Lifestyle
Azzahra Esa Nabila

Scroll, Banding, Lelah: Mengapa Media Sosial Membuat Kita Terus Mengukur Diri?

Scroll, Banding, Lelah: Mengapa Media Sosial Membuat Kita Terus Mengukur Diri?

29 April 2026 | 01:09

Keboncinta.com-- Di sela-sela waktu senggang di angkutan umum, sebelum tidur, atau bahkan saat bangun pagi kita membuka media sosial. Satu unggahan berganti ke unggahan lain. Foto liburan, pencapaian karier, wajah tanpa cela, tubuh ideal, hingga gaya hidup yang tampak nyaris sempurna. Awalnya hanya melihat, lalu tanpa sadar muncul kalimat kecil di kepala: “Kok dia bisa, ya?” atau bahkan “Kenapa aku belum sampai sana?”

Kebiasaan membandingkan diri ini bukan sekadar efek samping teknologi, melainkan bagian dari naluri manusia. Dalam psikologi, hal ini dijelaskan melalui social comparison theory yang diperkenalkan oleh Leon Festinger. menyebutkan bahwa manusia cenderung menilai dirinya dengan cara membandingkan dengan orang lain. Dulu, perbandingan ini terbatas pada lingkungan sekitar. Kini, media sosial memperluasnya hingga tanpa batas kita bisa membandingkan diri dengan siapa saja, dari teman lama hingga figur publik di belahan dunia lain.

Masalahnya, apa yang kita lihat di media sosial bukanlah realitas utuh. Platform seperti Instagram, TikTok, dan Facebook mendorong penggunanya untuk menampilkan versi terbaik dari diri mereka. Foto dipilih dari puluhan jepretan, video diedit, dan momen disaring sedemikian rupa. Yang tampil adalah potongan-potongan paling menyenangkan, bukan keseluruhan cerita.

Di titik ini, perbandingan menjadi tidak adil. Kita menilai kehidupan kita yang penuh proses dengan kehidupan orang lain yang sudah melalui kurasi. Tidak heran jika kemudian muncul rasa tertinggal, tidak cukup baik, atau bahkan gagal padahal standar yang digunakan sejak awal sudah timpang.

Peran algoritma memperkuat situasi ini. Sistem pada media sosial dirancang untuk menampilkan konten yang menarik perhatian dan memicu interaksi. Artinya, konten yang menampilkan kesuksesan, kecantikan, atau gaya hidup tertentu akan lebih sering muncul di beranda. Paparan berulang ini perlahan membentuk persepsi bahwa itulah standar umum yang seharusnya dicapai.

Sejumlah penelitian menunjukkan dampak yang tidak bisa diabaikan. 

Namun, bukan berarti media sosial sepenuhnya bermasalah. Di sisi lain, juga membuka ruang inspirasi, edukasi, dan koneksi yang sebelumnya sulit dijangkau. Tantangannya bukan pada keberadaan platform tersebut, tetapi pada cara kita memaknainya.

Menyadari bahwa setiap unggahan hanyalah bagian kecil dari kehidupan seseorang bisa menjadi langkah awal untuk menjaga jarak emosional. Tidak semua yang terlihat perlu dijadikan tolok ukur. Kadang, yang kita butuhkan bukan berhenti menggunakan media sosial, melainkan berhenti memperlakukannya sebagai standar hidup.

Tags:
Bijak Bermedia Sosial Gen Milenial Wajib Tau! Bijak Bergadget

Komentar Pengguna