Sering Merasa Iri Lihat Kesuksesan Orang? Terapkan Konsep "Ghibthah" (Terinspirasi Tanpa Mengharap Nikmat Orang Lain Hilang)

Sering Merasa Iri Lihat Kesuksesan Orang? Terapkan Konsep "Ghibthah" (Terinspirasi Tanpa Mengharap Nikmat Orang Lain Hilang)

24 Februari 2026 | 22:46

keboncinta.com--  Di era media sosial yang serba pamer pencapaian, perasaan sesak di dada saat melihat keberhasilan orang lain sering kali muncul tanpa diundang. Kita melihat teman lama membeli rumah baru atau rekan kerja mendapatkan promosi, dan tiba-tiba ada bisikan halus yang membuat kita membandingkan nasib sendiri yang seolah jalan di tempat. Perasaan ini, jika dibiarkan, akan tumbuh menjadi penyakit hati yang dalam tradisi Islam disebut sebagai hasad atau iri dengki yang destruktif. Hasad bukan sekadar ingin memiliki apa yang dimiliki orang lain, melainkan ada keinginan terselubung agar nikmat tersebut hilang dari tangan orang tersebut. Ini adalah racun yang tidak hanya merusak hubungan sosial, tetapi juga menggerogoti kebahagiaan batin kita sendiri karena fokus kita beralih dari memperbaiki diri menjadi merutuki nasib orang lain.

Namun, sebenarnya ada penawar yang sangat elegan untuk perasaan ini, yaitu konsep ghibthah. Berbeda dengan hasad yang bersifat negatif, ghibthah adalah perasaan kagum dan keinginan untuk meraih kesuksesan yang sama tanpa ada sedikit pun niat jahat agar orang tersebut jatuh. Dalam kondisi ghibthah, hati kita berkata, "Luar biasa pencapaiannya, semoga Allah memberkahinya dan semoga saya pun bisa bekerja keras untuk mencapai hal serupa." Ini adalah bentuk kompetisi yang sehat dan justru dianjurkan karena mengubah energi negatif menjadi motivasi yang produktif. Dengan menerapkan ghibthah, kita sedang melatih mentalitas kelimpahan (abundance mindset) yang meyakini bahwa rezeki Tuhan itu sangat luas dan keberhasilan orang lain tidak akan mengurangi jatah rezeki yang telah ditetapkan untuk kita.

"Hati yang tenang lahir dari kemampuan melihat kebahagiaan orang lain sebagai bukti bahwa Tuhan itu Maha Pemberi, bukan sebagai ancaman bagi eksistensi kita sendiri."

Mempraktikkan ghibthah membutuhkan kesadaran penuh untuk segera memutus rantai pikiran negatif saat rasa iri mulai merayap. Alih-alih menutup aplikasi media sosial dengan perasaan kesal, cobalah untuk secara sadar mendoakan kebaikan bagi orang yang sedang sukses tersebut. Tindakan sederhana ini secara psikologis akan menenangkan saraf dan memberi sinyal pada otak bahwa kita berada dalam kondisi yang aman dan stabil. Ketika kita mampu ikut berbahagia atas keberhasilan orang lain, kita sebenarnya sedang membuka pintu-pintu keberkahan bagi diri kita sendiri. Pikiran menjadi lebih jernih untuk menyusun strategi pengembangan diri daripada habis terkuras untuk memikirkan cara menjatuhkan mental orang lain.

Perjalanan hidup setiap orang memiliki garis waktu dan ujiannya masing-masing yang tidak bisa diperbandingkan secara apel-ke-apel. Mengadopsi semangat ghibthah akan membuat kita menjadi pribadi yang lebih tangguh dan suportif dalam komunitas. Kita tidak lagi melihat dunia sebagai arena perang di mana kesuksesan orang lain berarti kegagalan kita, melainkan sebagai ladang inspirasi yang tak terbatas. Mari kita bersihkan hati dari karat-karat iri dengki dan mulai melihat pencapaian orang di sekitar kita sebagai pengingat bahwa tidak ada yang mustahil selama kita mau berusaha dan berserah diri pada proses yang ada.

Tags:
Khazanah Spiritualitas Self Improvement Ghibthah

Komentar Pengguna