Pendidikan
Dewi Safitri

Soal TKA SMA Mengacu Standar PISA, Siswa Tak Cukup Hanya Menghafal Materi

Soal TKA SMA Mengacu Standar PISA, Siswa Tak Cukup Hanya Menghafal Materi

16 Oktober 2026 | 16:39

KebonCinta.com - Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMA/sederajat pada akhir Oktober 2026 tidak hanya mengukur penguasaan materi pelajaran, tetapi juga kemampuan siswa memahami informasi dan menerapkan konsep dalam berbagai situasi. 

Karena itu, soal TKA dapat dilengkapi bacaan panjang, tabel, grafik, diagram, maupun bentuk stimulus lain yang berkaitan dengan persoalan nyata.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menjelaskan bahwa penyusunan soal TKA mengacu pada standar Programme for International Student Assessment (PISA). 

Pendekatan tersebut menempatkan pemahaman dan penerapan pengetahuan sebagai bagian penting dari evaluasi kemampuan akademik.

Baca Juga: Skor TKA SMA 500 Bukan Rata-Rata Nasional, Ini Cara Memahami Hasilnya 

Menghadapi pelaksanaan TKA, Mu'ti mengingatkan siswa agar mempersiapkan penguasaan materi, strategi pengerjaan, dan kondisi mental secara seimbang. Ketiganya dinilai saling berkaitan dalam menentukan kesiapan peserta menghadapi ujian.

Pesan tersebut disampaikan saat kunjungan ke SMA Negeri 1 Patikraja, Banyumas, Jawa Tengah, pada 10 Oktober 2026. Ia juga menekankan pentingnya menjalani ujian dengan jujur dan tetap gembira agar siswa tidak terbebani oleh tekanan selama pengerjaan soal.

Baca Juga: Latihan TKA Ekonomi: Memahami Hubungan Suku Bunga dan Pengendalian Inflasi 

Bacaan panjang menjadi bagian dari pengukuran kemampuan

Penggunaan teks panjang dalam TKA bukan sekadar menambah jumlah bacaan yang harus diselesaikan siswa. Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) Kemendikdasmen menjelaskan bahwa teks berfungsi sebagai stimulus, yakni informasi yang digunakan peserta sebagai dasar untuk menjawab pertanyaan.

Stimulus dapat berbentuk teks, gambar, tabel, grafik, diagram, atau data. Melalui penyajian tersebut, siswa dihadapkan pada konteks yang mendorong mereka menggunakan pengetahuan yang telah dipelajari untuk memahami persoalan tertentu.

Dengan pendekatan ini, penguasaan materi tidak berhenti pada kemampuan mengingat definisi atau rumus. 

Baca Juga: TKA 2025: Projek Kreatif dan Kewirausahaan Jadi Mapel Pilihan Terfavorit, Ini Hasil Nilainya 

Peserta juga perlu memahami hubungan antarkonsep, memilah informasi yang relevan, serta menentukan cara menerapkan pengetahuan dalam situasi yang diberikan.

Misalnya, sebuah soal dapat menyajikan grafik atau bacaan mengenai fenomena sehari-hari, kemudian meminta siswa menarik kesimpulan berdasarkan informasi tersebut. Kemampuan yang dinilai bukan hanya pengetahuan tentang materi, tetapi juga ketepatan dalam membaca data dan menggunakannya untuk menyelesaikan persoalan.

Selaras dengan pembelajaran mendalam

Penyajian soal berbasis konteks juga sejalan dengan prinsip pembelajaran mendalam yang dikembangkan dalam pendidikan. Pendekatan ini menekankan pembelajaran yang bermakna (meaningful) dan berkesadaran (mindful).

Pembelajaran bermakna menghubungkan konsep yang dipelajari di kelas dengan pengalaman dan persoalan di kehidupan nyata. Sementara itu, pembelajaran berkesadaran mendorong siswa membaca secara kritis, menyaring informasi, serta membangun pemahaman alih-alih sekadar menghafal.

Dengan demikian, bacaan panjang dalam TKA dapat menjadi sarana untuk melihat bagaimana siswa memproses informasi dan menggunakan pengetahuan. Meski begitu, panjangnya teks bukan satu-satunya penentu tingkat kesulitan soal. Kemampuan memahami stimulus dan menjawab pertanyaan sesuai tuntutan kompetensi tetap menjadi hal penting.

Penilaian menggunakan metode IRT

Selain format soal, TKA juga menggunakan metode Item Response Theory (IRT) dalam proses penilaian. Metode ini digunakan untuk mengestimasi kemampuan peserta dengan mempertimbangkan karakteristik butir soal, sehingga penilaian tidak semata-mata didasarkan pada jumlah jawaban benar.

Pendekatan IRT juga digunakan dalam berbagai asesmen berskala internasional, termasuk Programme for International Student Assessment (PISA) dan Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS), meskipun penerapan teknisnya dapat berbeda pada setiap asesmen.

Melalui sistem tersebut, penyusunan soal dan penilaian diarahkan agar hasil tes dapat memberikan gambaran kemampuan akademik yang lebih terukur.

Bagi siswa, persiapan menghadapi TKA karena itu tidak cukup hanya dengan menghafal materi. Latihan membaca secara cermat, memahami grafik dan tabel, menghubungkan informasi, serta mengatur waktu pengerjaan dapat membantu menghadapi soal berbasis stimulus. Penguasaan materi tetap penting, tetapi kemampuan menerapkannya dalam konteks yang berbeda juga menjadi bagian dari kompetensi yang diuji.

Tags:
pisa TKA Mendikdasmen

Komentar Pengguna