Ketika pulang untuk liburan, mereka mungkin merindukan teman sekamar, pengasuh, kegiatan belajar, atau suasana kebersamaan di pesantren.
Anak bisa terlihat lebih sering membicarakan teman-temannya, ingin kembali lebih cepat, atau merasa kurang nyaman karena tidak mempunyai aktivitas bersama seperti biasanya.
Hal tersebut dapat menjadi bagian dari proses penyesuaian ketika anak berpindah dari lingkungan pesantren ke rumah.
Penelitian Endi, Utami, dan Alwan (2026) dalam Qalamuna: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama menunjukkan bahwa penyesuaian diri dan dukungan sosial berkaitan dengan tingkat homesickness pada santri baru.
Meskipun penelitian tersebut membahas homesickness ketika anak berada jauh dari rumah, temuannya juga membantu menjelaskan pentingnya hubungan sosial dalam proses penyesuaian santri.
Selama berada di pesantren, anak harus mengikuti jadwal dan aturan yang telah ditetapkan.
Ketika liburan tiba, mereka mungkin ingin menikmati waktu yang lebih fleksibel, seperti bermain, menonton hiburan, bertemu teman lama, atau melakukan aktivitas yang sebelumnya terbatas.
Sebagian anak dapat terlihat lebih sulit diajak mengikuti aturan rumah karena sedang menikmati perubahan suasana.
Orang tua perlu memberikan ruang untuk bersantai, tetapi tetap menjaga batasan yang wajar.
Liburan bukan berarti seluruh tanggung jawab anak harus dihilangkan. Sebaliknya, masa tersebut dapat digunakan untuk membangun keseimbangan antara istirahat, rekreasi, keluarga, dan kegiatan produktif.
Anak yang tinggal di pesantren sering berada pada fase perkembangan menuju remaja atau remaja awal.
Pada tahap ini, mereka mulai mengembangkan identitas diri, membutuhkan privasi, dan ingin mempunyai kendali lebih besar terhadap kehidupannya.
Perubahan tersebut dapat terlihat melalui sikap yang lebih mandiri, keinginan untuk menentukan pilihan sendiri, atau kebutuhan untuk menghabiskan waktu tanpa selalu ditemani keluarga.
Orang tua perlu membedakan perubahan yang berkaitan dengan perkembangan usia dari perubahan yang mungkin dipengaruhi pengalaman tertentu di pesantren.
Jangan langsung menganggap anak menjadi sulit diatur hanya karena mulai mempunyai pendapat dan keinginan sendiri.
Tidak semua perubahan perilaku menunjukkan adanya masalah. Sebagian justru mencerminkan perkembangan positif setelah anak menjalani kehidupan berasrama.
Berikut beberapa contoh perubahan yang mungkin ditemukan orang tua.
| Perubahan Perilaku | Hal yang Perlu Dipahami |
|---|---|
| Lebih mandiri mengurus kebutuhan pribadi | Kebiasaan tanggung jawab yang terbentuk di asrama |
| Terbiasa bangun pagi | Adaptasi terhadap jadwal pesantren |
| Lebih menjaga kebersihan | Kebiasaan hidup bersama dan aturan asrama |
| Lebih pendiam | Bisa membutuhkan waktu untuk kembali menyesuaikan diri |
| Ingin lebih banyak beristirahat | Kemungkinan membutuhkan pemulihan setelah rutinitas padat |
| Sering menceritakan teman pesantren | Hubungan sosial yang terbentuk selama tinggal di asrama |
| Ingin mengatur aktivitas sendiri | Perkembangan kemandirian dan kebutuhan otonomi |
| Sulit mengikuti aturan rumah | Perbedaan rutinitas antara rumah dan pesantren |
Tabel tersebut merupakan gambaran umum, bukan ukuran untuk menentukan kondisi psikologis anak.
Orang tua perlu melihat perubahan secara menyeluruh, termasuk apakah anak terlihat bahagia, nyaman, sehat, dan tetap mempunyai hubungan yang baik dengan keluarga.
Ketika anak kembali ke rumah, orang tua perlu membantu proses penyesuaian tanpa menghilangkan kebiasaan positif yang telah terbentuk selama di pesantren.
Berikut beberapa cara yang dapat diterapkan.
Kepulangan anak sebaiknya menjadi momen untuk membangun kembali kedekatan keluarga.
Hindari langsung memberikan banyak pertanyaan mengenai nilai, hafalan, pelanggaran, atau aktivitas selama di pesantren.
Berikan waktu kepada anak untuk beristirahat dan menikmati suasana rumah.
Orang tua dapat memulai dengan percakapan sederhana, seperti menanyakan perjalanan, kondisi kesehatan, atau hal yang paling dirindukan selama berada di rumah.
Sikap tersebut membantu anak merasa bahwa rumah tetap menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk kembali.
Anak mungkin ingin menceritakan pengalaman menyenangkan, tetapi ada pula pengalaman yang belum siap disampaikan.
Orang tua sebaiknya tidak memaksa anak menjawab seluruh pertanyaan dalam satu waktu.
Cobalah bertanya secara terbuka:
Jika anak mulai bercerita, dengarkan tanpa langsung menyela atau memberikan penilaian.
Apabila anak mengungkapkan pengalaman yang membuatnya takut atau tidak aman, tanggapi dengan serius dan berikan kesempatan untuk menjelaskan sesuai kenyamanannya.
Jika anak menjadi lebih mandiri setelah tinggal di pesantren, orang tua dapat membantu mempertahankan kebiasaan tersebut.
Misalnya, anak tetap bertanggung jawab terhadap kebersihan kamar, mengatur perlengkapan pribadi, membantu pekerjaan rumah, dan menjaga waktu ibadah.
Namun, penerapannya perlu dilakukan secara wajar.
Jangan sampai orang tua justru mengubah seluruh rumah menjadi lingkungan yang penuh aturan seperti asrama.
Kebiasaan positif sebaiknya dipertahankan melalui kesepakatan keluarga, bukan dengan memaksakan seluruh sistem kehidupan pesantren di rumah.
Masa liburan juga merupakan kesempatan bagi anak untuk memulihkan energi setelah menjalani aktivitas pendidikan.
Berikan waktu untuk tidur cukup, bermain, berolahraga, membaca, atau melakukan kegiatan yang disukai.
Namun, orang tua tetap perlu membantu anak menjaga keseimbangan agar waktu liburan tidak sepenuhnya dihabiskan untuk tidur atau menggunakan gawai.
Buat kesepakatan sederhana mengenai waktu istirahat, kegiatan keluarga, dan aktivitas pribadi.
Kegiatan bersama dapat membantu membangun kembali kedekatan antara anak dan anggota keluarga.
Orang tua dapat mengajak anak memasak, berbelanja, membersihkan rumah, berolahraga, atau mengunjungi saudara.
Kegiatan tersebut tidak harus direncanakan secara besar-besaran.
Hal sederhana seperti makan bersama atau berbincang sebelum tidur dapat memberikan kesempatan bagi anak untuk kembali merasa dekat dengan keluarganya.
Hindari komentar seperti:
Perbandingan seperti itu dapat membuat anak merasa bahwa perubahan dirinya tidak diterima.
Orang tua sebaiknya melihat perkembangan anak berdasarkan kondisi dan kebutuhannya saat ini.
Jika terdapat perilaku yang perlu diperbaiki, sampaikan secara spesifik dan ajak anak mencari solusi bersama.
Memberikan kebebasan selama liburan bukan berarti anak tidak lagi mempunyai tanggung jawab.
Orang tua dapat menyusun aturan sederhana mengenai waktu tidur, penggunaan gawai, kegiatan ibadah, pekerjaan rumah, dan aktivitas bersama keluarga.
Libatkan anak dalam menyusun kesepakatan tersebut agar ia memahami alasan di balik setiap aturan.
Dengan demikian, anak dapat belajar menyesuaikan diri dengan kehidupan rumah tanpa merasa bahwa dirinya sedang dipaksa mengikuti dua sistem yang saling bertentangan.
Orang tua perlu memperhatikan apakah perubahan perilaku anak hanya bersifat sementara atau justru menunjukkan persoalan yang lebih serius.
Jika anak terus-menerus terlihat sedih, menarik diri, sulit tidur, mengalami ketakutan, atau menunjukkan perubahan kesehatan yang mengganggu aktivitasnya, jangan menganggapnya sebagai akibat biasa dari kehidupan pesantren.
Ajak anak berbicara dengan tenang dan cari tahu apakah terdapat pengalaman yang membuatnya tidak nyaman.
Jika perubahan tersebut menetap atau mengganggu kesehariannya, pertimbangkan konsultasi dengan psikolog anak dan remaja atau tenaga kesehatan yang kompeten.
Tidak selalu.
Perubahan kebiasaan setelah anak kembali dari lingkungan asrama dapat menjadi bagian dari proses penyesuaian terhadap lingkungan keluarga.
Namun, orang tua tetap perlu memperhatikan perubahan yang terjadi secara tiba-tiba, berlangsung lama, atau disertai gejala yang mengganggu kehidupan anak.
Beberapa tanda yang perlu mendapatkan perhatian lebih antara lain:
Tanda-tanda tersebut tidak cukup untuk menentukan diagnosis tertentu. Namun, kondisi tersebut menjadi alasan bagi orang tua untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Jika anak mengungkapkan pengalaman kekerasan atau pelecehan, utamakan keselamatan dan jangan memaksanya kembali ke lingkungan yang diduga membahayakan sebelum situasinya dievaluasi.
Sebagian orang tua mungkin menghadapi situasi ketika anak sudah berada di rumah, tetapi mulai menunjukkan penolakan untuk kembali ke pesantren menjelang berakhirnya masa liburan.
Hal ini dapat terjadi karena anak merasa nyaman berkumpul bersama keluarga, merindukan suasana rumah, atau belum siap kembali menjalani jadwal asrama.
Namun, penolakan tersebut juga dapat berkaitan dengan masalah yang dialami anak selama tinggal di pesantren.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak langsung memaksa atau menyetujui permintaan anak tanpa mencari tahu penyebabnya.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah:
Pertama, tanyakan alasan anak tidak ingin kembali.
Apakah karena masih ingin bersama keluarga, merasa lelah, mengalami kesulitan belajar, atau ada pengalaman tidak menyenangkan di pesantren?
Kedua, periksa apakah terdapat masalah keselamatan.
Jika anak menyampaikan dugaan kekerasan, perundungan, atau ancaman, prioritaskan perlindungan anak dan lakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Ketiga, komunikasikan kondisi anak dengan pihak pesantren.
Jika persoalannya berkaitan dengan adaptasi atau kegiatan belajar, diskusikan kemungkinan pendampingan dan penyesuaian.
Keempat, libatkan anak dalam pengambilan keputusan.
Anak perlu memahami pilihan yang tersedia dan mempunyai kesempatan menyampaikan pendapatnya.
Kelima, evaluasi kembali kesesuaian pesantren.
Jika persoalan tidak dapat diselesaikan atau lingkungan tidak mendukung kebutuhan anak, orang tua dapat mempertimbangkan alternatif pendidikan lain.
Jangan menjadikan kepulangan dari pesantren sebagai alasan untuk memberikan label gagal kepada anak. Pendidikan seharusnya membantu anak berkembang, bukan membuatnya merasa tidak mempunyai pilihan ketika menghadapi masalah.
Masa liburan santri bukan hanya waktu untuk beristirahat dari kegiatan pesantren, tetapi juga kesempatan bagi keluarga untuk memperkuat hubungan emosional.
Selama tinggal di asrama, anak mempunyai pengalaman, pertemanan, dan kebiasaan baru. Ketika kembali ke rumah, orang tua perlu memberikan ruang agar anak dapat berbagi pengalaman tersebut tanpa merasa dihakimi.
Kedekatan keluarga dapat dibangun melalui kegiatan sederhana, seperti makan bersama, berbincang, beribadah, berolahraga, atau menghabiskan waktu dengan anggota keluarga lainnya.
Orang tua juga dapat menggunakan masa liburan untuk mengetahui perkembangan anak, baik dalam hal pendidikan, kemandirian, maupun kebutuhan emosionalnya.
Dengan komunikasi yang baik, keluarga dapat menjadi tempat bagi anak untuk merasa diterima sekaligus belajar menjaga tanggung jawab yang telah dibangun selama berada di pesantren.
Anak yang menunjukkan perubahan perilaku setelah pulang dari pesantren tidak selalu mengalami masalah. Sebagian perubahan dapat mencerminkan perkembangan kemandirian, kedisiplinan, dan kemampuan menyesuaikan diri dengan kehidupan berasrama.
Namun, ada pula perubahan yang membutuhkan perhatian, terutama apabila disertai kecemasan berat, penarikan diri, gangguan kesehatan, atau pengalaman yang membuat anak merasa tidak aman.
Orang tua perlu memahami bahwa kehidupan pesantren dan rumah mempunyai lingkungan, aturan, serta kebiasaan yang berbeda. Anak membutuhkan kesempatan untuk menyesuaikan diri kembali tanpa harus kehilangan kebiasaan positif yang telah dibangun.
Melalui komunikasi terbuka, pendampingan yang konsisten, dan perhatian terhadap kondisi emosional anak, masa liburan dapat menjadi kesempatan untuk memperkuat hubungan keluarga.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan pesantren tidak hanya terlihat dari perubahan kedisiplinan atau kemampuan anak menjalankan kegiatan asrama, tetapi juga dari bagaimana anak berkembang menjadi pribadi yang mandiri, sehat secara emosional, dan mampu menjalin hubungan yang baik dengan lingkungan sekitarnya.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir