Gaya Hidup
Rahman Abdullah

Sedang Marah? Hindari 4 Hal Ini agar Tidak Menyesal dan Merusak Hubungan dengan Orang Lain

Sedang Marah? Hindari 4 Hal Ini agar Tidak Menyesal dan Merusak Hubungan dengan Orang Lain

26 Oktober 2026 | 19:58

Akibatnya, percakapan yang seharusnya menjadi jalan keluar justru berubah menjadi pertengkaran.

Dalam situasi seperti ini, orang cenderung lebih fokus mempertahankan pendapat daripada memahami sudut pandang lawan bicara. Kata-kata yang tajam pun mudah keluar, sementara inti persoalan semakin sulit diselesaikan.

Jika pembicaraan mulai memanas, tidak ada salahnya meminta jeda. Sampaikan dengan tenang bahwa percakapan akan dilanjutkan setelah kedua pihak lebih siap berbicara.

Mengambil jarak sementara bukan berarti mengabaikan masalah. Justru, jeda dapat membantu setiap orang menata pikiran dan mengurangi kemungkinan mengucapkan sesuatu yang menyakitkan.

Ketika suasana sudah lebih kondusif, cobalah membicarakan masalah dengan kalimat yang menjelaskan perasaan dan kebutuhan tanpa menyalahkan secara berlebihan.

Cara Sederhana Mengendalikan Amarah agar Tidak Berujung Penyesalan

Selain menghindari empat perilaku tersebut, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membantu meredakan kemarahan.

Pertama, kenali tanda-tanda ketika emosi mulai meningkat, seperti napas menjadi cepat, tubuh menegang, suara meninggi, atau muncul dorongan untuk langsung membalas perkataan orang lain. Mengenali tanda ini sejak awal membantu seseorang mengambil langkah sebelum kehilangan kendali.

Kedua, atur pernapasan secara perlahan dan berikan waktu bagi tubuh untuk kembali tenang. Jika memungkinkan, pindahlah ke tempat yang lebih nyaman dan jauh dari situasi yang memicu pertengkaran.

Ketiga, cari tahu penyebab utama kemarahan. Terkadang, perasaan marah muncul bersama emosi lain, seperti kecewa, sedih, lelah, atau merasa tidak dihargai. Memahami pemicunya dapat membantu menentukan cara penyelesaian yang lebih sesuai.

Keempat, pilih waktu yang tepat untuk membicarakan masalah. Percakapan akan lebih produktif ketika semua pihak bisa mendengarkan, menyampaikan pendapat, dan mencari jalan keluar tanpa ancaman atau hinaan.

Jika kemarahan terasa terlalu sering, sulit dikendalikan, atau mulai mengganggu kehidupan sehari-hari dan hubungan dengan orang lain, berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga profesional kesehatan mental bisa membantu menemukan strategi pengelolaan emosi yang sesuai.

Baca Juga: Pendaftaran PPG Daljab Kemenag 2026 Segera Ditutup, Guru Madrasah Perlu Segera Cek EMIS GTK 

Mengendalikan Amarah Bukan Berarti Harus Memendam Perasaan

Marah bukanlah emosi yang harus selalu dihindari. Dalam situasi tertentu, kemarahan dapat menjadi tanda bahwa ada batas pribadi yang dilanggar atau persoalan yang perlu diselesaikan. Namun, perasaan tersebut tetap perlu disampaikan dengan cara yang aman dan bertanggung jawab.

Belajar mengendalikan amarah berarti memberi ruang bagi diri sendiri untuk merasakan emosi tanpa membiarkannya menguasai setiap tindakan. Seseorang tetap bisa menyampaikan ketidaksetujuan, menegur perilaku yang salah, dan mempertahankan batas pribadi tanpa harus menyakiti orang lain.

Dengan menunda keputusan penting, berhati-hati menggunakan media sosial, menghindari tindakan agresif, dan mengambil jeda saat perdebatan memanas, risiko penyesalan dapat dikurangi.

Pada akhirnya, kemampuan mengelola kemarahan bukan hanya membantu menjaga ketenangan diri, tetapi juga mendukung hubungan yang lebih sehat dengan keluarga, teman, pasangan, dan orang-orang di sekitar.***

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
2 / 2
HALAMAN SEBELUMNYA Sebelumnya
Tags:
Mengendalikan emosi Emosi marah Kesehatan Mental

Komentar Pengguna