KEBONCINTA.COM – Sebanyak 107 pelajar jenjang SMA, SMK dan MA dari enam kabupaten di Papua Barat tengah bersaing untuk mendapatkan tiket menuju Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional atau FLS3N 2026 tingkat nasional.
Kompetisi tingkat Provinsi Papua Barat berlangsung selama tiga hari pada 3 hingga 5 September 2026 di Manokwari.
Para peserta yang mengikuti ajang tersebut sebelumnya telah melewati proses seleksi pada tingkat kabupaten.
Hanya siswa yang dinyatakan lolos seleksi daerah yang memperoleh kesempatan melanjutkan kompetisi di tingkat provinsi.
Sekretaris Dinas Pendidikan Papua Barat Sudjanti Kamat mengatakan peserta berasal dari enam kabupaten.
Kabupaten Manokwari mengirimkan siswa dari empat sekolah.
Fakfak diwakili tiga sekolah.
Sementara Teluk Bintuni, Teluk Wondama, Kaimana serta Pegunungan Arfak masing-masing mengirimkan perwakilan dari satu sekolah.
Secara keseluruhan terdapat 11 sekolah yang terlibat dalam penyelenggaraan tingkat provinsi.
Guru pendamping turut berperan dalam membimbing siswa sebelum mereka mengikuti kompetisi.
FLS3N bukan hanya ajang mencari siswa dengan kemampuan seni terbaik.
Pemerintah juga menempatkan kompetisi tersebut sebagai ruang pengembangan kreativitas, karakter dan kepercayaan diri peserta didik.
Melalui seni dan sastra, siswa mempunyai kesempatan mengekspresikan gagasan dengan cara yang berbeda dari pembelajaran akademik di ruang kelas.
Peserta dapat menyampaikan pemikiran melalui tulisan, suara, gerakan, musik maupun karya visual.
Pada 2026 terdapat beragam cabang yang dipertandingkan untuk jenjang SMA, SMK dan MA.
Cabang tersebut antara lain cipta lagu dan baca puisi.
Bidang musik mencakup musik tradisi, solo putra, solo putri serta solo gitar.
Peserta dengan kemampuan seni pertunjukan dapat mengikuti monolog maupun tari kreasi.
Bidang sastra mencakup cerita pendek dan cipta puisi.
Ada pula cabang feature jurnalistik yang memberikan ruang bagi siswa mengembangkan kemampuan menulis karya jurnalistik.
Bidang visual dan teknologi turut mendapatkan tempat melalui desain poster dan film pendek.
Beragamnya cabang tersebut memperlihatkan bahwa prestasi peserta didik dapat berkembang dalam banyak bentuk.
Seorang siswa tidak harus unggul dalam matematika atau sains untuk dapat memperoleh prestasi di tingkat nasional.
Kemampuan menulis, memainkan musik, membuat film, menari maupun mendesain juga dapat menjadi jalur pengembangan talenta.
Dinas Pendidikan Papua Barat berharap siswa memanfaatkan kompetisi sebagai kesempatan memperlihatkan kemampuan terbaik.
Namun peserta juga diingatkan agar tetap menjunjung kejujuran dan sportivitas.
Hasil kompetisi memang penting, tetapi proses belajar selama mempersiapkan karya juga dinilai menjadi bagian berharga.
Sudjanti menekankan kemenangan tidak hanya dapat dipahami melalui piala atau medali.
Kemampuan menghasilkan karya, menerima hasil kompetisi dan terus belajar menjadi nilai lain yang perlu dimiliki peserta.
Pesan tersebut menjadi penting dalam pembinaan prestasi siswa.
Kompetisi selalu menghasilkan peserta yang menang dan peserta yang belum memperoleh juara.
Namun pengalaman mengikuti proses seleksi dari kabupaten hingga provinsi tetap dapat membantu siswa berkembang.
Mereka memperoleh kesempatan melihat karya peserta lain sekaligus mengetahui standar kompetisi yang lebih tinggi.
Pengalaman tersebut dapat menjadi bahan evaluasi ketika mengikuti lomba berikutnya.
FLS3N juga mempunyai hubungan kuat dengan pelestarian budaya daerah.
Papua Barat memiliki kekayaan seni, bahasa dan tradisi yang sangat beragam.
Dinas Pendidikan mendorong generasi muda untuk terus mengenali kearifan lokal di tengah perubahan zaman.
Modernisasi dan perkembangan teknologi memang membawa banyak hal baru.
Namun generasi muda diharapkan tidak kehilangan hubungan dengan identitas budaya daerah.
Karya seni dapat menjadi salah satu cara mempertahankan nilai tersebut.
Musik tradisi, tari maupun berbagai bentuk seni dapat dikembangkan dengan pendekatan baru tanpa menghilangkan unsur budaya yang menjadi identitas masyarakat.
Film pendek dan feature jurnalistik juga dapat menjadi media untuk mendokumentasikan cerita lokal.
Siswa mempunyai kesempatan mengangkat kehidupan masyarakat, lingkungan maupun budaya daerah melalui karya mereka.
Kemampuan tersebut semakin relevan di era digital.
Konten visual dapat menjangkau masyarakat lebih luas melalui berbagai platform.
Pelajar yang mempunyai keterampilan membuat film maupun karya digital dapat memanfaatkan teknologi untuk memperkenalkan budaya Papua Barat.
Namun kemampuan teknis harus berjalan bersama pemahaman terhadap substansi.
Karya yang menarik bukan hanya mengandalkan kualitas gambar atau suara.
Cerita, pesan dan gagasan menjadi bagian yang menentukan kekuatan sebuah karya.
Karena itu, kompetisi seni dan sastra juga melatih kemampuan siswa melakukan riset dan memahami tema.
Pada cabang jurnalistik misalnya, siswa harus mampu menggali informasi dan menyusunnya menjadi tulisan yang menarik.
Cabang film pendek membutuhkan kemampuan merancang cerita, pengambilan gambar, penyuntingan dan kerja sama tim.
Sementara tari maupun musik membutuhkan latihan yang konsisten dalam waktu yang tidak singkat.
Peranan guru pendamping menjadi penting dalam proses tersebut.
Guru membantu memberikan arahan sekaligus menjaga agar siswa mampu mengembangkan ide sendiri.
Sebanyak 11 sekolah dari enam kabupaten telah membawa peserta terbaiknya menuju Manokwari.
Selama tiga hari, para siswa akan menunjukkan kemampuan dalam cabang masing-masing.
Peserta yang berhasil meraih hasil terbaik nantinya mendapat kesempatan melanjutkan perjalanan menuju FLS3N tingkat nasional.
Mereka akan bertemu siswa berbakat dari berbagai provinsi di Indonesia.
Kompetisi tingkat nasional tentu menghadirkan tantangan lebih besar.
Namun proses di tingkat provinsi menjadi bekal penting sebelum menghadapi tahap tersebut.
Pemerintah Papua Barat berharap siswa yang lolos nantinya tidak hanya membawa nama sekolah.
Mereka juga menjadi perwakilan daerah dan budaya Papua Barat dalam kompetisi nasional.
Karena itu, prestasi diharapkan berjalan bersama kemampuan memperkenalkan identitas lokal.
Generasi muda mempunyai posisi penting dalam pelestarian seni.
Apabila anak-anak tidak lagi mempelajari budaya daerah, sebagian tradisi berpotensi semakin sulit diwariskan.
Sekolah dapat menjadi ruang yang membantu proses tersebut.
Melalui kegiatan seni dan kompetisi, siswa diberikan alasan untuk mempelajari kembali berbagai bentuk budaya.
FLS3N menjadi salah satu sarana yang menghubungkan pendidikan, seni dan pengembangan karakter.
Sebanyak 107 pelajar yang tampil di Papua Barat telah melewati tahap awal dari perjalanan tersebut.
Kini mereka bersaing bukan hanya untuk memperebutkan tiket nasional, tetapi juga menunjukkan kemampuan menghasilkan karya yang mencerminkan kreativitas dan identitas generasi muda Papua Barat.