KebonCinta.com - Transformasi pendidikan di era kecerdasan buatan (AI) menuntut guru untuk terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi sekaligus membekali siswa kemampuan berpikir kritis. Namun, tuntutan tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan kesejahteraan guru yang memadai.
Ketimpangan ini menjadi sorotan dalam diskusi panel mahasiswa bertajuk “AI, Unfiltered: Students Have Their Say” pada rangkaian QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 di Bali International Convention Centre, Bali, Selasa (3/11/2026).
Baca Juga: Mau Tuntaskan Kuliah S3? Kemdiktisaintek Buka Beasiswa untuk Dosen, Ini Dua Skema yang Bisa Dipilih
Mahasiswa Binus University, Farrel Argantha Nadhyta, menyoroti kondisi guru honorer di Indonesia yang masih menghadapi persoalan penghasilan rendah meskipun telah mengabdikan diri selama puluhan tahun.
Salah satu kasus yang menjadi perhatian publik adalah Bu Ijah, guru honorer yang viral setelah menerima gaji terakhir sebesar Rp414.000 usai mengajar selama 40 tahun.
Baca Juga: Anak SD Bakal Belajar Bahasa Inggris Lewat Lagu dan Permainan, Ini Strategi Baru Kemendikdasmen
Menurut Farrel, kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara ekspektasi terhadap profesi guru dan dukungan yang diberikan oleh sistem pendidikan.
Persoalan kesejahteraan guru juga tercermin dalam survei daring yang dilakukan Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) bersama GREAT Edunesia Dompet Dhuafa. Survei yang melibatkan 403 guru dari 25 provinsi pada pekan pertama Mei 2024 itu menunjukkan bahwa 42 persen guru memiliki penghasilan di bawah Rp2 juta per bulan.
Baca Juga: Mau Tuntaskan Kuliah S3? Kemdiktisaintek Buka Beasiswa untuk Dosen, Ini Dua Skema yang Bisa Dipilih
Dari jumlah tersebut, 13 persen guru bahkan berpenghasilan di bawah Rp500.000 per bulan. Sementara itu, pada kelompok guru honorer atau kontrak, sebanyak 74 persen memperoleh penghasilan di bawah Rp2 juta dan 20,5 persen di antaranya berpenghasilan di bawah Rp500.000.
Besaran penghasilan tersebut masih berada di bawah upah minimum kabupaten/kota terendah pada 2024, yakni Kabupaten Banjarnegara sebesar Rp2.038.005.
Di tengah perkembangan teknologi, guru dihadapkan pada tanggung jawab yang semakin kompleks. Selain menyampaikan materi pembelajaran, guru dituntut mampu mengintegrasikan AI dalam proses belajar, menjaga integritas akademik siswa, serta memastikan teknologi tidak menghambat kemampuan berpikir mandiri.
Farrel menilai, tuntutan tersebut perlu diimbangi dengan kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan dan peningkatan kapasitas guru.
Menurutnya, persoalan rendahnya penghasilan tidak dapat dipisahkan dari kualitas pendidikan. Guru membutuhkan dukungan berupa penghasilan yang layak, waktu untuk mengembangkan kompetensi, serta kesempatan mengikuti pelatihan agar mampu merespons perubahan teknologi.
Ia juga menyoroti praktik di Singapura dan Finlandia yang dinilai dapat menjadi referensi dalam menempatkan guru sebagai profesi dengan penghasilan dan penghargaan yang setara dengan profesi lain, seperti insinyur dan akuntan.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pendidikan tidak cukup dilakukan melalui pembaruan kurikulum dan pemanfaatan teknologi, tetapi juga melalui penguatan posisi guru dalam sistem pendidikan.
Dalam menghadapi perkembangan AI, Farrel menekankan bahwa guru tetap memiliki peran penting sebagai pendamping intelektual siswa. Kehadiran teknologi tidak seharusnya menggantikan proses berpikir, melainkan menjadi sarana untuk memperluas pemahaman dan kemampuan analisis.
Penggunaan AI dalam pembelajaran perlu diarahkan agar siswa tidak sekadar menerima jawaban yang dihasilkan teknologi. Sebaliknya, siswa perlu dibiasakan untuk memeriksa informasi, mempertanyakan argumentasi, serta menilai ketepatan jawaban yang diperoleh.
Dengan demikian, kemampuan berpikir kritis menjadi salah satu kompetensi penting yang perlu diperkuat dalam pendidikan di era AI.
Farrel menilai, institusi pendidikan dan pembuat kebijakan perlu terlebih dahulu memastikan kesejahteraan serta peningkatan kompetensi guru sebelum menuntut mereka mempersiapkan siswa menghadapi masa depan yang semakin terdigitalisasi.
Penguatan kesejahteraan guru menjadi bagian penting dari upaya membangun pendidikan yang mampu memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan dimensi kemanusiaan dan kemampuan berpikir.
QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 diselenggarakan pada 3–5 November 2026 dengan Binus University sebagai tuan rumah serta Universitas Padjadjaran (Unpad) dan The Education University of Hong Kong (EduHK) sebagai co-host.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir