KebonCinta.com — Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan setelah Yayasan Guru Belajar meraih UNESCO-Hamdan Prize for Teacher Development 2025-2026.
Penghargaan internasional tersebut diberikan melalui program Collective Teacher Leadership Development Programme yang dikembangkan Yayasan Guru Belajar.
Penyerahan penghargaan berlangsung dalam rangkaian peringatan Hari Guru Sedunia di Markas Besar UNESCO, Paris, Prancis.
Yayasan Guru Belajar menjadi satu dari tiga penerima penghargaan tahun ini.
Dua penerima lainnya berasal dari Türkiye dan Ethiopia.
“Selamat kepada Yayasan Guru Belajar dan terutama kepada para guru serta komunitas yang menjadi jantung gerakan ini,” ujar Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO I.G.A.K. Satrya Wibawa.
Menurutnya, penghargaan tersebut menunjukkan bahwa praktik pendidikan yang tumbuh dari Indonesia mampu memberikan kontribusi dalam diskusi global mengenai masa depan profesi guru.
Ketiga lembaga penerima penghargaan memperoleh bagian dari total dana hibah 300 ribu dolar AS.
Baca Juga: Dinkes Tangerang Target Temukan 8.000 Kasus TBC hingga Desember, Kader Turun Langsung ke Rumah Warga
Masing-masing lembaga mendapatkan 100 ribu dolar AS yang dapat digunakan untuk pengembangan program lanjutan.
Program Collective Teacher Leadership Development sendiri telah berjalan sejak 2021.
Program tersebut telah menjangkau 61.717 guru yang tersebar di 91 kabupaten dan kota.
Program Development Specialist Yayasan Guru Belajar Muhammad Luqman Hakim mengatakan salah satu tantangan utama adalah mengubah cara pandang terhadap peran guru.
“Selama ini guru sering diposisikan sebagai pelaksana yang menjalankan instruksi dari atas,” ujarnya.
Ia menjelaskan guru perlu mendapatkan ruang untuk ikut mengambil keputusan, berkolaborasi dengan murid dan bekerja bersama sesama pendidik.
Pendekatan program tidak hanya menggunakan kegiatan pelatihan satu arah.
Guru mengikuti pembelajaran digital, pendampingan antarguru, kegiatan refleksi serta kolaborasi dengan berbagai pihak.
Pendekatan tersebut diarahkan agar guru dapat berkembang sebagai pemimpin dalam komunitas pendidikan.
Dana penghargaan UNESCO nantinya akan digunakan untuk memperluas program.
Salah satu fokusnya adalah memperkuat komunitas guru di wilayah terpencil.
Pemanfaatan teknologi juga akan diperluas agar proses pengembangan kemampuan guru dapat menjangkau wilayah yang lebih banyak.
Yayasan Guru Belajar juga berencana mengukur dampak program terhadap kualitas pembelajaran murid.
Penghargaan tahun ini memiliki makna khusus karena bertepatan dengan 60 tahun Rekomendasi ILO dan UNESCO tentang Status Guru yang diterbitkan pada 1966.
Rekomendasi tersebut menjadi salah satu rujukan global mengenai hak, tanggung jawab serta pengembangan profesional tenaga pendidik.
Pencapaian Yayasan Guru Belajar menunjukkan bahwa inovasi pendidikan tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang rumit.
Komunitas guru yang saling belajar, berbagi pengalaman dan mendapatkan ruang mengambil keputusan juga dapat menghasilkan perubahan.
Penghargaan ini sekaligus membawa pengalaman guru dari berbagai daerah Indonesia ke panggung pendidikan internasional.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir