Parenting
M. Panji Maulana

Anak Sering Membandingkan Dirinya dengan Teman? Ini Cara Orang Tua Menumbuhkan Rasa Percaya Diri

Anak Sering Membandingkan Dirinya dengan Teman? Ini Cara Orang Tua Menumbuhkan Rasa Percaya Diri

08 November 2026 | 13:23

Bisa jadi anak membutuhkan perlindungan dan pendampingan lebih lanjut.

Tanda Anak Mulai Kehilangan Kepercayaan Diri karena Sering Membandingkan Diri

Perbandingan sosial tidak selalu disampaikan secara langsung. Sebagian anak menunjukkan perubahan melalui ucapan, emosi, maupun perilaku.

Berikut beberapa tanda yang perlu diperhatikan.

Tanda yang TerlihatContoh Perilaku
Sering merendahkan diriMengatakan dirinya tidak pintar atau tidak menarik
Mudah iriKesal ketika teman mendapatkan penghargaan
Takut mencobaMenghindari kegiatan karena merasa tidak akan mampu
Terlalu fokus pada penilaianSelalu menanyakan apakah dirinya lebih baik daripada teman
Tidak puas terhadap pencapaianMerasa gagal meskipun sudah memperoleh hasil baik
Sering meminta barang yang dimiliki temanMerasa kurang karena tidak mempunyai barang serupa
Menarik diriMenghindari kegiatan karena merasa tidak percaya diri
Terlalu mencari pujianSelalu membutuhkan pengakuan dari orang lain

Satu atau dua perilaku tersebut belum tentu menunjukkan masalah kepercayaan diri yang serius.

Orang tua perlu melihat apakah perilaku terjadi berulang, semakin kuat, dan mulai memengaruhi hubungan sosial, kegiatan sekolah, atau kesejahteraan emosional anak.

Apa Dampak Jika Anak Terus-Menerus Membandingkan Dirinya dengan Orang Lain?

Perbandingan sosial dapat mempunyai dampak berbeda, tergantung cara anak memaknainya.

Jika digunakan sebagai inspirasi, anak dapat terdorong mempelajari kemampuan baru. Namun, jika terus menghasilkan perasaan tidak mampu, perbandingan dapat menghambat perkembangan kepercayaan diri.

Beberapa dampak yang perlu diwaspadai antara lain:

1. Anak Merasa Tidak Pernah Cukup Baik

Anak dapat merasa bahwa selalu ada orang lain yang lebih pintar, lebih cantik, lebih populer, atau lebih berhasil.

Akibatnya, pencapaian yang diperoleh sendiri terasa tidak berarti.

2. Anak Takut Menghadapi Tantangan

Jika anak selalu merasa kalah dibandingkan orang lain, ia mungkin menghindari kegiatan yang berpotensi memperlihatkan kekurangannya.

Misalnya, tidak mau mengikuti lomba karena takut kalah atau menolak mencoba kegiatan baru karena khawatir tidak sebagus teman.

3. Motivasi Belajar Menurun

Anak dapat kehilangan motivasi ketika merasa usahanya tidak akan mampu menyamai pencapaian orang lain.

Penelitian Dijkstra dan rekan-rekan (2008) menunjukkan bahwa perbandingan sosial dalam lingkungan kelas dapat berkaitan dengan penurunan konsep diri akademik dan munculnya respons emosional negatif.

4. Anak Sulit Menerima Kekurangan Diri

Anak mungkin terlalu berfokus pada hal yang tidak dimilikinya sehingga kesulitan menghargai kemampuan dan perkembangan pribadi.

5. Hubungan Pertemanan Menjadi Tidak Sehat

Perbandingan yang berlebihan dapat memunculkan rasa iri, persaingan tidak sehat, atau kesulitan memberikan apresiasi terhadap keberhasilan teman.

Karena itu, anak perlu belajar bahwa keberhasilan orang lain tidak harus dianggap sebagai ancaman bagi dirinya.

8 Cara Orang Tua Membantu Anak Menghargai Dirinya Sendiri

Membangun kepercayaan diri tidak berarti membuat anak selalu merasa lebih hebat daripada orang lain.

Tujuannya adalah membantu anak memahami bahwa dirinya mempunyai nilai, kemampuan, dan kesempatan berkembang tanpa harus terus-menerus membandingkan diri dengan teman.

Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan.

1. Dengarkan Perasaan Anak Tanpa Langsung Menyangkal

Ketika anak mengatakan dirinya tidak sepintar teman atau tidak semenarik orang lain, jangan langsung menjawab:

"Ah, kamu tidak begitu."

"Kamu jauh lebih hebat daripada dia."

"Kamu harus percaya diri."

Respons tersebut mungkin bermaksud baik, tetapi belum tentu membantu anak memahami perasaannya.

Cobalah bertanya:

"Apa yang membuat kamu merasa begitu?"

"Apakah ada kejadian di sekolah yang membuat kamu merasa kurang percaya diri?"

"Apa yang sebenarnya kamu inginkan?"

Dengan mendengarkan terlebih dahulu, orang tua dapat mengetahui sumber perbandingan dan kebutuhan emosional anak.

2. Bantu Anak Mengenali Kelebihan dan Potensinya

Ajak anak mengenali hal-hal yang disukai dan mampu dilakukannya.

Misalnya:

  • Senang menggambar.
  • Mudah memahami cerita.
  • Suka membantu teman.
  • Mampu bekerja sama.
  • Senang bermain musik.
  • Tekun merawat hewan.
  • Mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi.

Jangan hanya berfokus pada kemampuan akademik.

Anak mempunyai berbagai potensi yang dapat berkembang melalui pengalaman dan latihan.

3. Bandingkan Perkembangan Anak dengan Dirinya Sendiri

Alih-alih membandingkan anak dengan teman, bantu ia melihat perkembangan dirinya dari waktu ke waktu.

Contohnya:

"Dulu kamu masih kesulitan membaca satu halaman. Sekarang kamu sudah bisa menyelesaikan satu cerita."

"Dulu kamu belum berani bertanya kepada guru. Sekarang kamu sudah mulai mencoba."

Pendekatan ini membantu anak memahami bahwa kemajuan dapat diukur melalui usaha dan perkembangan pribadi.

4. Berikan Pujian yang Spesifik dan Realistis

Pujian sebaiknya tidak hanya diberikan ketika anak berhasil memperoleh prestasi.

Hargai juga usaha, ketekunan, keberanian mencoba, dan sikap baik yang ditunjukkan.

Contohnya:

"Ibu menghargai usahamu menyelesaikan tugas sampai selesai."

"Kamu sudah berusaha memperbaiki kesalahan tadi."

"Bagus, kamu mau membantu teman yang kesulitan."

AAP menjelaskan bahwa pengakuan terhadap usaha, kemampuan, dan pencapaian yang realistis dapat membantu membangun harga diri anak.

5. Ajarkan Anak Menghargai Keberhasilan Orang Lain

Anak perlu memahami bahwa teman yang berhasil bukan berarti dirinya gagal.

Ketika teman memperoleh penghargaan atau prestasi, ajak anak memberikan apresiasi.

Misalnya:

"Temanmu berhasil memenangkan lomba. Kita bisa ikut senang dan belajar dari usahanya."

Jika anak merasa iri, bantu ia memahami bahwa perasaan tersebut boleh muncul, tetapi tidak harus membuatnya merendahkan orang lain.

6. Kurangi Kebiasaan Membandingkan di Lingkungan Keluarga

Orang tua perlu mengevaluasi cara berbicara kepada anak.

Hindari membandingkan nilai, penampilan, kemampuan, atau perilaku anak dengan saudara maupun teman.

Jika ingin mendorong perubahan, sampaikan perilaku yang perlu diperbaiki secara spesifik.

Misalnya, daripada mengatakan "Kamu tidak serajin temanmu", lebih baik mengatakan:

"Mari kita buat jadwal belajar supaya tugasmu bisa selesai lebih teratur."

Dengan cara tersebut, anak memperoleh arahan yang jelas tanpa merasa dirinya lebih rendah daripada orang lain.

7. Bantu Anak Menggunakan Media Sosial secara Sehat

Jika anak sudah menggunakan media sosial, orang tua perlu mendampingi aktivitas digitalnya.

Beberapa hal yang dapat dilakukan:

  • Diskusikan bahwa konten internet tidak selalu menggambarkan kehidupan sebenarnya.
  • Ajarkan anak mengenali foto atau video yang telah diedit.
  • Batasi paparan konten yang membuat anak merasa rendah diri.
  • Dorong anak mengikuti akun yang memberikan informasi positif dan bermanfaat.
  • Sediakan waktu untuk kegiatan di luar layar.
  • Bangun kebiasaan berdiskusi mengenai pengalaman anak di dunia digital.

AAP mengingatkan bahwa konten media sosial yang berfokus pada penampilan ideal dapat memengaruhi citra tubuh sebagian anak dan remaja.

Karena itu, pendampingan digital perlu dilakukan tanpa sekadar melarang seluruh aktivitas daring.

8. Berikan Kesempatan Anak Mencoba Berbagai Aktivitas

Anak membutuhkan pengalaman untuk menemukan bidang yang sesuai dengan minat dan kemampuannya.

Orang tua dapat mengenalkan berbagai aktivitas, seperti olahraga, seni, membaca, kegiatan sosial, eksperimen sains, atau keterampilan praktis.

Jangan langsung menuntut anak menjadi yang terbaik.

Biarkan anak mencoba, mengalami kesulitan, dan menentukan aktivitas yang benar-benar disukainya.

Pengalaman tersebut membantu anak membangun rasa mampu melalui proses, bukan hanya melalui pengakuan orang lain.

Bagaimana Jika Anak Minder karena Penampilan atau Kondisi Ekonomi Keluarga?

Tidak semua perbandingan sosial berkaitan dengan nilai atau prestasi.

Sebagian anak merasa kurang percaya diri karena bentuk tubuh, warna kulit, pakaian, telepon genggam, kendaraan, atau kondisi ekonomi keluarga.

Situasi tersebut perlu ditangani dengan hati-hati karena dapat berkaitan dengan citra diri dan penerimaan sosial.

Orang tua dapat melakukan beberapa hal berikut:

Pertama, hindari merendahkan kondisi anak.

Jangan menjadikan bentuk tubuh, warna kulit, atau kondisi ekonomi sebagai bahan candaan yang dapat melukai perasaan anak.

Kedua, jelaskan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh penampilan dan barang yang dimiliki.

Bantu anak memahami bahwa kepemilikan materi bukan ukuran tunggal keberhasilan maupun kualitas seseorang.

Ketiga, ajarkan perawatan diri yang sehat.

Bantu anak menjaga kebersihan, kesehatan, dan penampilan tanpa menanamkan tuntutan untuk selalu mengikuti standar kecantikan tertentu.

Keempat, perhatikan lingkungan pergaulan.

Jika anak diejek atau dikucilkan karena kondisi fisik maupun ekonomi, orang tua perlu berkomunikasi dengan pihak sekolah.

Kelima, berikan pengalaman positif.

Libatkan anak dalam kegiatan yang membuatnya merasa mampu, diterima, dan mempunyai kontribusi.

Kapan Anak Perlu Mendapatkan Bantuan Psikolog?

Perasaan minder sesekali merupakan hal yang dapat terjadi selama perkembangan anak.

Namun, orang tua perlu lebih waspada apabila anak terus-menerus merasa tidak berharga atau mengalami perubahan perilaku yang mengganggu kehidupan sehari-hari.

Pertimbangkan konsultasi dengan psikolog anak apabila:

  1. Anak terus-menerus merendahkan dirinya sendiri.
  2. Anak menghindari kegiatan sekolah atau pertemanan karena merasa tidak mampu.
  3. Anak mengalami kecemasan berlebihan mengenai penampilan atau prestasi.
  4. Anak menunjukkan perubahan suasana hati yang menetap.
  5. Anak menarik diri dari lingkungan sosial.
  6. Anak mengalami gangguan tidur atau perubahan nafsu makan yang berkepanjangan.
  7. Anak menunjukkan gejala depresi atau menyampaikan keinginan menyakiti diri.

Jika anak mengungkapkan keinginan menyakiti diri, segera cari bantuan profesional dan pastikan keselamatannya.

Psikolog dapat membantu memahami sumber masalah dan memberikan pendampingan sesuai kebutuhan anak.

Kepercayaan Diri Anak Tidak Harus Dibangun dengan Mengalahkan Orang Lain

Membandingkan diri dengan orang lain merupakan bagian dari proses seseorang memahami kemampuan dan posisinya dalam lingkungan sosial.

Namun, anak perlu belajar bahwa perbandingan bukan satu-satunya cara untuk menilai dirinya.

Teman yang lebih pintar, lebih populer, atau mempunyai kemampuan tertentu tidak membuat anak menjadi kurang berharga.

Setiap anak mempunyai proses perkembangan, pengalaman, dan potensi yang berbeda.

Orang tua dapat membantu dengan membangun komunikasi yang terbuka, mengurangi kebiasaan membandingkan, menghargai usaha, dan memberikan kesempatan kepada anak untuk menemukan kelebihannya.

Selain itu, penting untuk mengajarkan anak menghargai keberhasilan orang lain tanpa merasa harus selalu bersaing.

Pada akhirnya, tujuan pengasuhan bukan membuat anak merasa lebih unggul daripada teman-temannya, tetapi membantu mereka mengenali nilai dirinya, menerima kekurangan, dan terus berkembang tanpa kehilangan rasa percaya diri.

Referensi

  1. American Academy of Pediatrics. (2024).
LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
2 / 3
HALAMAN SEBELUMNYA Sebelumnya LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Parenting anak minder kepercayaan diri anak social comparison Psikologi Anak Penerimaan Diri Pola Asuh

Komentar Pengguna