Kandungan protein dan lemak dalam keju dapat membantu memberikan rasa kenyang. Karena itu, keju bisa menjadi bagian dari camilan atau makanan selingan apabila dikombinasikan dengan bahan yang sesuai.
Sebagai contoh, sepotong keju dapat disantap bersama roti gandum atau buah. Kombinasi ini memberikan variasi zat gizi yang lebih beragam dibandingkan hanya mengandalkan satu bahan makanan.
Meski dapat membantu rasa kenyang, keju tetap perlu dikonsumsi sesuai kebutuhan energi harian. Porsi yang terlalu besar dapat meningkatkan asupan kalori secara keseluruhan.
Salah satu hal yang perlu dipahami sebelum membeli keju adalah perbedaan karakter setiap jenisnya.
Keju cheddar memiliki rasa gurih dan tekstur yang relatif padat. Mozzarella dikenal dengan teksturnya yang elastis ketika dipanaskan, sedangkan parmesan memiliki rasa yang kuat sehingga sering digunakan sebagai taburan.
Ada pula keju cottage dan jenis keju segar lainnya yang memiliki tekstur lebih lembut. Sementara itu, keju olahan dibuat melalui proses tambahan yang dapat melibatkan bahan lain untuk menghasilkan tekstur dan karakter tertentu.
Perbedaan tersebut berpengaruh terhadap kandungan protein, lemak, kalsium, dan natrium. Karena itu, tidak tepat menganggap semua keju memiliki nilai gizi yang persis sama.
Jika sedang membatasi asupan garam atau lemak jenuh, periksa label nutrisi dan bandingkan beberapa produk sebelum menentukan pilihan.
Walaupun mengandung sejumlah zat gizi penting, keju tidak harus dikonsumsi dalam jumlah besar untuk memperoleh manfaatnya.
Pertama, perhatikan porsi. Beberapa jenis keju mengandung lemak jenuh dan kalori cukup tinggi. Konsumsi berlebihan dapat membuat asupan energi harian melampaui kebutuhan.
Kedua, perhatikan kandungan natrium. Sebagian produk memiliki kadar garam yang cukup tinggi, sehingga orang yang perlu membatasi natrium sebaiknya lebih cermat memilih jenis dan jumlah konsumsinya.
Ketiga, kenali toleransi tubuh terhadap produk susu. Orang dengan intoleransi laktosa mungkin mengalami kembung, nyeri perut, atau diare setelah mengonsumsi produk yang mengandung laktosa. Kandungan laktosa berbeda antarjenis keju, dan sebagian keju yang melalui pematangan memiliki kadar laktosa lebih rendah.
Keempat, perhatikan penyimpanan. Keju perlu disimpan sesuai petunjuk pada kemasan agar kualitas dan keamanannya terjaga. Hindari mengonsumsi produk yang menunjukkan tanda kerusakan atau telah melewati batas konsumsi yang ditentukan.
Bagi orang yang memiliki alergi protein susu, keju berbahan susu sapi bukan pilihan yang aman. Konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menentukan alternatif yang sesuai.
Baca Juga: Ingin Otak Lebih Cerdas dan Fokus? Ini 6 Kebiasaan yang Bisa Dilatih Setiap Hari
Keju dapat dimasukkan ke dalam berbagai menu tanpa harus menjadikannya bahan utama setiap kali makan. Tambahkan dalam jumlah secukupnya pada roti gandum, telur, atau sayuran panggang untuk memberikan rasa dan variasi zat gizi.
Kamu juga bisa memilih hidangan yang mengombinasikan keju dengan bahan makanan segar. Dengan demikian, menu tidak hanya berfokus pada rasa gurih, tetapi juga menyediakan serat, vitamin, dan mineral dari bahan lainnya.
Jika sering membeli keju kemasan, biasakan membandingkan informasi nilai gizi berdasarkan ukuran porsi yang sama. Perhatikan terutama protein, kalsium, lemak jenuh, dan natrium.
Pada akhirnya, keju dapat menjadi bagian dari pola makan bergizi karena menyediakan protein dan sejumlah mineral penting. Namun, manfaatnya akan lebih optimal jika dikonsumsi dalam porsi yang sesuai dan dipadukan dengan makanan yang beragam.
Kuncinya bukan menghindari keju sepenuhnya atau mengonsumsinya sebanyak mungkin, melainkan memahami kandungannya dan menyesuaikan pilihan dengan kebutuhan tubuh.***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir