KebonCinta.com - “Bisa, saya kerjakan.” Kalimat ini mudah terucap ketika atasan memberikan tugas tambahan.
Padahal, pekerjaan sebelumnya belum selesai dan tenaga mulai menipis. Sebagian pekerja tetap menyanggupi karena khawatir dianggap tidak mampu atau kurang bertanggung jawab.
Kesediaan menerima tugas memang dapat menunjukkan komitmen. Namun, selalu mengatakan iya belum tentu menggambarkan profesionalisme apabila pekerja tidak mempertimbangkan kapasitas dan kemampuan menyelesaikannya.
Baca Juga: Sudah Cuti tapi Masih Sibuk Kerja? Psikolog Ungkap Alasan Pekerja Sulit Lepas dari Urusan Kantor
Pekerja yang terlihat selalu siap belum tentu memiliki tenaga yang cukup. Ada kemungkinan ia sedang memaksakan diri agar tetap terlihat mampu menjalankan semua tanggung jawab.
Bahan pemberitaan tersebut menggambarkan bagaimana kesanggupan menerima tugas dapat menjadi topeng atas kelelahan. Di permukaan, pekerjaan terus berjalan. Namun, kondisi fisik dan mental pekerja bisa semakin terkuras.
Karena itu, kesediaan menerima pekerjaan perlu dilihat bersama beban yang sudah ditanggung. Jawaban “iya” tanpa gambaran kapasitas dapat menciptakan harapan yang sulit dipenuhi.
Menjelaskan keterbatasan tidak harus dilakukan dengan menolak secara mendadak. Pekerja dapat menyampaikan tugas yang sedang berjalan, tenggat yang tersedia, dan bantuan yang dibutuhkan.
Misalnya, “Saya sedang menyelesaikan laporan hari ini. Kalau tugas baru harus didahulukan, pekerjaan mana yang boleh dijadwalkan ulang?”
Kalimat tersebut membuka pembicaraan tentang prioritas. Atasan mendapat informasi untuk menentukan urutan pekerjaan, sementara pekerja tidak memberikan janji yang belum tentu bisa dipenuhi.
Baca Juga: AI Mulai Geser Pekerjaan Kantoran, Gen Z Kini Incar Profesi Zaman Dulu dengan Gaji Fantastis
Sebelum menyanggupi, pastikan ruang lingkup tugas dan tenggatnya jelas. Jika kapasitas belum cukup, diskusikan penyesuaian waktu atau pembagian pekerjaan.
Komunikasi seperti ini memberi kesempatan bagi tim untuk menyusun rencana sebelum pekerjaan terlambat atau hasilnya tidak sesuai harapan.
Profesionalisme dapat tercermin melalui komitmen yang realistis, keterbukaan mengenai kendala, dan tanggung jawab terhadap kesepakatan. Dengan begitu, kesanggupan bekerja memiliki dasar yang jelas.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir