Keboncinta.com — Membuat konten TikTok yang mampu meraih jutaan penayangan bukan hanya soal mengikuti tren atau menggunakan audio yang sedang viral. Cara menyampaikan pesan dan menarik perhatian audiens juga memiliki peran penting.
Salah satu teknik yang bisa diterapkan adalah rumus ORANGE, sebuah metode penyusunan presentasi yang terdiri dari enam tahapan. Metode ini dapat membantu kreator membangun cerita yang menarik, relevan, dan mampu membuat audiens bertahan hingga akhir konten.
Rumus ORANGE diperkenalkan oleh Fendy Alwi, presenter sekaligus creative professional dari Tendon (T&DON), dalam acara Buka Puasa Bersama dan Workshop Business Pitch bersama Lenovo pada Jumat (6/3/2026).
Menurut Fendy, ORANGE merupakan singkatan dari Opening, Relation, Attraction, Navigation, Game, dan Ending.
Rumus ORANGE mengajarkan kreator agar tidak langsung membicarakan diri sendiri ketika memulai sebuah presentasi atau konten. Sebaliknya, pembahasan harus diawali dengan sesuatu yang dekat dengan perhatian dan kebutuhan audiens.
Berikut enam tahapan yang dapat diterapkan.
Tahap pertama adalah opening atau pembukaan. Bagian ini menjadi penentu apakah audiens tertarik untuk menyimak konten lebih lanjut atau justru melewatinya.
Fendy menjelaskan bahwa pembukaan presentasi sebaiknya tidak langsung berisi perkenalan diri atau perusahaan. Kreator perlu memulai dengan persoalan atau isu yang sedang menarik perhatian masyarakat.
Salah satu caranya adalah menggunakan judul atau kalimat pembuka yang memancing rasa penasaran.
Misalnya, daripada membuka konten dengan kalimat "Halo, saya akan membahas tips mengatur keuangan", kreator bisa menggunakan pertanyaan seperti "Kenapa gaji selalu habis sebelum akhir bulan?"
Pembukaan yang relevan dengan persoalan sehari-hari berpotensi membuat audiens merasa tertarik untuk mengetahui kelanjutannya.
Setelah berhasil menarik perhatian, langkah berikutnya adalah membangun hubungan atau relation.
Pada tahap ini, kreator perlu membuat audiens merasa bahwa persoalan yang sedang dibahas memang dekat dengan kehidupan mereka.
Caranya dengan mengangkat pengalaman, kebiasaan, atau keresahan yang sering dialami banyak orang.
Sebagai contoh, ketika membahas pengelolaan keuangan, kreator dapat menjelaskan situasi ketika seseorang sudah berusaha berhemat, tetapi pengeluarannya tetap lebih besar daripada pemasukan.
Semakin kuat keterkaitan antara topik dan pengalaman audiens, semakin besar peluang mereka untuk terus mengikuti pembahasan.
Tahap ketiga adalah attraction, yaitu membangun ketertarikan melalui fakta, data, atau informasi yang mengejutkan.
Kreator dapat menggunakan hasil penelitian, statistik, maupun fakta aktual untuk memperkuat pembahasan.
Data yang disampaikan harus valid dan relevan dengan topik. Tujuannya bukan sekadar membuat audiens terkejut, tetapi memberikan alasan yang kuat mengapa persoalan tersebut layak diperhatikan.
Informasi yang menarik juga dapat memancing rasa penasaran sehingga audiens terdorong untuk menyimak penjelasan berikutnya.
Setelah menarik perhatian dengan fakta, kreator perlu memberikan gambaran mengenai arah pembahasan.
Inilah yang disebut navigation.
Pada tahap ini, audiens harus memahami apa yang akan mereka dapatkan setelah mengikuti konten sampai selesai.
Misalnya, jika konten membahas masalah keuangan, kreator dapat menjelaskan bahwa pembahasan akan berfokus pada tiga cara sederhana mengatur pengeluaran agar gaji tidak cepat habis.
Dengan begitu, audiens memiliki gambaran mengenai tujuan akhir konten dan alasan untuk terus menyimaknya.
Tahap kelima adalah game. Pada bagian ini, kreator mulai memperkenalkan diri dan menjelaskan alasan mengapa dirinya memiliki kapasitas untuk membahas topik tersebut.
Menurut Fendy, perkenalan diri sebaiknya tidak ditempatkan pada awal presentasi karena audiens umumnya lebih tertarik pada manfaat yang bisa mereka peroleh.
Ia menekankan bahwa orang cenderung lebih memperhatikan keuntungan atau manfaat bagi dirinya sendiri daripada identitas orang yang sedang berbicara.
Karena itu, kreator perlu menjelaskan terlebih dahulu persoalan yang dihadapi audiens dan manfaat yang akan mereka dapatkan. Setelah itu, barulah perkenalan diri, pengalaman, serta pencapaian yang relevan disampaikan.
Dengan pendekatan tersebut, audiens memiliki alasan yang lebih kuat untuk mempercayai informasi yang diberikan.
Tahap terakhir adalah ending atau penutup.
Pada bagian ini, kreator perlu menyampaikan kesimpulan sekaligus mengarahkan audiens untuk melakukan langkah berikutnya.
Ajakan tersebut dapat berupa mencoba tips yang diberikan, mengikuti akun, membagikan konten, atau mencari informasi lebih lanjut.
Namun, ajakan sebaiknya tidak sekadar meminta audiens melakukan sesuatu. Kreator juga perlu menegaskan kembali nilai dan manfaat dari informasi yang telah disampaikan.
Dengan demikian, konten tidak hanya berakhir sebagai tontonan, tetapi juga memberikan dorongan kepada audiens untuk mengambil tindakan.
Rumus ORANGE memberikan gambaran bahwa konten yang menarik membutuhkan alur penyampaian yang terencana.
Kreator tidak cukup hanya membuat pembukaan yang viral. Mereka juga perlu membangun keterkaitan dengan audiens, menyajikan fakta pendukung, memberikan arah pembahasan, memperkuat kredibilitas, dan menutupnya dengan ajakan yang jelas.
Keenam tahapan tersebut dapat diterapkan dalam berbagai jenis konten, mulai dari video edukasi, tips sehari-hari, promosi produk, hingga konten personal branding.
Meski demikian, penggunaan rumus ORANGE bukan jaminan sebuah video otomatis mendapatkan jutaan views. Performa konten TikTok juga dipengaruhi kualitas materi, kreativitas, relevansi dengan audiens, serta respons penonton.
Namun, metode ini dapat menjadi salah satu panduan untuk membuat konten lebih terarah, menarik, dan memiliki pesan yang mudah dipahami.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir