KebonCinta.com – Sholat tahajud merupakan salah satu ibadah sunah yang dianjurkan dalam Islam. Ibadah ini dikerjakan pada malam hari dan menjadi kesempatan bagi seorang Muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui sholat, zikir, serta doa.
Tidak sedikit umat Islam yang ingin membiasakan tahajud, tetapi masih memiliki pertanyaan mengenai waktu pelaksanaan, jumlah rakaat, bacaan niat, dan doa setelah sholat.
Sebagian juga belum memahami perbedaan antara sholat tahajud dan sholat malam yang dilakukan sebelum tidur.
Padahal, dalam pembahasan fikih terdapat ketentuan yang membedakan keduanya.
Berikut tata cara sholat tahajud berdasarkan dalil Al-Qur'an, hadis, dan penjelasan ulama, khususnya dalam tradisi fikih mazhab Syafi'i.
Tahajud merupakan sholat sunah yang dilaksanakan pada malam hari setelah seseorang tidur terlebih dahulu.
Dalam penjelasan NU Online yang merujuk kitab I'anatuth Thalibin, sholat tahajud termasuk ibadah sunah yang sangat dianjurkan.
Dasar anjurannya terdapat dalam Al-Qur'an, Surah Al-Isra ayat 79.
Allah SWT berfirman:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا
Artinya:
"Dan pada sebagian malam hari, lakukanlah sholat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji."
Ayat tersebut menjadi salah satu dasar keutamaan ibadah malam.
Rasulullah SAW juga memberikan teladan mengenai pentingnya menghidupkan malam dengan sholat.
Dalam hadis riwayat Muslim, sholat yang paling utama setelah sholat fardhu adalah sholat malam.
Waktu tahajud dimulai setelah seseorang melaksanakan sholat Isya, kemudian tidur dan bangun kembali pada malam hari.
Batas akhirnya adalah sebelum masuk waktu Subuh.
Dalam fikih Syafi'i, tidur terlebih dahulu menjadi unsur yang membedakan tahajud dari sholat sunah malam secara umum.
Karena itu, seseorang yang mengerjakan sholat sunah setelah Isya tanpa tidur terlebih dahulu tetap melakukan ibadah malam, tetapi sholat tersebut tidak disebut tahajud menurut pengertian khusus ini.
Waktu yang sangat dianjurkan untuk sholat dan berdoa adalah sepertiga malam terakhir.
Untuk memperkirakannya, seseorang dapat menghitung rentang waktu antara Magrib dan Subuh, membaginya menjadi tiga, kemudian mengambil bagian terakhir.
Misalnya, apabila rentang Magrib hingga Subuh adalah 12 jam, sepertiga malam terakhir mencakup empat jam sebelum Subuh.
Contoh tersebut hanya ilustrasi perhitungan. Waktu sebenarnya mengikuti jadwal sholat setempat dan berubah sesuai lokasi serta tanggal.
Sholat tahajud dapat dimulai dengan dua rakaat.
Jika ingin menambah, seseorang dapat melaksanakan empat, enam, delapan rakaat, atau jumlah lain sesuai kemampuan dan tuntunan yang diikuti.
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa sholat malam dikerjakan dua rakaat demi dua rakaat.
Menurut penjelasan NU Online yang merujuk kitab fikih Syafi'i, tidak terdapat batas maksimal khusus jumlah rakaat tahajud.
Namun, hal itu tidak berarti seseorang harus mengerjakan rakaat sebanyak mungkin.
Dua rakaat yang dikerjakan dengan baik dan konsisten dapat menjadi langkah awal bagi orang yang baru membiasakan tahajud.
Berikut contoh lafal niat yang dikenal dalam kitab-kitab fikih:
أُصَلِّي سُنَّةَ التَّهَجُّدِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Ushalli sunnatat-tahajjudi rak'ataini lillahi ta'ala.
Artinya: "Aku berniat mengerjakan sholat sunah tahajud dua rakaat karena Allah Taala."
Perlu dipahami bahwa niat merupakan kehendak dalam hati untuk melaksanakan ibadah.
Melafalkan niat sebelum takbiratul ihram bukan syarat sah sholat. Lafal di atas dapat digunakan sebagai bantuan menghadirkan niat, tetapi yang menjadi pokok adalah niat dalam hati ketika memulai sholat.
Secara umum, tata cara tahajud sama dengan pelaksanaan sholat sunah dua rakaat lainnya.
Berikut langkah-langkahnya:
Apabila ingin melaksanakan empat rakaat, seseorang dapat menambah dua rakaat lagi dengan salam tersendiri.
Baca Juga: Doa Mustajab Setelah Sholat Tahajud dan Hajat, Disertai Dzikir dan Tata Caranya
Tidak terdapat kewajiban membaca surah tertentu untuk menjadikan sholat tahajud sah.
Seseorang boleh membaca surah pendek maupun panjang sesuai kemampuan.
Sebagian panduan fikih menganjurkan Surah Al-Kafirun pada rakaat pertama dan Al-Ikhlas pada rakaat kedua.
Namun, anjuran tersebut tidak berarti kedua surah itu menjadi syarat sah tahajud.
Bagi seseorang yang baru menghafal beberapa surah, gunakan bacaan yang telah dikuasai dengan benar.
Jika kemampuan membaca Al-Qur'an sudah berkembang, bacaan dapat diperpanjang sesuai kemampuan tanpa mengabaikan ketenangan dan ketepatan pelaksanaan.
Setelah salam, seseorang dapat memperbanyak istighfar, zikir, dan doa.
Salah satu doa yang memiliki dasar riwayat sahih ialah doa yang dibaca Rasulullah SAW ketika melaksanakan ibadah malam, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas.
Bagian awal doa tersebut adalah:
اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
Latin: Allahumma lakal-hamdu anta nurus-samawati wal-ardh.
Artinya: "Ya Allah, segala puji bagi-Mu. Engkaulah cahaya langit dan bumi."
Bacaan tersebut merupakan bagian dari doa panjang yang diriwayatkan dalam hadis, bukan keseluruhan teksnya.
Selain doa dari hadis, seseorang dapat memohon ampunan, petunjuk, keselamatan, dan kebaikan menggunakan bahasa yang dipahami.
Tidak ada kewajiban membaca satu doa khusus dengan lafal tertentu setelah setiap sholat tahajud.
Witir merupakan sholat sunah dengan jumlah rakaat ganjil yang dianjurkan sebagai penutup sholat malam.
Rasulullah SAW menganjurkan agar akhir sholat malam seseorang berupa witir.
Namun, apabila seseorang telah melaksanakan witir sebelum tidur karena khawatir tidak dapat bangun, kemudian ternyata terbangun pada malam hari, ia tetap dapat melaksanakan sholat sunah.
Tidak perlu mengulang witir untuk kedua kalinya pada malam yang sama.
Hal tersebut sesuai dengan hadis mengenai larangan melaksanakan dua witir dalam satu malam.
Dengan demikian, orang yang sudah witir tidak perlu menganggap dirinya kehilangan kesempatan melakukan sholat malam.
Bagi seseorang yang belum terbiasa bangun malam, tahajud dapat dimulai dengan target sederhana.
Misalnya, melaksanakan dua rakaat satu atau dua kali dalam seminggu, kemudian meningkatkan keteraturan sesuai kemampuan.
Tidur lebih awal dan mengatur waktu istirahat dapat membantu seseorang bangun tanpa mengorbankan kesehatan.
Namun, jangan memaksakan begadang apabila hal tersebut justru menyebabkan tertinggal sholat Subuh atau mengganggu kewajiban pada keesokan harinya.
Seseorang juga tidak perlu membandingkan jumlah rakaatnya dengan orang lain.
Yang lebih penting adalah kesungguhan beribadah dan menjaga pelaksanaan secara konsisten.
Baca Juga: Tata Cara Sholat Taubat 2 Rakaat, Lengkap dengan Niat, Doa, Waktu, dan Syarat Taubat
Seseorang yang telah berniat bangun untuk tahajud tetapi tertidur hingga Subuh tidak perlu berputus asa.
Ia dapat memperbaiki kebiasaan tidur dan kembali berusaha pada malam berikutnya.
Sholat tahajud merupakan ibadah sunah sehingga tidak boleh mengakibatkan seseorang meremehkan kewajiban sholat lima waktu.
Dengan memahami waktu, niat, jumlah rakaat, dan tata cara yang benar, umat Islam dapat melaksanakan tahajud tanpa merasa terbebani oleh anggapan bahwa ibadah tersebut harus selalu panjang.
Tahajud dapat menjadi kebiasaan baik yang membantu seorang Muslim memperbanyak doa, memperkuat kedisiplinan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT secara bertahap.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir