Sebagai contoh, daripada berkata, "Kamu selalu membuat masalah!", kamu bisa mengatakan, "Saya kecewa karena kesepakatan kita tidak dijalankan. Saya berharap kita bisa membicarakan cara agar hal ini tidak terulang."
Cara berkomunikasi seperti ini membantu orang lain memahami persoalan yang sedang kamu hadapi tanpa merasa langsung diserang.
Pilih waktu ketika kedua pihak sudah cukup tenang. Dengarkan pula penjelasan dari lawan bicara karena bisa saja ada kesalahpahaman yang perlu diluruskan.
Setelah memahami penyebab kemarahan, langkah berikutnya adalah menentukan tindakan yang bisa dilakukan untuk memperbaiki keadaan.
Jika kamu marah karena pembagian tugas yang tidak adil, misalnya, cobalah membicarakan pembagian tanggung jawab secara lebih jelas. Jika penyebabnya adalah kesalahpahaman, cari kesempatan untuk mengklarifikasi informasi yang belum pasti.
Tidak semua masalah bisa diselesaikan seketika. Ada pula situasi yang berada di luar kendali kita, termasuk keputusan atau perilaku orang lain.
Dalam kondisi seperti itu, fokuskan perhatian pada hal yang masih bisa kamu kendalikan, seperti cara merespons, batasan yang perlu dibuat, dan langkah berikutnya yang paling aman.
Menyelesaikan masalah bukan berarti harus selalu mengalah atau membenarkan tindakan orang lain. Kamu tetap boleh menolak perlakuan yang tidak pantas dan menjaga jarak dari situasi yang merugikan.
Jika perasaan kesal masih tersisa, lakukan kegiatan yang membantu tubuh dan pikiran kembali tenang. Pilih aktivitas yang sehat dan sesuai dengan kebutuhanmu.
Beberapa pilihan yang bisa dicoba antara lain berjalan kaki, berolahraga ringan, mendengarkan musik, menulis jurnal, menggambar, atau melakukan hobi yang disukai.
Berolahraga, misalnya, dapat menjadi cara untuk mengalihkan perhatian sekaligus membantu menjaga kebugaran. Sementara itu, menulis pengalaman yang membuat kesal bisa membantu kamu menyusun pikiran dan memahami perasaan dengan lebih jelas.
Kamu juga dapat berbicara dengan teman atau anggota keluarga yang dipercaya untuk mendapatkan sudut pandang lain. Namun, pastikan pembicaraan tersebut membantu mencari solusi, bukan justru memperbesar konflik.
Perlu diingat, mengalihkan perhatian bukan berarti masalah harus diabaikan. Setelah lebih tenang, kembalilah mengevaluasi persoalan yang memicu amarah jika memang masih perlu diselesaikan.
Jika kemarahan terlalu sering muncul, sulit dikendalikan, atau mulai mengganggu hubungan, pekerjaan, dan aktivitas sehari-hari, ada baiknya kamu mencari bantuan profesional.
Kamu bisa berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental untuk memahami pemicu emosi dan mempelajari strategi pengelolaan yang sesuai.
Apabila merasa berisiko menyakiti diri sendiri atau orang lain, segera menjauh dari situasi yang memicu konflik dan cari bantuan dari orang tepercaya atau layanan darurat setempat.
Meminta bantuan bukan tanda kelemahan. Justru, langkah tersebut menunjukkan bahwa kamu berusaha menjaga diri sendiri dan orang-orang di sekitarmu.
Baca Juga: 6 Kebiasaan Sepele yang Bikin Kamu Suka Menunda Tugas, Nomor 4 Sering Tidak Disadari
Mengendalikan amarah bukan berarti harus menekan semua perasaan atau berpura-pura tidak kecewa. Yang terpenting adalah memahami emosi, memberi jeda sebelum bereaksi, berkomunikasi dengan baik, mencari solusi, dan memilih cara penyaluran yang sehat.
Kamu memang tidak selalu bisa menentukan kejadian yang membuat kesal, tetapi kamu dapat berlatih memilih respons terhadapnya.
Dengan membangun kebiasaan tersebut secara bertahap, amarah tidak harus berakhir menjadi pertengkaran. Sebaliknya, emosi dapat menjadi kesempatan untuk memahami diri sendiri, memperbaiki hubungan, dan menghadapi masalah dengan lebih bijaksana.***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir