Duduk dalam waktu panjang dengan aktivitas fisik yang rendah dapat menjadi bagian dari pola hidup sedentari. Dalam jangka panjang, pola ini berkaitan dengan berbagai risiko kesehatan, terutama jika tidak diimbangi aktivitas fisik yang memadai.
Namun, bukan berarti setiap orang yang bekerja sambil duduk pasti mengalami penyakit kronis. Risiko kesehatan dipengaruhi banyak faktor, seperti pola makan, kebiasaan olahraga, kualitas tidur, usia, dan kondisi kesehatan masing-masing.
Karena itu, pendekatan yang lebih baik adalah mengurangi waktu tidak aktif, rutin bergerak, serta mempertahankan kebiasaan sehat lainnya. Jika pekerjaan mengharuskan Anda duduk dalam waktu lama, perubahan kecil yang dilakukan setiap hari tetap bermanfaat.
Apabila nyeri punggung atau leher terus berulang, semakin berat, atau disertai gejala lain yang mengkhawatirkan, jangan mengabaikannya. Mintalah penilaian tenaga kesehatan untuk mengetahui penyebab dan penanganan yang tepat.
Tuntutan pekerjaan memang membuat banyak orang harus menghabiskan waktu di depan komputer. Meski demikian, produktivitas tidak seharusnya membuat kebutuhan tubuh untuk bergerak dan beristirahat terabaikan.
Mulailah dengan memutus waktu duduk yang panjang, memperbaiki posisi kerja, melakukan peregangan, mengatur pola makan, dan mencukupi waktu tidur. Tidak perlu menunggu muncul keluhan untuk membangun kebiasaan tersebut.
Bagi ASN, pegawai non-ASN, maupun karyawan swasta, menjaga kesehatan merupakan investasi jangka panjang. Tubuh yang terawat membantu mendukung aktivitas sehari-hari sekaligus menciptakan kebiasaan kerja yang lebih nyaman dan berkelanjutan.***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir