Keboncinta.com-- Venus selama ini dikenal sebagai planet yang memiliki kondisi ekstrem dengan suhu sangat tinggi dan atmosfer yang didominasi karbon dioksida. Karena karakteristik tersebut, planet tetangga Bumi ini dianggap sebagai salah satu tempat paling tidak ramah bagi kehidupan.
Namun, sebuah penemuan terbaru kembali mengundang perhatian dunia sains setelah para ilmuwan berhasil mendeteksi keberadaan oksigen di atmosfer Venus.
Meski bukan oksigen yang dapat dihirup manusia, temuan ini menjadi langkah penting untuk memahami bagaimana atmosfer Venus berevolusi dan mengapa planet tersebut berkembang sangat berbeda dibandingkan Bumi.
Tim peneliti mendeteksi keberadaan atom oksigen di atmosfer Venus menggunakan instrumen yang dipasang pada observatorium udara SOFIA, sebuah pesawat Boeing 747SP yang telah dimodifikasi dan dilengkapi teleskop inframerah.
SOFIA merupakan proyek kolaborasi antara NASA dan Pusat Dirgantara Jerman yang dirancang untuk mengamati berbagai objek di luar angkasa dari ketinggian, sehingga mampu memperoleh data atmosfer planet dengan lebih akurat.
Penemuan ini menjadi salah satu hasil penting dalam penelitian mengenai komposisi atmosfer Venus yang selama ini masih menyimpan banyak misteri.
Meski terdengar mengejutkan, oksigen yang ditemukan di Venus bukanlah oksigen molekuler (O₂) seperti yang digunakan makhluk hidup di Bumi untuk bernapas.
Para ilmuwan menemukan oksigen dalam bentuk atom tunggal atau oksigen atom (O), yaitu atom oksigen yang belum berikatan dengan atom oksigen lainnya.
Atmosfer Venus sendiri masih didominasi karbon dioksida hingga sekitar 96,5 persen, sedangkan sisanya terdiri atas nitrogen dan sejumlah kecil gas lainnya. Karena itu, keberadaan oksigen di planet tersebut tergolong sangat sedikit.
Baca Juga: Aturan Baru Beban Kerja Guru Mulai Diterapkan Tugas Tambahan Kini Diakui dalam Pemenuhan Jam Kerja
Penelitian menunjukkan bahwa atom oksigen di Venus terbentuk akibat proses fotokimia.
Radiasi ultraviolet dari Matahari memecah molekul karbon dioksida dan karbon monoksida di atmosfer Venus menjadi atom oksigen beserta unsur-unsur kimia lainnya.
Setelah terbentuk di sisi planet yang menghadap Matahari, sebagian atom oksigen kemudian terbawa oleh sirkulasi angin menuju sisi malam Venus.
Fenomena inilah yang berhasil diamati oleh para peneliti melalui instrumen SOFIA.
Oksigen atom tersebut ditemukan terkonsentrasi pada ketinggian sekitar 100 kilometer di atas permukaan Venus, tepatnya di antara dua lapisan atmosfer.
Pada wilayah tersebut, suhu atmosfer juga sangat ekstrem. Di sisi yang menghadap Matahari, suhu mencapai sekitar minus 120 derajat Celsius, sedangkan di sisi malam dapat turun hingga sekitar minus 160 derajat Celsius.
Kondisi tersebut semakin menunjukkan bahwa keberadaan oksigen di Venus sama sekali tidak menandakan planet itu layak dihuni.
Baca Juga: BKN Perluas Kesempatan Pengembangan Karier PNS Melalui Skema Kenaikan Pangkat yang Lebih Fleksibel
Para ilmuwan menilai penemuan ini menjadi bukti langsung bahwa proses fotokimia masih aktif berlangsung di atmosfer Venus.
Selain itu, hasil penelitian tersebut juga memperlihatkan bagaimana angin atmosfer berperan membawa atom oksigen dari sisi siang menuju sisi malam planet.
Menurut para peneliti, pemahaman mengenai proses ini sangat penting untuk menjelaskan mengapa Venus berkembang menjadi planet yang sangat berbeda dibandingkan Bumi, meskipun keduanya memiliki ukuran yang relatif serupa.
Deteksi atom oksigen di atmosfer Venus menjadi salah satu penemuan penting dalam eksplorasi tata surya. Walaupun oksigen tersebut bukan oksigen yang dapat menunjang kehidupan, keberadaannya memberikan gambaran baru mengenai proses kimia yang berlangsung di atmosfer planet tersebut.
Melalui penelitian lanjutan, para ilmuwan berharap dapat mengungkap lebih banyak misteri mengenai evolusi Venus, sekaligus memahami faktor-faktor yang membuat planet ini memiliki kondisi ekstrem yang sangat berbeda dengan Bumi. Penemuan ini juga menjadi bukti bahwa masih banyak rahasia tata surya yang menunggu untuk diungkap melalui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi antariksa.***