Keboncinta.com — Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia mulai menjajaki kerja sama internasional untuk memperkuat kemampuan mahasiswa dan dosen di bidang kecerdasan buatan, sains data serta keamanan siber.
Penjajakan kerja sama dilakukan antara Data Science Center FMIPA UI dengan perusahaan keamanan siber asal Rusia, Positive Technologies.
Pertemuan tersebut difasilitasi oleh Sakuranesia Society, lembaga yang bergerak dalam pengembangan kerja sama pendidikan, riset, diplomasi serta pertukaran budaya Indonesia dengan berbagai mitra internasional.
Kolaborasi tersebut menjadi perhatian karena perkembangan kecerdasan buatan berlangsung sangat cepat dan membawa tantangan baru bagi keamanan data.
Ketua Data Science Center FMIPA UI Prof. Alhadi Bustamam menjelaskan bahwa AI dan keamanan siber saat ini tidak lagi dapat dipisahkan.
Model kecerdasan buatan membutuhkan data dalam jumlah besar agar dapat bekerja dengan baik.
Namun semakin banyak data yang digunakan, semakin besar pula kebutuhan terhadap sistem keamanan yang mampu melindungi data tersebut dari pencurian, manipulasi maupun serangan digital.
Pada saat yang sama, teknologi keamanan siber modern juga semakin banyak menggunakan kecerdasan buatan untuk mendeteksi pola serangan yang sulit dikenali menggunakan metode konvensional.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan tenaga ahli yang memahami kedua bidang semakin meningkat.
UI ingin mengambil peran dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu bekerja di persimpangan antara AI, sains data dan keamanan siber.
Kerja sama dengan industri internasional juga diharapkan memberikan pengalaman yang berbeda bagi mahasiswa.
Mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep dalam ruang kelas, tetapi dapat memahami bagaimana serangan siber terjadi dalam situasi nyata serta bagaimana cara membangun sistem pertahanan digital.
Positive Technologies menyatakan siap berbagi pengalaman dan keahlian praktis yang dimiliki perusahaan kepada mahasiswa maupun dosen Indonesia.
Director International Channels and Educational Programs Positive Technologies Alexander Udalov menilai kebutuhan tenaga ahli keamanan siber tumbuh lebih cepat dibandingkan ketersediaan tenaga profesional.
Kondisi tersebut juga terjadi di Indonesia.
Karena itu, mahasiswa perlu mendapatkan kesempatan untuk belajar bagaimana sebuah serangan bekerja sekaligus bagaimana cara mengidentifikasi dan menghentikannya.
FMIPA UI berharap penjajakan ini dapat berkembang menjadi program konkret.
Beberapa peluang yang dibahas mencakup pelatihan, riset bersama, publikasi ilmiah hingga kegiatan yang melibatkan mahasiswa dan dosen secara langsung.
Riset bersama dinilai penting karena persoalan keamanan digital terus berubah.
Metode serangan yang digunakan pelaku kejahatan siber terus berkembang seiring meningkatnya penggunaan layanan cloud, aplikasi digital, perangkat Internet of Things dan kecerdasan buatan.
Perguruan tinggi membutuhkan akses terhadap kasus aktual agar penelitian yang dilakukan tetap relevan terhadap kebutuhan masyarakat dan industri.
Kolaborasi ini juga bukan interaksi pertama Positive Technologies dengan institusi pendidikan Indonesia.
Sebelumnya perusahaan tersebut telah menjalin sejumlah kerja sama dengan lembaga pendidikan di Indonesia untuk pengembangan talenta keamanan siber.
Pada 2026, sejumlah perguruan tinggi Indonesia juga telah menjalin kerja sama dengan perusahaan tersebut dalam program pengembangan sumber daya manusia keamanan digital.
Sakuranesia Society berharap kerja sama baru dengan UI dapat memperluas jaringan internasional bagi talenta Indonesia.
Selain Rusia, lembaga tersebut juga membangun hubungan dengan sejumlah negara lain untuk mendukung pendidikan dan penelitian.
Bagi mahasiswa, bidang keamanan siber memiliki prospek yang semakin besar.
Digitalisasi layanan pemerintah, perbankan, pendidikan, kesehatan hingga bisnis membuat semakin banyak data masyarakat disimpan dalam sistem digital.
Ketika jumlah layanan digital meningkat, risiko serangan siber juga meningkat.
Kebocoran data, ransomware, pencurian identitas dan peretasan sistem menjadi persoalan yang membutuhkan tenaga ahli khusus.
Karena itu, kampus perlu mempersiapkan mahasiswa tidak hanya agar mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami bagaimana menjaga keamanan teknologi tersebut.
Kerja sama UI dan Positive Technologies saat ini masih berada pada tahap penjajakan.
Belum ada pengumuman mengenai jadwal atau mekanisme program untuk mahasiswa.
Namun kedua pihak berharap pembahasan dapat segera menghasilkan kegiatan nyata berupa pelatihan dan penelitian bersama.
Jika terealisasi, mahasiswa dan dosen UI berpotensi mendapatkan akses lebih luas terhadap pengalaman industri internasional sekaligus ikut menghasilkan solusi untuk memperkuat keamanan digital Indonesia.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir