Pendidikan
Rahman Abdullah

Tak Hanya Pintar di Kelas! Ini Faktor Penting Pembentuk Generasi Unggul Menurut BRIN

Tak Hanya Pintar di Kelas! Ini Faktor Penting Pembentuk Generasi Unggul Menurut BRIN

02 Agustus 2026 | 18:56

Keboncinta.com-- Mewujudkan Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya dengan melahirkan peserta didik yang unggul dalam pelajaran di sekolah. Tantangan masa depan menuntut lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga sehat secara fisik, tangguh secara mental, memiliki kemampuan motorik yang baik, mampu berpikir kritis, serta siap beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Karena itu, para peneliti menilai sistem pendidikan perlu dibangun secara lebih menyeluruh agar mampu menghasilkan sumber daya manusia yang benar-benar siap menghadapi era global.

Baca Juga: BRIN Bongkar Rahasia Anak Cerdas, Ternyata Kemampuan Motorik Lebih Penting dari yang Dibayangkan

BRIN Dorong Pendidikan yang Lebih Holistik

Pesan tersebut mengemuka dalam diskusi bertajuk Sinergi Motorik, Kognitif, dan Pendidikan Jasmani Menuju Indonesia Emas 2045 yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Kepala Pusat Riset Pendidikan (PRP) BRIN, Trina Fizzanty, menjelaskan bahwa keberhasilan pendidikan saat ini tidak lagi dapat diukur hanya dari tingginya capaian akademik peserta didik.

Menurutnya, kualitas sumber daya manusia juga ditentukan oleh kesehatan jasmani, kesejahteraan mental, kemampuan motorik, serta perkembangan kognitif yang saling mendukung satu sama lain.

Dengan mengembangkan seluruh aspek tersebut secara seimbang, pendidikan akan mampu melahirkan generasi yang lebih tangguh, produktif, dan siap menghadapi perubahan yang terus berlangsung.

Kesehatan Mental dan Motorik Harus Berjalan Beriringan

Trina menekankan bahwa kesehatan mental, pendidikan jasmani, kesejahteraan psikologis, serta kemampuan berpikir merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam proses pembentukan kualitas manusia.

Karena itu, diperlukan kolaborasi antara berbagai bidang keilmuan, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga ilmu sosial untuk menghasilkan kebijakan dan inovasi pembelajaran yang lebih komprehensif.

Pendekatan lintas disiplin tersebut diyakini mampu menjawab tantangan pendidikan yang semakin kompleks pada era modern.

Baca Juga: Nilai Matematika Siswa Masih Rendah, Kemendikdasmen Pangkas Soal TKA 2026 dan Bocorkan Materi Paling Sulit

Rendahnya Aktivitas Fisik Menjadi Tantangan Serius

Dalam forum yang sama, Dosen Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi Universitas Negeri Malang, Ari Wibowo, mengingatkan bahwa rendahnya aktivitas fisik anak Indonesia menjadi persoalan yang perlu segera mendapat perhatian.

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sekitar 58 persen anak usia 10 hingga 14 tahun masih tergolong kurang aktif bergerak. Kondisi serupa juga dialami lebih dari separuh remaja berusia 15 hingga 19 tahun.

Selain itu, sekitar 60 persen anak usia sekolah diketahui memiliki tingkat kebugaran yang rendah.

Menurut Ari, kondisi tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya kebiasaan menggunakan gawai, terbatasnya ruang bermain, padatnya aktivitas belajar, hingga kurangnya keterlibatan keluarga dalam membangun kebiasaan hidup aktif.

Aktivitas Fisik Berpengaruh pada Prestasi Belajar

Kurangnya aktivitas fisik bukan hanya berdampak terhadap kesehatan tubuh, tetapi juga memengaruhi kemampuan belajar anak.

Ari menjelaskan bahwa kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes, dan gangguan metabolisme, sekaligus menurunkan konsentrasi belajar, kualitas tidur, hingga kesehatan mental.

Karena itu, pendidikan jasmani perlu dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk membangun karakter, kesehatan, dan kualitas peserta didik.

Baca Juga: Status Oren di Info GTK Jangan Diabaikan! Ini Penyebab SKTP Guru Belum Terbit

Kompetensi Motorik Menjadi Dasar Perkembangan Anak

Peneliti Pascadoktoral Pusat Riset Pendidikan BRIN, Arisco Mardiansyah, menjelaskan bahwa kemampuan motorik merupakan fondasi penting dalam proses tumbuh kembang anak.

Penguasaan gerak dasar bukan hanya menjadi bekal bagi calon atlet, tetapi juga berkontribusi terhadap perkembangan fungsi kognitif, kepercayaan diri, dan kebiasaan menjalani gaya hidup aktif hingga dewasa.

Ia menegaskan bahwa setiap aktivitas fisik melibatkan proses berpikir yang kompleks, mulai dari menerima informasi, mengambil keputusan, hingga mengoordinasikan gerakan tubuh.

Hal tersebut menunjukkan bahwa perkembangan motorik dan kemampuan berpikir saling berkaitan erat.

TGMD Membantu Guru Memahami Potensi Anak

Untuk mendukung proses pembelajaran, Arisco memperkenalkan Test of Gross Motor Development (TGMD) sebagai instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur kemampuan gerak dasar anak secara lebih objektif.

Melalui hasil pengukuran tersebut, guru dapat menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing peserta didik.

Penelitiannya juga menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis permainan mampu meningkatkan kompetensi motorik sekaligus membuat anak lebih antusias mengikuti aktivitas fisik.

Baca Juga: Soal Matematika TKA SMA 2026 Dikurangi Jadi 25 Nomor, Kemendikdasmen Ungkap 3 Materi Tersulit

Guru Perlu Memahami Cara Berpikir Peserta Didik

Dari sisi pembelajaran akademik, Dosen Pendidikan Matematika Universitas Negeri Malang, Anita Dewi Utami, menekankan bahwa guru perlu memahami cara berpikir peserta didik sebelum menentukan strategi pembelajaran.

Menurutnya, rendahnya minat terhadap matematika sering kali muncul akibat persepsi negatif dan kecemasan belajar, bukan semata-mata karena tingkat kesulitan materi.

Melalui penelitian mengenai mental model, Anita menemukan bahwa setiap siswa memiliki tingkat pemahaman awal yang berbeda sehingga guru perlu melakukan diagnosis terlebih dahulu agar metode pembelajaran yang digunakan benar-benar sesuai.

Teknologi Mendukung Pembelajaran, Guru Tetap Menjadi Kunci

Anita juga mengembangkan berbagai inovasi pembelajaran berbasis teknologi, mulai dari platform belajar mandiri hingga sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) yang membantu proses asesmen dan analisis pembelajaran.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat pendukung.

Peran guru tetap tidak tergantikan karena hanya pendidik yang mampu memahami karakter, kebutuhan, dan perkembangan setiap peserta didik secara menyeluruh.

Baca Juga: Bukan Sekadar Menabung, Ini Metode Kakeibo yang Bikin Orang Jepang Lebih Disiplin Mengelola Uang

BRIN menegaskan bahwa pencapaian Indonesia Emas 2045 memerlukan transformasi pendidikan yang lebih holistik. Keberhasilan peserta didik tidak cukup diukur dari nilai akademik, tetapi juga harus didukung oleh kesehatan fisik, kesejahteraan mental, kemampuan motorik, perkembangan kognitif, serta strategi pembelajaran yang mampu mengakomodasi kebutuhan setiap anak.

Melalui sinergi antara dunia pendidikan, penelitian, kesehatan, dan pemanfaatan teknologi, Indonesia memiliki peluang besar untuk mencetak generasi yang sehat, tangguh, inovatif, dan adaptif. Dengan fondasi tersebut, cita-cita membangun sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045 semakin realistis untuk diwujudkan.***

Tags:
pendidikan Indonesia Pendidikan Anak BRIN

Komentar Pengguna