Keboncinta.com-- Ada masa ketika hidup terasa berat tanpa alasan yang benar-benar jelas. Bangun pagi dengan dada sesak, merasa tidak puas dengan keadaan, mudah tersinggung, bahkan diam-diam membenci situasi yang sedang dijalani. Semua terlihat baik-baik saja dari luar, tetapi di dalam hati seperti ada yang terus mengganjal.
Perasaan gelisah sebenarnya bukan hal yang asing. Ia bagian dari respons alami tubuh dan pikiran ketika menghadapi tekanan. Namun masalahnya, banyak orang tidak benar-benar memahami apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri. Akhirnya, yang disalahkan adalah keadaan, orang lain, atau bahkan takdir.
Padahal sering kali kegelisahan muncul karena jarak antara harapan dan realitas terlalu jauh. Kita punya gambaran tentang hidup yang ideal, karier yang lancar, hubungan yang harmonis, kondisi finansial yang stabil, tetapi realitas bergerak dengan ritmenya sendiri. Ketika kenyataan tidak sesuai ekspektasi, muncul rasa frustrasi. Jika dibiarkan, frustrasi itu berubah menjadi kemarahan yang halus namun terus-menerus.
Di era media sosial, rasa gelisah juga makin mudah tumbuh. Setiap hari kita disuguhi potongan-potongan keberhasilan orang lain. Pencapaian, perjalanan, prestasi, kebahagiaan yang tampak sempurna. Tanpa sadar, kita membandingkan proses panjang hidup kita dengan potongan momen terbaik milik orang lain. Dari situlah muncul perasaan tertinggal, tidak cukup, atau gagal.
Gelisah juga bisa menjadi tanda bahwa tubuh dan pikiran sedang lelah. Kurang tidur, tekanan pekerjaan, konflik yang tidak terselesaikan, atau beban tanggung jawab yang terus menumpuk dapat membuat sistem saraf terus berada dalam mode siaga. Hormon stres meningkat, pikiran sulit tenang, dan emosi menjadi lebih sensitif. Dalam kondisi seperti ini, hal kecil pun bisa terasa besar.
Namun ada sisi lain yang jarang disadari. Kadang kegelisahan adalah sinyal bahwa ada kebutuhan batin yang belum terpenuhi. Mungkin kita terlalu lama menunda keinginan sendiri, terlalu sering mengatakan “iya” saat ingin berkata “tidak”, atau menjalani rutinitas yang tidak lagi selaras dengan nilai pribadi. Hati yang lama diabaikan akhirnya berbicara melalui rasa tidak nyaman.
Benci pada keadaan sering kali bukan tentang keadaan itu sendiri, melainkan tentang perasaan tidak berdaya. Ketika merasa tidak punya kendali, manusia cenderung marah.