Keboncinta.com-- Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) kembali menghadirkan sejumlah kebijakan baru pada tahun 2025 yang berfokus pada peningkatan kesejahteraan guru dan penguatan karakter peserta didik.
Langkah ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah untuk memperkuat mutu pendidikan nasional dan menyiapkan generasi unggul menghadapi masa depan.
Salah satu kebijakan paling disorot tahun ini adalah penyaluran langsung tunjangan sertifikasi guru ke rekening masing-masing penerima. Sebelumnya, tunjangan tersebut disalurkan melalui pemerintah daerah, namun kini prosesnya dipermudah agar lebih cepat dan transparan.
“Ini merupakan terobosan untuk menghindari birokrasi yang berbelit. Guru kini dapat menerima haknya dengan lebih pasti dan tepat waktu,” ujar pejabat Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) dalam konferensi pers terbaru.
Selain itu, insentif bagi guru honorer juga mengalami peningkatan. Tahun depan, besaran insentif naik dari Rp300.000 menjadi Rp400.000 per bulan dan akan diberikan langsung ke rekening masing-masing guru.
Kebijakan ini merupakan hasil kerja sama antara Kemendikbudristek dan Komisi X DPR RI sebagai bentuk penghargaan terhadap dedikasi para pendidik non-ASN di seluruh Indonesia.
Bahasa Inggris Jadi Pelajaran Wajib di SD
Dalam upaya memperkuat kompetensi global siswa, Bahasa Inggris akan menjadi mata pelajaran wajib mulai kelas 3 SD pada tahun 2027.
Kebijakan ini disiapkan secara bertahap, dimulai dengan pelatihan guru bahasa Inggris di tingkat dasar pada tahun 2025.
“Kami ingin anak-anak Indonesia memiliki kemampuan komunikasi global sejak dini. Karena itu, pelatihan guru akan menjadi kunci sukses implementasi kebijakan ini,” jelas perwakilan Ditjen GTK.
Baca Juga: Wujudkan Pesantren Ramah Anak, Kemenag Lakukan Tiga Langkah ini, Apa saja?
Penguatan Karakter dan Pendidikan Humanis
Selain aspek akademik, Kemendikbudristek juga memperkuat pendidikan karakter melalui program “Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” dan “Pagi Ceria”.
Program ini melibatkan kegiatan rutin seperti menyanyikan lagu Indonesia Raya, senam anak Indonesia hebat, dan doa bersama di sekolah.
Tak hanya itu, program “Jeda Ceria” juga diperkenalkan untuk membantu siswa menyegarkan pikiran di sela pembelajaran dengan kegiatan fisik dan refleksi ringan.
Kegiatan-kegiatan ini diharapkan menciptakan suasana belajar yang humanis, menggembirakan, dan berkarakter positif.
Digitalisasi dan Pembelajaran Masa Depan
Kemendikbudristek juga menyiapkan pelatihan coding dan kecerdasan buatan (AI) bagi guru dari tingkat SD hingga SMK.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya menyesuaikan sistem pendidikan Indonesia dengan kebutuhan era industri 4.0 dan masyarakat 5.0.
Lebih dari 60.000 guru telah mengikuti pelatihan berbasis teknologi ini, didampingi oleh hampir 3.000 fasilitator nasional yang siap melatih guru di seluruh Indonesia.
Baca Juga: Indonesia dan Suriah Tingkatkan Kerja Sama Strategis Bidang Wakaf dan Pendidikan Islam
Menuju Wajib Belajar 13 Tahun
Salah satu kebijakan besar yang juga mulai dijalankan adalah program wajib belajar 13 tahun, dimulai dari taman kanak-kanak (TK) hingga SMA. Program ini dijalankan bekerja sama dengan Kementerian Desa dan didukung melalui Program Indonesia Pintar (PIP) yang kini diperluas bagi anak-anak usia prasekolah.
Kebijakan-kebijakan baru ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam membangun sistem pendidikan yang lebih adil, modern, dan berorientasi pada kesejahteraan guru serta perkembangan karakter anak.
Dengan guru yang lebih sejahtera dan anak-anak yang lebih hebat, Indonesia semakin optimistis menatap masa depan pendidikan yang gemilang.***