pada kisaran Rp 26.000 hingga Rp 27.000 per kilogram.
Roni, salah seorang pedagang telur di Pasar Senen Jaya, membenarkan adanya penurunan harga telur ayam. Ia menyebutkan bahwa harga telur saat ini sudah berada di bawah harga sebelumnya.
"(Harga) telur Rp 23.000. Sebelumnya Rp 26.000, Rp 27.000," ujar Roni.
Menurut Roni, penurunan harga telur ayam juga berkaitan dengan dinamika pasokan yang dipengaruhi program Makan Bergizi Gratis. Ia menjelaskan bahwa pasokan telur sempat mengalami kelebihan jumlah atau overload.
"Ya, karena pengaruh MBG, pasokannya kan banyak, jadi overload," imbuh Roni.
Melimpahnya pasokan telur di pasar membuat harga komoditas tersebut mengalami penurunan. Kondisi ini berbeda dengan daging ayam yang disebut pedagang mengalami keterbatasan stok di pasar tradisional.
Pergerakan harga ayam dan telur tersebut memperlihatkan bahwa dampak program MBG terhadap komoditas pangan dapat berbeda-beda, bergantung pada kondisi pasokan dan permintaan masing-masing produk.
Kenaikan harga daging ayam dan penurunan harga telur menjadi gambaran perubahan kondisi pasar pangan di tingkat pedagang.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir