Khazanah
Al Fina

Tragis! Wanita 31 Tahun Meninggal Setelah Ubah Dosis Obat Epilepsi, Percakapan dengan ChatGPT Jadi Sorotan

Tragis! Wanita 31 Tahun Meninggal Setelah Ubah Dosis Obat Epilepsi, Percakapan dengan ChatGPT Jadi Sorotan

31 Oktober 2026 | 21:36

KebonCinta.com - Teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin sering digunakan untuk mencari informasi, termasuk mengenai kesehatan. Namun, penggunaannya tetap memiliki batas, terutama ketika menyangkut keputusan medis yang membutuhkan pengawasan tenaga profesional.

Hal tersebut menjadi perhatian setelah seorang wanita berusia 31 tahun asal China bernama Bowen Wan meninggal dunia di Seattle, Amerika Serikat, pada Februari 2026. Berdasarkan laporan yang dikutip dari NYPost, penyebab resmi kematiannya disebut berkaitan dengan komplikasi epilepsi setelah ia mengubah dosis obat yang selama ini dikonsumsi.

Kasus tersebut menjadi sorotan setelah keluarga mengetahui bahwa Bowen sempat berkonsultasi dengan ChatGPT mengenai pengurangan dosis obatnya. Orang tuanya menduga percakapan tersebut turut berperan dalam keputusan yang diambil putrinya.

Keluarga kemudian mengajukan gugatan kematian akibat kelalaian terhadap OpenAI dan CEO-nya, Sam Altman, pada 27 Oktober 2026. Namun, dugaan dan tuduhan dalam gugatan tersebut perlu dibedakan dari fakta medis mengenai penyebab kematian yang tercantum dalam laporan.

Baca Juga: Rumah Terasa Sempit Padahal Luas? Bisa Jadi 6 Kebiasaan Ini Bikin Barang Menumpuk 

Kondisi Epilepsi Sempat Terkendali Selama Lebih dari 10 Tahun

Sebelum meninggal dunia, Bowen diketahui telah hidup dengan epilepsi selama bertahun-tahun. Menurut keterangan keluarganya, kondisi tersebut sempat terkendali selama lebih dari satu dekade.

Ayahnya, Qun Wan, mulai merasa khawatir ketika putrinya tiba-tiba berhenti berbicara saat sedang melakukan panggilan telepon. Peristiwa itu diduga merupakan kejang yang berlangsung lebih lama dibandingkan kejadian sebelumnya.

Setelah tersadar, Bowen mengatakan akan menceritakan kondisinya lebih lanjut setelah beristirahat. Namun, beberapa hari kemudian, ia tidak lagi merespons panggilan telepon dari keluarganya.

Orang tuanya yang tinggal di China kemudian meminta bantuan seseorang untuk memeriksa keadaan Bowen di apartemennya di Seattle. Melalui panggilan video, mereka akhirnya mengetahui bahwa putrinya telah meninggal dunia.

Percakapan dengan ChatGPT Sebelum Mengubah Dosis Obat

Menurut keterangan keluarga, Bowen mulai menggunakan ChatGPT pada 2023 untuk berbagai keperluan, mulai dari konsultasi mengenai hubungan pribadi hingga memahami asuransi dan tunjangan disabilitas.

Penggunaan chatbot tersebut dilaporkan semakin intensif pada 2025. Dalam periode itu, Bowen disebut mengirimkan sekitar 1.500 pesan setiap minggu.

Keluarga kemudian mengetahui bahwa Bowen juga pernah membicarakan efek samping obat dan keinginannya untuk mengubah dosis. Ia disebut merasa terganggu oleh penurunan energi serta perubahan kemampuan kognitif yang dialaminya.

Dalam percakapan yang menjadi bagian dari gugatan, Bowen dilaporkan meminta saran mengenai pengurangan dosis obat antidepresan dan obat epilepsi.

Pada Januari 2026, ia disebut membahas rencana menurunkan dosis obat epilepsi dari 400 miligram menjadi 300 miligram, kemudian 200 miligram per hari.

Menurut gugatan keluarga, respons chatbot pada awalnya sempat mengarahkan Bowen untuk berkonsultasi dengan dokter. Namun, percakapan berikutnya diduga berisi tanggapan yang mendukung keputusan pengurangan dosis tanpa pengawasan medis.

Dokter Tidak Merekomendasikan Pengurangan Obat Tanpa Pengawasan

Dokter epilepsi Bowen, Nicholas Poolos, disebut tidak merekomendasikan pengurangan dosis obat bagi pasien dengan kondisi seperti yang dialami Bowen.

Dalam laporan tersebut, dokter menyampaikan bahwa menghentikan obat yang terbukti efektif tanpa pertimbangan medis bukan tindakan yang dapat direkomendasikan.

Keluarga juga mengaku menemukan percakapan yang menunjukkan adanya rencana penurunan dosis secara bertahap hingga penghentian obat dalam hitungan minggu.

Seiring perubahan dosis tersebut, Bowen dilaporkan mengalami kebingungan dan kesulitan mengingat beberapa kejadian. Ia bahkan disebut berulang kali menyampaikan kekhawatiran mengenai kondisi tubuh dan pikirannya dalam percakapan dengan chatbot.

Namun, respons AI yang dikutip dalam gugatan disebut menggambarkan kondisi tersebut sebagai low-power mode atau mode hemat energi.

Mengapa Dosis Obat Epilepsi Tidak Boleh Diubah Sendiri?

Obat epilepsi digunakan untuk membantu mengendalikan aktivitas kejang. Penggunaan obat harus mengikuti arahan dokter karena jenis obat, dosis, kondisi pasien, dan respons terhadap pengobatan dapat berbeda pada setiap orang.

Mengurangi dosis atau menghentikan obat secara tiba-tiba tanpa pengawasan medis dapat meningkatkan risiko kejang berulang. Karena itu, perubahan pengobatan perlu dibicarakan terlebih dahulu dengan dokter yang menangani pasien.

Jika seseorang mengalami efek samping, merasa dosis obat terlalu tinggi, atau menganggap pengobatan tidak memberikan hasil yang diharapkan, langkah yang tepat adalah menyampaikan keluhan tersebut kepada tenaga medis.

Dokter dapat mengevaluasi kondisi pasien dan mempertimbangkan penyesuaian pengobatan berdasarkan kebutuhan serta riwayat kesehatannya.

AI Bukan Pengganti Dokter dalam Mengambil Keputusan Medis

Kasus Bowen Wan menjadi pengingat bahwa chatbot AI dapat membantu memberikan informasi umum, tetapi tidak dapat menggantikan pemeriksaan, diagnosis, dan pengawasan dokter.

Jawaban yang diberikan AI tidak selalu sesuai dengan kondisi kesehatan seseorang. Sistem tersebut juga tidak memiliki kemampuan untuk melakukan pemeriksaan fisik atau memantau perubahan kondisi pasien secara langsung.

Karena itu, informasi dari chatbot sebaiknya digunakan sebagai bahan untuk memahami pertanyaan kesehatan, bukan sebagai dasar untuk mengubah dosis atau menghentikan pengobatan.

Pada akhirnya, keputusan medis tetap perlu melibatkan tenaga kesehatan yang memahami riwayat dan kondisi pasien. Terlebih untuk penyakit seperti epilepsi yang membutuhkan pengelolaan pengobatan secara teratur.***

Tags:
Kecerdasan Buatan ChatGPT mengubah dosis obat

Komentar Pengguna