KebonCinta.com-- Santri dan alumni pesantren kini memiliki peluang untuk mendapatkan keterampilan kerja melalui program pelatihan vokasi pemerintah. Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama bekerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan membuka akses pelatihan bagi santri, alumni, pengelola usaha pesantren, hingga masyarakat di sekitar pesantren.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat fungsi pesantren, bukan hanya sebagai pusat pendidikan dan dakwah, tetapi juga sebagai ruang pengembangan keterampilan dan pemberdayaan ekonomi.
Program ini dilaksanakan melalui skema Tailor Made Training (TMT) yang dijalankan Kemnaker melalui Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Serang.
Baca Juga: Pesantren Kini Punya Akses Pelatihan Vokasi Gratis, Santri Bisa Dibekali Keahlian Kerja
Salah satu keunggulan TMT terletak pada konsep pelatihannya yang tidak harus sama untuk setiap peserta atau lembaga.
Direktur Pemberdayaan Pesantren Yusi Damayanti menjelaskan bahwa pesantren dapat terlebih dahulu melihat potensi yang dimiliki, kebutuhan masyarakat sekitar, maupun peluang pekerjaan di wilayahnya. Dari kebutuhan tersebut, jenis pelatihan kemudian dapat diusulkan.
Dengan pendekatan tersebut, pesantren tidak sekadar mengikutsertakan santri dalam pelatihan secara umum. Program diharapkan benar-benar memiliki keterkaitan dengan kebutuhan lapangan dan dapat dimanfaatkan setelah pelatihan selesai.
Keterampilan yang diperoleh dapat menjadi modal untuk mencari pekerjaan, membuka usaha, maupun memperkuat unit usaha yang sudah dikembangkan pesantren.
Kesempatan mengikuti program ini memiliki sasaran yang cukup luas. Peserta tidak hanya berasal dari santri yang berada di tingkat akhir pendidikan.
Alumni pesantren yang belum bekerja atau ingin berganti bidang pekerjaan juga dapat memanfaatkan pelatihan tersebut. Selain itu, ustaz, pengelola unit usaha pesantren, dan masyarakat di sekitar lingkungan pesantren juga menjadi bagian dari sasaran program.
Dengan cakupan tersebut, manfaat pelatihan diharapkan tidak berhenti pada individu peserta. Keterampilan yang diperoleh juga dapat memberikan dampak terhadap pengembangan usaha pesantren dan perekonomian masyarakat sekitar.
Jenis keterampilan yang dapat diajukan menyesuaikan kebutuhan. Sejumlah bidang yang tersedia antara lain barista, menjahit, pemasaran digital, otomotif, teknik listrik, hingga operator alat berat.
Pesantren dapat mengidentifikasi bidang yang paling relevan dengan potensi wilayah sebelum mengajukan usulan.
Direktur Jenderal Pesantren Kemenag Basnang Said menilai keterampilan vokasi penting untuk melengkapi bekal keilmuan yang diperoleh santri selama berada di pesantren.
Menurutnya, santri diharapkan tidak hanya memiliki pengetahuan keagamaan, tetapi juga kompetensi yang dapat digunakan ketika memasuki dunia kerja maupun ketika ingin membangun usaha.
Program TMT tidak membebankan biaya pelatihan kepada peserta. Selain mendapatkan pelatihan, peserta juga memperoleh uang saku sebesar Rp50.000 per hari serta konsumsi.
Program tersebut merupakan bagian dari Program Pelatihan Vokasi Nasional dan Program Stimulus Ekonomi Semester II Tahun Anggaran 2026.
Kepala BBPVP Serang Kemnaker Ady Nugroho menjelaskan bahwa Program Pelatihan Vokasi Nasional pada 2026 menargetkan 270.000 peserta. Dari jumlah tersebut, skema TMT memiliki alokasi 126.442 peserta.
Pelaksanaannya melibatkan 21 unit teknis pelatihan vokasi Kemnaker dan ditargetkan rampung pada 31 Desember 2026.
Baca Juga: Hari Santri 2026, Santri Didorong Jadi Penggerak Indonesia Menuju Indonesia Emas
Hal penting yang perlu dipahami, TMT bukan program bantuan tunai yang diberikan kepada pesantren.
Pelatihan dilaksanakan langsung oleh balai pelatihan vokasi. Sementara itu, pesantren berperan menyiapkan calon peserta, lokasi apabila diperlukan, pendamping, serta rencana tindak lanjut setelah pelatihan selesai.
Dengan mekanisme tersebut, dukungan pemerintah diberikan dalam bentuk peningkatan kompetensi, bukan transfer dana ke rekening pesantren.
Pesantren yang ingin memanfaatkan program ini dapat mengajukan proposal secara daring melalui sistem e-Proposal Kemnaker. Sebelum mengajukan, pesantren perlu memiliki akun SIAPkerja.
Pesantren juga dapat berkoordinasi terlebih dahulu dengan BBPVP atau unit pelaksana pelatihan vokasi di wilayah masing-masing. Koordinasi tersebut penting untuk memetakan kebutuhan keterampilan dan menentukan jenis pelatihan yang paling sesuai.
Kolaborasi Kemenag dan Kemnaker ini menunjukkan bahwa penguatan pesantren tidak hanya dilakukan melalui sektor pendidikan. Akses terhadap keterampilan kerja dan kewirausahaan juga menjadi bagian penting agar santri dan alumni memiliki bekal yang lebih luas.
Dengan pelatihan yang disesuaikan kebutuhan, santri berpeluang lebih siap memasuki dunia kerja, membangun usaha, sekaligus ikut mengembangkan potensi ekonomi di lingkungan pesantren dan masyarakat sekitar.***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir