Jelaskan pentingnya membersihkan tubuh secara teratur, mengganti pakaian dalam, dan menjaga kebersihan organ reproduksi.
Ajarkan pula bahwa organ intim merupakan bagian pribadi tubuh yang perlu dihormati dan tidak boleh disentuh orang lain tanpa alasan yang sah, misalnya pemeriksaan medis dengan prosedur dan pendampingan yang tepat.
Anak laki-laki dapat mengalami ereksi spontan selama pubertas, bahkan tanpa rangsangan seksual.
Jelaskan bahwa hal tersebut dapat terjadi sebagai bagian dari respons biologis tubuh.
Anak tidak perlu merasa bersalah atau malu, tetapi perlu memahami pentingnya menjaga privasi dan menghormati batasan diri sendiri maupun orang lain.
Pendampingan pubertas sebaiknya tidak dilakukan hanya melalui satu kali percakapan. Anak membutuhkan informasi yang diberikan secara bertahap, sesuai usia, dan berdasarkan pertanyaan yang mereka ajukan.
Berikut beberapa cara yang dapat diterapkan.
Jangan menunggu anak mengalami menstruasi pertama atau mimpi basah baru memberikan penjelasan.
Mulailah mengenalkan perubahan tubuh sejak anak memasuki usia sekolah.
Gunakan bahasa yang sederhana, tidak menakut-nakuti, dan sesuai tingkat pemahamannya.
Ajarkan nama bagian tubuh dengan istilah yang tepat, termasuk payudara, penis, testis, dan vagina.
Penggunaan istilah yang benar membantu anak memahami tubuhnya serta menyampaikan keluhan kesehatan dengan lebih jelas.
Orang tua tidak perlu menggunakan istilah yang membuat anak merasa malu atau menganggap bagian tubuh tertentu sebagai sesuatu yang kotor.
Anak mungkin mengajukan pertanyaan yang membuat orang tua merasa canggung.
Misalnya, mengapa tubuh berubah, bagaimana menstruasi terjadi, atau mengapa anak laki-laki mengalami mimpi basah.
Jawablah dengan tenang dan sesuai usia.
Jika belum mengetahui jawabannya, orang tua dapat mengatakan bahwa mereka akan mencari informasi dari sumber kesehatan yang terpercaya.
Pubertas dapat meningkatkan produksi keringat dan minyak pada kulit.
Karena itu, anak perlu mulai membangun kebiasaan menjaga kebersihan diri, seperti:
Kebiasaan tersebut membantu anak merasa nyaman dengan perubahan tubuhnya.
Jangan membandingkan perkembangan fisik anak dengan teman atau saudara kandungnya.
Ada anak yang mengalami pertumbuhan lebih cepat dan ada pula yang berkembang lebih lambat.
Orang tua perlu menjelaskan bahwa setiap tubuh mempunyai waktu perkembangan masing-masing.
Hindari komentar yang mempermalukan anak mengenai berat badan, tinggi badan, bentuk tubuh, jerawat, atau perubahan fisik lainnya.
Anak perlu mengetahui bahwa setiap orang mempunyai hak atas tubuhnya sendiri.
Jelaskan bagian tubuh pribadi, pentingnya menjaga privasi, serta hak untuk menolak sentuhan yang membuatnya tidak nyaman.
Ajarkan anak untuk segera bercerita kepada orang dewasa yang dipercaya apabila mengalami sentuhan tidak pantas, ancaman, atau permintaan untuk merahasiakan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.
Materi edukasi pubertas dari Kementerian Kesehatan RI juga menekankan pentingnya mengenali perubahan tubuh dan memahami bagian tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain secara tidak pantas.
Pendidikan reproduksi tidak perlu diberikan sekaligus dalam percakapan yang panjang.
Mulailah dari pengenalan tubuh, perubahan pubertas, menstruasi, mimpi basah, kebersihan organ reproduksi, batasan pribadi, hingga tanggung jawab menjaga kesehatan.
Gunakan sumber pendidikan kesehatan yang kredibel agar anak tidak hanya memperoleh informasi dari teman atau media sosial.
Anak perlu merasa bahwa orang tua dapat diajak berbicara tanpa takut dipermalukan atau dimarahi.
Jika anak menyampaikan kekhawatiran mengenai perubahan tubuh atau pengalaman sosialnya, dengarkan terlebih dahulu.
Jangan langsung memberikan ceramah panjang atau menganggap pertanyaannya sebagai perilaku yang tidak pantas.
Hubungan yang terbuka akan membantu anak lebih mudah mencari bantuan ketika menghadapi masalah selama masa remaja.
Meskipun pubertas merupakan proses normal, terdapat kondisi tertentu yang perlu mendapatkan pemeriksaan medis.
Menurut IDAI, pubertas yang dimulai terlalu dini atau terlambat dapat menjadi tanda adanya kondisi kesehatan yang perlu dievaluasi.
Berikut beberapa kondisi yang perlu diperhatikan.
| Kondisi | Batas Usia yang Perlu Diwaspadai |
|---|---|
| Tanda pubertas pada anak perempuan | Muncul sebelum usia 8 tahun |
| Tanda pubertas pada anak laki-laki | Muncul sebelum usia 9 tahun |
| Belum ada perkembangan payudara pada anak perempuan | Usia 13 tahun |
| Belum ada pembesaran testis pada anak laki-laki | Usia 14 tahun |
Pubertas yang dimulai sebelum batas tersebut dapat mengarah pada pubertas prekoks atau pubertas dini.
Sementara itu, belum munculnya tanda awal pubertas pada usia yang disebutkan dapat mengarah pada keterlambatan pubertas dan perlu diperiksa.
Orang tua juga perlu berkonsultasi apabila:
Pemeriksaan dapat dilakukan oleh dokter anak, terutama dokter spesialis anak konsultan endokrinologi apabila diperlukan.
Jangan memberikan obat atau hormon untuk mempercepat maupun memperlambat pubertas tanpa pemeriksaan dan rekomendasi dokter.
Pubertas sering kali lebih mudah dikenali melalui perubahan tubuh. Namun, perkembangan emosional dan sosial juga membutuhkan perhatian yang sama.
Anak yang sedang mengalami pubertas mulai membangun identitas diri, memahami hubungan sosial, dan mengembangkan kemampuan mengambil keputusan.
Jika orang tua hanya memperhatikan perubahan fisik, kebutuhan emosional anak mungkin terabaikan.
Sebaliknya, jika seluruh perubahan perilaku dianggap sebagai akibat hormon, orang tua dapat melewatkan persoalan lain seperti perundungan, tekanan akademik, kecemasan, atau masalah kesehatan mental.
Karena itu, pendampingan pubertas sebaiknya mencakup kesehatan fisik, perkembangan emosional, pendidikan reproduksi, serta pembentukan hubungan keluarga yang aman.
Masa pubertas merupakan bagian alami dari perjalanan perkembangan anak menuju dewasa. Perubahan fisik, menstruasi pertama, mimpi basah, perubahan suara, dan perkembangan emosi merupakan bagian dari proses biologis yang perlu dipahami sejak dini.
Orang tua mempunyai peran penting untuk memastikan anak memperoleh informasi yang benar dan tidak merasa malu ketika mengalami perubahan tubuh.
Pendampingan dapat dimulai dengan percakapan sederhana, pengenalan kebersihan diri, pendidikan kesehatan reproduksi, dan penghormatan terhadap privasi anak.
Selain itu, orang tua perlu memahami bahwa setiap anak mempunyai waktu perkembangan yang berbeda. Perbandingan dengan teman sebaya justru dapat menimbulkan rasa tidak percaya diri dan kecemasan.
Apabila terdapat tanda pubertas terlalu dini, terlambat, atau perubahan yang mengkhawatirkan, pemeriksaan medis perlu dilakukan agar anak memperoleh penanganan yang sesuai.
Pada akhirnya, keberhasilan mendampingi anak memasuki masa pubertas bukan hanya tentang menjelaskan perubahan tubuh, tetapi juga membangun kepercayaan agar anak merasa aman untuk bertanya, bercerita, dan mengambil keputusan yang sehat bagi dirinya.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir