Saat Pengalaman Anak Terus Disangkal, Bagaimana Gaslighting Bisa Terjadi dalam Keluarga?

Saat Pengalaman Anak Terus Disangkal, Bagaimana Gaslighting Bisa Terjadi dalam Keluarga?

12 Oktober 2026 | 19:20

KebonCinta.com - Anak mencoba menceritakan ucapan yang membuatnya sedih, tetapi mendapat jawaban, “Itu tidak pernah terjadi. Kamu mengada-ada.” Ketika penyangkalan semacam ini berulang, ia mungkin mulai mempertanyakan ingatannya sendiri.

Namun, satu perbedaan ingatan belum cukup untuk disebut gaslighting. Hal yang perlu diperhatikan adalah pola manipulasi yang membuat seseorang meragukan pengalaman dan penilaiannya, sekaligus mempertahankan kendali dalam hubungan.

Mengenali Pola Gaslighting dalam Keluarga

The National Domestic Violence Hotline menjelaskan gaslighting sebagai bentuk kekerasan emosional yang dapat membuat seseorang mempertanyakan perasaan, persepsi, dan pemahamannya tentang kenyataan. Penjelasan lembaga tersebut berfokus pada hubungan pasangan, tetapi membantu mengenali bentuk perilakunya.

Baca Juga: Selalu Dituntut Sempurna, Mengapa Anak Bisa Merasa Tidak Pernah Cukup Baik? 

Dalam konteks keluarga, contohnya dapat berupa penyangkalan berulang terhadap kejadian, memutarbalikkan percakapan, atau menggunakan keraguan terhadap ingatan anak untuk menolak penjelasannya.

Sebagai ilustrasi, orang tua menyangkal janji yang pernah dibuat, lalu terus menyebut anak pelupa setiap kali persoalan dibicarakan. Perhatian perlu diarahkan pada pola keseluruhan, bukan satu kalimat terpisah.

Pengalaman Anak Disangkal atau Sekadar Berbeda Ingatan?

Perbedaan ingatan dapat dibicarakan dengan terbuka. Orang tua bisa mengatakan, “Aku mengingatnya berbeda, tetapi ingin mendengar ceritamu.”

Sebaliknya, dalam pola gaslighting, penjelasan anak terus dipatahkan dan ketidakmampuannya mengingat secara sempurna digunakan untuk mendiskreditkan seluruh pengalamannya.

Meremehkan perasaan juga perlu diperhatikan. Menurut Hotline, mengecilkan kebutuhan atau perasaan merupakan salah satu teknik yang dapat muncul dalam gaslighting. Meski demikian, komentar tidak peka tidak otomatis membuktikan adanya pola tersebut.

Baca Juga: Ajak Anak Menghias Kamar, Kenalkan Proses Belajar Lewat Proyek Sederhana 

Mengapa Anak Bisa Mulai Meragukan Dirinya?

Ketika orang yang menjadi tempat bergantung terus menyatakan pengalamannya salah, anak dapat kesulitan menentukan apakah penilaiannya layak dipercaya.

Gambaran ini menjelaskan kemungkinan proses, bukan dampak yang pasti dialami setiap anak. Gaslighting juga tidak dapat digunakan sebagai dasar tunggal untuk mendiagnosis gangguan kepribadian pada orang tua.

Beri Ruang Aman untuk Cerita Anak

Pendampingan dapat dimulai dengan mendengarkan tanpa segera menyalahkan. Tanyakan apa yang terjadi, bagaimana anak merasakannya, dan bantuan yang ia butuhkan.

Mengakui perasaan tidak berarti memastikan seluruh rincian cerita benar. Orang dewasa tetap dapat memeriksa kejadian sambil menghargai pengalaman anak.

Baca Juga: Anak Sering Diam Setelah Pulang Sekolah? Cara Mengajak Bicara Tanpa Memaksa 

Jika penyangkalan berulang membuat anak takut berbicara atau mengganggu kesehariannya, orang dewasa tepercaya dan psikolog dapat membantu menilai situasi. Anak tidak perlu dibebani untuk membuktikan semuanya atau menyelesaikan perilaku orang dewasa sendirian dalam hubungan keluarga yang menyakitkan.

 

Tags:
Pengalaman Anak gaslighting Orang Tua

Komentar Pengguna