Orang yang hatinya keras berisiko kehilangan kepedulian terhadap keadaan orang lain. Perasaan iri, dengki, kebencian, dan keinginan merendahkan sesama dapat tumbuh apabila hati tidak dijaga.
Sikap tersebut juga dapat merusak hubungan persaudaraan, bahkan menyebabkan seseorang memutus tali silaturahmi.
Rasulullah SAW mengingatkan umatnya agar tidak saling mendengki, membenci, dan menjauhi satu sama lain. Dalam hadis riwayat Muslim, beliau mengajarkan agar kaum muslimin menjadi hamba-hamba Allah yang bersaudara.
Pesan tersebut menegaskan bahwa kebersihan hati tidak hanya terlihat dari hubungan seseorang dengan Allah, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan sesama manusia.
Selain mengenali tanda-tandanya, umat Islam juga perlu memahami berbagai perilaku yang dapat menyebabkan hati menjadi keras. Berikut beberapa hal yang perlu diwaspadai.
Kemusyrikan termasuk perbuatan yang dapat menjauhkan manusia dari petunjuk Allah SWT. Dalam Surah Al-Hajj ayat 53, Allah menjelaskan tentang orang-orang yang memiliki penyakit dalam hati dan hati yang keras.
لِّيَجْعَلَ مَا يُلْقِى الشَّيْطٰنُ فِتْنَةً لِّلَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ وَّالْقَاسِيَةِ قُلُوْبُهُمْۗ وَاِنَّ الظّٰلِمِيْنَ لَفِيْ شِقَاقٍۢ بَعِيْدٍ ۙ
Artinya: "Dia (Allah) hendak menjadikan apa yang dilontarkan setan itu sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan hatinya keras. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu benar-benar dalam perselisihan yang jauh (dari kebenaran)."
Ayat ini mengingatkan bahwa hati yang bermasalah dapat membuat seseorang semakin jauh dari kebenaran.
Kebiasaan melanggar ketentuan agama dan mengabaikan perintah Allah juga menjadi hal yang perlu diwaspadai. Dalam Surah Al-Maidah ayat 13, Allah menjelaskan akibat pelanggaran janji yang dilakukan sebagian kaum Bani Israil.
فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِّيْثَاقَهُمْ لَعَنّٰهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوْبَهُمْ قٰسِيَةً ۚ يُحَرِّفُوْنَ الْكَلِمَ عَنْ مَّوَاضِعِهٖۙ وَنَسُوْا حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوْا بِهٖۚ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلٰى خَاۤىِٕنَةٍ مِّنْهُمْ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْهُمْ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ ۗاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ
Artinya: "(Namun,) karena mereka melanggar janjinya, Kami melaknat mereka dan Kami menjadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah firman-firman (Allah) dari tempat-tempatnya dan mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka. Engkau (Nabi Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka, kecuali sekelompok kecil di antara mereka (yang tidak berkhianat). Maka, maafkanlah mereka dan biarkanlah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang muhsin."
Zikir merupakan salah satu cara untuk mengingat Allah dan menjaga hati agar tidak lalai. Sebaliknya, terlalu banyak berbicara tentang hal yang tidak bermanfaat dapat membuat seseorang semakin jauh dari mengingat-Nya.
Dalam hadis riwayat Tirmidzi disebutkan:
"Janganlah kalian memperbanyak bicara dengan selain zikir kepada Allah, karena memperbanyak bicara dengan selain zikir kepada Allah membuat hati menjadi keras, sementara hamba yang paling jauh dari Allah adalah yang hatinya keras."
Pesan ini mengajarkan pentingnya menjaga lisan dan membiasakan diri mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat.
Perbuatan dosa yang dilakukan berulang kali tanpa penyesalan dapat mengurangi kepekaan hati. Seseorang yang terbiasa melakukan kesalahan berisiko menganggap perbuatan tersebut sebagai sesuatu yang wajar.
Ali bin Abi Thalib pernah menyampaikan nasihat bahwa air mata tidak akan kering kecuali bagi orang yang keras hatinya, dan hati tidak akan mengeras kecuali karena banyaknya dosa.
Nasihat tersebut mengingatkan bahwa dosa perlu diikuti dengan penyesalan dan pertobatan, bukan justru dipelihara menjadi kebiasaan.
Hal-hal yang didengar dan diperhatikan setiap hari dapat memengaruhi keadaan hati. Kebiasaan menikmati pembicaraan buruk, fitnah, perkataan kotor, atau hal yang tidak bermanfaat dapat membuat seseorang terbiasa dengan perilaku negatif.
Karena itu, seorang muslim dianjurkan lebih selektif dalam memilih tontonan, pergaulan, dan pembicaraan yang dikonsumsi setiap hari.
Mengingat kematian dapat menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia bersifat sementara.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir