Keboncinta.com — Pengajian rutin Ahad Pahing yang diselenggarakan oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara, mendadak viral di media sosial dan menyedot perhatian publik luas. Pasalnya, sang mubalig, KH Masykur M. Alfaruq atau yang akrab disapa Gus Faruq, menyampaikan materi ceramah agama dengan cara yang tidak biasa, yakni dari dalam liang lahad kuburan dengan posisi dan atribut persis seperti jenazah.
Peristiwa unik tersebut berlangsung di kompleks Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum, Desa Cialam Jaya, Kecamatan Konda, pada Minggu (1/11/2026).
Berdasarkan dokumentasi video yang beredar serta konfirmasi dari Pengurus Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Konsel, Yazidurrozaq, prosesi dakwah tersebut dilakukan secara total menyerupai tata cara pemakaman manusia yang telah wafat.
Gus Faruq awalnya berbaring di atas keranda dengan mengenakan pakaian serba putih. Sejumlah panitia dan warga kemudian membalut tubuhnya menggunakan kain kafan putih hingga menyerupai jenazah. Setelah itu, tubuhnya digotong menuju sebuah lubang liang lahad, dimasukkan ke dalamnya, ditutup menggunakan papan kayu, lalu ditimbun dengan tanah layaknya pemakaman sungguhan lengkap dengan gundukan makam dan nisan di atasnya.
"Iya benar beliau melakukan ceramah di dalam kubur selama 1,5 jam. Jadi kemarin saya ikut hadir menyaksikan langsung beliau melangsungkan ceramahnya dengan metode dari dalam kubur," ujar Yazid saat dikonfirmasi, Rabu (4/11/2026).
Yazid menambahkan, tidak ada rongga atau lubang udara khusus yang disiapkan di dalam liang lahad tersebut. Satu-satunya akses yang terhubung ke luar liang lahad hanyalah kabel mikrofon yang sengaja dijulurkan agar suara ceramah Gus Faruq dapat didengar oleh para jemaah di permukaan tanah.
Baca Juga: Sering Dibaca Dalam Hati, Doa Masuk WC Ternyata Lebih Utama Dikeraskan Karena Alasan Ini
Menanggapi kehebohan dan berbagai respons masyarakat di dunia maya, Ketua PCNU Konsel, Mohamad Anwar, memberikan klarifikasi tegas. Ia mengimbau umat Islam agar tidak salah menafsirkan metode ceramah ekstrem tersebut.
Menurut Anwar, apa yang dilakukan oleh pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ikhlas Tulang Bawang, Lampung, itu murni merupakan metode dakwah visual (tadzkiratul maut atau peringatan akan kematian), dan sama sekali tidak menyimpang dari akidah.
"Ini adalah metode ceramah, bukan menyembah kubur. Beliau ceramah tentang kematian dari dalam liang lahad sebagai media untuk mengingatkan jemaah agar mengingat kematian dan segera bertobat. Niatnya tadzkiratul maut (ingat mati), isinya tauhid. Bukan syirik," tegas Anwar dalam keterangannya, Selasa (3/11/2026).
Metode dakwah dari dalam kubur sejatinya bukan kali pertama ini dilakukan oleh Gus Faruq. Berdasarkan catatan sejarah dakwahnya, aksi serupa pernah ia lakukan pada 28 Maret 2019 silam di Lampung, di mana ia juga menyampaikan materi muhasabah kematian selama lebih dari satu jam.
Melalui metode tersebut, Gus Faruq berharap para jemaah dapat meresapi hakikat kehidupan, di mana manusia di hadapan Allah SWT kelak hanyalah seorang diri di dalam ruang peristirahatan terakhir berukuran 1x2 meter, sehingga momentum tersebut diharapkan mampu membawa perubahan spiritual (atsar) yang positif bagi para jemaah yang menyaksikannya. Wallahu a'lam.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir