Pendidikan
Hilmi An Naufal

Sepuluh Praja Terbaik IPDN 2026 Buktikan Keterbatasan Ekonomi Bukan Penghalang Prestasi

Sepuluh Praja Terbaik IPDN 2026 Buktikan Keterbatasan Ekonomi Bukan Penghalang Prestasi

01 Agustus 2026 | 07:15

Sepuluh Praja Terbaik IPDN 2026 Buktikan Keterbatasan Ekonomi Bukan Penghalang Prestasi

JATINANGOR — Sepuluh praja terbaik Institut Pemerintahan Dalam Negeri Angkatan XXXIII menunjukkan bahwa prestasi pendidikan dapat diraih oleh siapa saja, termasuk mereka yang tumbuh dalam keluarga sederhana.

Para praja berprestasi tersebut berasal dari berbagai latar belakang keluarga. Orang tua mereka bekerja sebagai buruh bangunan, petani, pedagang kecil, tenaga pendidik, wiraswasta, serta anggota TNI dan Polri dari kelompok bintara.

Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian memberikan apresiasi kepada sepuluh calon wisudawan terbaik itu saat memberikan pembekalan kepada Praja Utama Angkatan XXXIII di Gedung Balairung Rudini, Kampus IPDN Jatinangor, Jawa Barat, pada 22 Juli 2026.

Menurut Tito, keberhasilan mereka menunjukkan bahwa proses penerimaan dan pendidikan di IPDN mampu memberikan kesempatan kepada peserta berdasarkan kemampuan dan kerja keras, bukan semata-mata karena kondisi ekonomi keluarganya.

Peringkat pertama merupakan anak buruh bangunan

Salah satu praja yang mendapat perhatian adalah Aji Bayu Ramadhan. Ia menjadi lulusan dengan peringkat tertinggi sekaligus penerima penghargaan Kartika Astha Brata.

Penghargaan tersebut diberikan kepada Pamong Praja Muda yang memperoleh pencapaian terbaik selama mengikuti pendidikan di IPDN.

Aji merupakan praja asal pendaftaran Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ayahnya bekerja sebagai buruh bangunan, sedangkan ibunya merupakan ibu rumah tangga. Kondisi keluarga tersebut tidak menghalanginya untuk memperoleh prestasi akademik tertinggi di angkatannya.

Aji menyelesaikan pendidikan pada Program Studi Teknologi Rekayasa Informasi Pemerintahan, Fakultas Manajemen Pemerintahan. Ia memperoleh Indeks Prestasi Kumulatif 3,84, yang menjadi nilai tertinggi di antara calon wisudawan IPDN Angkatan XXXIII.

Pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa pekerjaan orang tua maupun keterbatasan ekonomi keluarga tidak menentukan batas kemampuan seorang anak.

Kesempatan memperoleh pendidikan, kedisiplinan, ketekunan, serta kemauan untuk terus berkembang dapat membuka jalan menuju pencapaian yang lebih tinggi.

Berasal dari keluarga dengan profesi beragam

Tidak hanya Aji, sembilan praja terbaik lainnya juga berasal dari lingkungan keluarga dengan profesi yang beragam.

Dalam kegiatan pembekalan tersebut, Mendagri memanggil sepuluh praja terbaik ke atas panggung dan menanyakan langsung latar belakang keluarga mereka.

Ada praja yang merupakan anak petani, pedagang, pemilik warung, tenaga pendidik, wiraswasta, serta anggota TNI dan Polri. Sebagian besar tidak berasal dari keluarga dengan privilese ekonomi yang besar.

Meski demikian, mereka mampu bersaing dengan lebih dari seribu praja dari berbagai daerah di Indonesia dan menempati posisi sepuluh besar.

Sebanyak 1.204 praja program sarjana terapan IPDN Angkatan XXXIII dijadwalkan mengikuti wisuda dan pelantikan pada 2026. Dari jumlah tersebut, hanya sepuluh praja yang berhasil memperoleh pencapaian tertinggi.

Pendidikan IPDN tidak hanya menilai akademik

Pendidikan di IPDN tidak hanya berfokus pada nilai akademik. Para praja juga mengikuti pembentukan mental, kedisiplinan, kepemimpinan, kebugaran, serta kemampuan bekerja sama.

Mereka dipersiapkan untuk menjadi aparatur pemerintahan yang mampu menjalankan pelayanan publik dan beradaptasi dengan berbagai kondisi masyarakat.

Karena itu, menjadi salah satu lulusan terbaik membutuhkan keseimbangan antara kemampuan akademik, kedisiplinan, integritas, tanggung jawab, dan keterampilan kepemimpinan.

Keberhasilan sepuluh praja tersebut juga memperlihatkan bahwa peserta dari keluarga sederhana dapat berkembang ketika mendapatkan kesempatan pendidikan yang sama.

Tito Karnavian membagikan perjalanan hidupnya

Dalam pembekalan tersebut, Tito turut membagikan pengalaman hidupnya kepada para praja. Ia mengaku juga tumbuh dalam keluarga sederhana sebelum berhasil menjadi lulusan terbaik Akademi Kepolisian Angkatan 1987.

Perjalanan pendidikannya kemudian berlanjut ketika memperoleh Beasiswa Chevening untuk menempuh pendidikan Master of Arts in Police Studies di Inggris pada usia 26 tahun.

Tito juga menyelesaikan pendidikan doktor di Nanyang Technological University, Singapura. Ia menyebut tiga pengalaman pendidikan tersebut sebagai titik penting yang mengubah perjalanan hidup dan kariernya.

Menurutnya, pendidikan tidak hanya menambah pengetahuan. Pendidikan juga membentuk pola pikir ilmiah, kemampuan berpikir kritis, keterampilan menyelesaikan masalah berdasarkan data, dan jaringan yang lebih luas.

Pesan tersebut disampaikan untuk mendorong para lulusan agar tidak berhenti belajar setelah menyelesaikan pendidikan di IPDN.

Prestasi bukan hanya milik keluarga berada

Kisah sepuluh praja terbaik IPDN 2026 memberikan pesan bahwa latar belakang sosial dan ekonomi bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan seseorang.

Anak buruh, petani, pedagang kecil, dan keluarga dengan penghasilan terbatas tetap memiliki kesempatan untuk memperoleh prestasi ketika mendapat akses pendidikan dan berusaha secara konsisten.

Keberhasilan mereka juga menunjukkan pentingnya proses seleksi pendidikan yang terbuka dan berbasis kemampuan. Peserta yang memiliki potensi perlu mendapatkan kesempatan yang sama tanpa dibatasi pekerjaan, status sosial, atau kemampuan ekonomi orang tuanya.

Namun, keberhasilan tersebut bukan berarti perjalanan mereka berlangsung tanpa tantangan. Para praja tetap harus menghadapi proses seleksi, pendidikan akademik, pembinaan fisik, pembentukan karakter, dan aturan kedisiplinan selama berada di kampus.

Dipersiapkan mengabdi di berbagai daerah

Setelah menyelesaikan pendidikan dan dilantik, lulusan IPDN dipersiapkan untuk bekerja dalam lingkungan pemerintahan.

Mereka dapat ditempatkan di berbagai daerah sesuai kebutuhan pemerintah. Penempatan tersebut menuntut kemampuan beradaptasi dengan lingkungan kerja, kondisi geografis, budaya masyarakat, dan persoalan pelayanan publik yang berbeda-beda.

Prestasi sebagai lulusan terbaik menjadi awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Para lulusan diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga menjaga integritas dan memberikan pelayanan yang adil kepada masyarakat.

Kisah Aji Bayu Ramadhan dan sembilan praja terbaik lainnya menjadi gambaran bahwa pendidikan dapat mengubah masa depan seseorang.

Dari keluarga buruh, petani, pedagang kecil, dan profesi sederhana lainnya, mereka berhasil mencapai posisi terbaik melalui kerja keras dan kedisiplinan.

Pencapaian tersebut sekaligus membawa pesan kepada generasi muda bahwa keadaan keluarga tidak harus menjadi alasan untuk berhenti mengejar pendidikan dan cita-cita.

Sumber informasi: Kompas.com, IPDN, Pusat Penerangan Kementerian Dalam Negeri, Liputan6, dan Jawa Pos.

Tags:
pendidikan

Komentar Pengguna