Dengan demikian, puasa bukan hanya menahan lapar dan haus. Ibadah ini juga menjadi kesempatan untuk melatih kesabaran, mengendalikan keinginan, dan membangun perilaku yang lebih baik.
Ketika matahari telah terbenam dan waktu Maghrib tiba, orang yang berpuasa disunnahkan untuk segera berbuka. Kebiasaan ini termasuk tuntunan Rasulullah SAW yang dianjurkan dalam berbagai hadis.
Berbuka dapat diawali dengan air putih atau makanan ringan, kemudian dilanjutkan dengan makanan yang cukup untuk mengembalikan energi tubuh. Setelah itu, umat Islam dapat menunaikan salat Maghrib sesuai waktunya.
Rangkaian puasa Ayyamul Bidh pada dasarnya sama seperti puasa sunnah lainnya. Kekhususannya terletak pada waktu pelaksanaan, yaitu tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriah, dengan memperhatikan ketentuan tertentu pada bulan Dzulhijjah.
Ada hal yang perlu diperhatikan ketika menjalankan puasa Ayyamul Bidh pada bulan Dzulhijjah. Tanggal 13 Dzulhijjah termasuk hari Tasyrik, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Pada hari-hari tersebut, puasa pada dasarnya dilarang.
Karena itu, tanggal 13 Dzulhijjah tidak boleh dijadikan hari puasa Ayyamul Bidh. Dalam sebagian penjelasan ulama mazhab Syafi'i, tanggal tersebut diganti dengan tanggal 16 Dzulhijjah, sehingga puasa dilakukan pada tanggal 14, 15, dan 16.
Namun, persoalan penggantian tanggal 13 dengan tanggal 16 ini memiliki pembahasan tersendiri di kalangan ulama. Imam as-Subki, sebagaimana dikutip dalam Fath ar-Rahman bi Syarh Zubad Ibn Ruslan, menyebutkan adanya beberapa kemungkinan pendapat mengenai pelaksanaan puasa tiga hari pada bulan Dzulhijjah.
Oleh sebab itu, umat Islam sebaiknya memahami bahwa tanggal 13 Dzulhijjah merupakan hari yang tidak boleh digunakan untuk berpuasa. Adapun pilihan tanggal pengganti dapat mengikuti penjelasan ulama atau panduan fikih yang dipercaya.
Baca Juga: Meriah! Upacara hingga Pentas Seni Warnai Hari Santri Nasional 2026 di Pesantren Kebon Cinta
Puasa Ayyamul Bidh dapat menjadi cara sederhana untuk menjaga rutinitas ibadah di luar bulan Ramadan. Pelaksanaannya mencakup niat, menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, dan berbuka ketika matahari terbenam.
Bagi yang ingin mengamalkannya, menandai tanggal 13, 14, dan 15 pada kalender Hijriah dapat membantu agar waktu puasa tidak terlewat. Kebiasaan ini juga bisa menjadi sarana membangun kedisiplinan dan memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT.
Meski tergolong ibadah sunnah, puasa Ayyamul Bidh memiliki keutamaan yang besar. Dengan memahami tata cara dan ketentuannya, umat Islam dapat menjalankan amalan ini secara lebih tenang, tepat, dan berkelanjutan.
Wallahu a'lam bish-shawab.***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir