Sudah Cuti tapi Masih Sibuk Kerja? Psikolog Ungkap Alasan Pekerja Sulit Lepas dari Urusan Kantor

Sudah Cuti tapi Masih Sibuk Kerja? Psikolog Ungkap Alasan Pekerja Sulit Lepas dari Urusan Kantor

14 Oktober 2026 | 13:45

KebonCinta.com - Koper sudah dibawa, perjalanan liburan dimulai, tetapi laptop tetap dibuka untuk menyelesaikan pekerjaan. Di sela menikmati suasana baru, perhatian kembali tertuju pada pesan kantor dan tugas yang belum selesai.

Situasi ini membuat cuti terasa seperti memindahkan tempat bekerja. Tubuh memang berada jauh dari kantor, tetapi pikiran masih mengikuti urusan pekerjaan.

Fenomena tersebut menjadi sorotan dalam gelar wicara “Real Voice, Real Change: Let's Create a Healthy Workplace” yang diselenggarakan PIP Unpad bersama Unpad Kampus Jakarta, sebagaimana disebut dalam bahan pemberitaan Republika.

Baca Juga: Mengenal Portfolio Career, Tren Karier yang Bikin Anak Muda Punya Banyak Peluang 

Cuti Belum Menjadi Istirahat jika Pekerjaan Terus Dibawa

Psikolog Universitas Padjadjaran, Fredrick Dermawan Purba, menjelaskan bahwa cara seseorang memandang pekerjaan dipengaruhi lingkungan dan pengalaman tumbuhnya.

Ia mencontohkan sebagian milenial yang dibesarkan dengan keyakinan bahwa kerja keras merupakan kunci kesuksesan. Pandangan tersebut dapat ikut menjelaskan kebiasaan membawa pekerjaan ketika cuti.

Namun, pengalaman setiap pekerja berbeda. Kebiasaan membuka laptop saat liburan perlu dilihat dalam konteks masing-masing, bukan dianggap sebagai ciri seluruh generasi.

Ketika tugas tetap dikerjakan selama cuti, waktu yang seharusnya tersedia untuk kegiatan pribadi kembali terserap oleh kantor. Bahkan, jeda singkat untuk memeriksa pesan bisa berkembang menjadi percakapan dan pekerjaan tambahan.

Baca Juga: 5 Bahasa Asing yang Bisa Buka Peluang Karier Anak Muda di Era Globalisasi 

Istirahat Saat Cuti Membutuhkan Jeda dari Urusan Kantor

Dalam bahan pemberitaan tersebut, istirahat digambarkan bukan sekadar tidak hadir secara fisik di kantor. Pekerja juga membutuhkan kesempatan melepaskan perhatian dari beban pekerjaan.

Karena itu, persiapan cuti dapat mencakup penyampaian status tugas, penyerahan pekerjaan yang perlu dilanjutkan, dan kesepakatan mengenai pihak yang dapat dihubungi selama pekerja tidak tersedia.

Batas komunikasi juga perlu dibuat jelas bersama tim. Kejelasan ini membantu mengurangi kebingungan tentang pesan yang harus segera ditanggapi dan urusan yang bisa menunggu.

Baca Juga: Bertahan Belum Tentu Nyaman, Pindah Belum Tentu Tak Loyal, Ternyata Begini Cara Gen Z dan Milenial Menata Karier 

Mengembalikan Fungsi Cuti sebagai Waktu Istirahat

Cuti memberi ruang untuk menjalani kegiatan yang sulit dilakukan selama bekerja. Namun, ruang tersebut menyempit jika setiap waktu luang kembali diisi tugas.

Kesempatan beristirahat perlu didukung pengaturan pekerjaan agar liburan benar-benar menyediakan jeda yang dibutuhkan pekerja.

Tags:
Karier Cuti Waktu Istirahat

Komentar Pengguna