Khazanah
M. Fadhli Dzil Ikram

Sering Bingung Cara Buang Pembalut Bekas Haid? Ketahui Anjuran dan Hukumnya dalam Kitab Ulama

Sering Bingung Cara Buang Pembalut Bekas Haid? Ketahui Anjuran dan Hukumnya dalam Kitab Ulama

06 November 2026 | 19:52

Keboncinta.com — Cara membuang bekas pembalut wanita setelah digunakan sering menjadi pertanyaan, khususnya bagi perempuan Muslim yang ingin menjaga kebersihan dan mengikuti tuntunan agama. Sebagian orang memilih membakarnya, sementara yang lain berpendapat bahwa pembalut bekas haid sebaiknya dikubur.

Lantas, bagaimana sebenarnya hukum membuang bekas pembalut wanita menurut Islam?

Dalam kajian fikih, pembalut bekas haid termasuk benda yang terkena darah haid. Darah haid sendiri merupakan najis yang wajib dibersihkan apabila mengenai badan, pakaian, maupun tempat yang digunakan untuk beribadah.

Meskipun demikian, persoalan cara membuang pembalut bekas haid tidak secara khusus dijelaskan dalam pembahasan fikih klasik. Sebab, pembalut modern merupakan benda yang muncul dalam perkembangan kehidupan manusia.

Oleh karena itu, persoalan ini dapat dikaji melalui pembahasan ulama mengenai adab memperlakukan bagian tubuh manusia dan benda yang terkena najis.

Baca Juga: Jangan Asal Ibadah, Ini 7 Hal yang Dilarang bagi Muslimah Saat Sedang Haid 

Bekas Pembalut Haid Dianjurkan untuk Dikubur

Salah satu pendapat yang berkembang dalam pembahasan fikih menyebutkan bahwa benda-benda tertentu yang berasal dari tubuh manusia dianjurkan untuk dikubur. Di antaranya rambut, kuku, darah, gigi, dan benda yang berkaitan dengan darah haid.

Keterangan tersebut dapat ditemukan dalam kitab Muntaha as-Sul fi Wasail al-Wushul ila Syamail ar-Rasul karya Syekh Abdullah bin Sa'id bin Muhammad Abadi Al-Lahji Al-Syafi'i.

Dalam kitab tersebut dijelaskan:

وَكَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُ بِدَفْنِ سَبْعَةِ أَشْيَاءَ مِنَ الْإِنْسَانِ: الشَّعْرِ وَالظُّفْرِ وَالدَّمِ وَالْحِيْضَةِ وَالسِّنِّ وَالْعَلَقَةِ وَالْمَشِيمَةِ

Artinya: "Nabi Muhammad SAW memerintahkan untuk mengubur tujuh perkara yang berasal dari manusia, yaitu rambut, kuku, darah, pembalut haid, gigi, segumpal darah, dan plasenta (ari-ari)."

Dalam penjelasan tersebut, istilah al-hidhah (الحيضة) diterangkan sebagai kain atau benda yang digunakan untuk menampung darah haid.

Keterangan ini menjadi salah satu dasar pendapat yang menganjurkan agar bekas pembalut haid dikubur sebagai bentuk penghormatan terhadap bagian dan sesuatu yang berasal dari tubuh manusia.

Apakah Bekas Pembalut Wanita Boleh Dibakar?

Membuang bekas pembalut dengan cara dibakar pada dasarnya tidak dapat langsung dihukumi haram. Tidak terdapat ketentuan khusus yang secara tegas melarang pembakaran pembalut bekas haid.

Namun, apabila merujuk pada keterangan dalam kitab Muntaha as-Sul, terdapat anjuran untuk mengubur benda-benda tertentu yang berasal dari manusia, termasuk benda yang berkaitan dengan darah haid.

Dengan demikian, mengubur bekas pembalut dapat dipilih sebagai bentuk mengikuti anjuran tersebut. Akan tetapi, anjuran ini tidak berarti bahwa setiap perempuan wajib mengubur pembalut setelah digunakan.

Pembakaran juga harus mempertimbangkan aspek keselamatan dan lingkungan. Jangan sampai cara membuang pembalut justru menimbulkan pencemaran udara atau membahayakan orang lain.

Cara Membuang Pembalut Bekas Haid dengan Benar

Selain memperhatikan aspek fikih, perempuan Muslim juga perlu menjaga kebersihan ketika membuang pembalut bekas haid.

Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Gulung atau lipat pembalut bekas pakai agar darah tidak tercecer.
  2. Bungkus menggunakan kertas atau plastik sebelum dibuang.
  3. Buang ke tempat sampah khusus atau tempat sampah tertutup.
  4. Apabila memungkinkan dan ingin mengikuti anjuran mengubur, pembalut dapat dikubur dengan cara yang tidak mencemari lingkungan.
  5. Cuci tangan menggunakan sabun setelah menangani pembalut bekas haid.

Hal terpenting adalah memastikan darah haid tidak mengotori lingkungan, tidak menimbulkan bau, dan tidak mengganggu orang lain.

Baca Juga: Keluar Flek Coklat Sebelum atau Sesudah Haid, Apakah Masih Wajib Sholat? 

Kesimpulan

Dalam pembahasan fikih, mengubur bekas pembalut wanita merupakan salah satu cara yang dianjurkan berdasarkan keterangan dalam kitab Muntaha as-Sul fi Wasail al-Wushul ila Syamail ar-Rasul.

Namun, anjuran tersebut tidak menjadikan mengubur pembalut sebagai kewajiban. Membakar atau membuangnya melalui tempat sampah juga tidak otomatis dihukumi haram, selama dilakukan dengan cara yang aman, bersih, dan tidak menimbulkan bahaya.

Dengan demikian, perempuan Muslim dapat memilih cara pembuangan yang paling sesuai dengan kondisi dan fasilitas yang tersedia, sembari tetap menjaga kebersihan serta menghormati ketentuan syariat.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Tags:
hukum Islam Pembalut Bekas Haid fikih wanita

Komentar Pengguna