Perbandingan sosial tidak selalu disampaikan secara langsung. Sebagian anak menunjukkan perubahan melalui ucapan, emosi, maupun perilaku.
Berikut beberapa tanda yang perlu diperhatikan.
| Tanda yang Terlihat | Contoh Perilaku |
|---|---|
| Sering merendahkan diri | Mengatakan dirinya tidak pintar atau tidak menarik |
| Mudah iri | Kesal ketika teman mendapatkan penghargaan |
| Takut mencoba | Menghindari kegiatan karena merasa tidak akan mampu |
| Terlalu fokus pada penilaian | Selalu menanyakan apakah dirinya lebih baik daripada teman |
| Tidak puas terhadap pencapaian | Merasa gagal meskipun sudah memperoleh hasil baik |
| Sering meminta barang yang dimiliki teman | Merasa kurang karena tidak mempunyai barang serupa |
| Menarik diri | Menghindari kegiatan karena merasa tidak percaya diri |
| Terlalu mencari pujian | Selalu membutuhkan pengakuan dari orang lain |
Satu atau dua perilaku tersebut belum tentu menunjukkan masalah kepercayaan diri yang serius.
Orang tua perlu melihat apakah perilaku terjadi berulang, semakin kuat, dan mulai memengaruhi hubungan sosial, kegiatan sekolah, atau kesejahteraan emosional anak.
Perbandingan sosial dapat mempunyai dampak berbeda, tergantung cara anak memaknainya.
Jika digunakan sebagai inspirasi, anak dapat terdorong mempelajari kemampuan baru. Namun, jika terus menghasilkan perasaan tidak mampu, perbandingan dapat menghambat perkembangan kepercayaan diri.
Beberapa dampak yang perlu diwaspadai antara lain:
Anak dapat merasa bahwa selalu ada orang lain yang lebih pintar, lebih cantik, lebih populer, atau lebih berhasil.
Akibatnya, pencapaian yang diperoleh sendiri terasa tidak berarti.
Jika anak selalu merasa kalah dibandingkan orang lain, ia mungkin menghindari kegiatan yang berpotensi memperlihatkan kekurangannya.
Misalnya, tidak mau mengikuti lomba karena takut kalah atau menolak mencoba kegiatan baru karena khawatir tidak sebagus teman.
Anak dapat kehilangan motivasi ketika merasa usahanya tidak akan mampu menyamai pencapaian orang lain.
Penelitian Dijkstra dan rekan-rekan (2008) menunjukkan bahwa perbandingan sosial dalam lingkungan kelas dapat berkaitan dengan penurunan konsep diri akademik dan munculnya respons emosional negatif.
Anak mungkin terlalu berfokus pada hal yang tidak dimilikinya sehingga kesulitan menghargai kemampuan dan perkembangan pribadi.
Perbandingan yang berlebihan dapat memunculkan rasa iri, persaingan tidak sehat, atau kesulitan memberikan apresiasi terhadap keberhasilan teman.
Karena itu, anak perlu belajar bahwa keberhasilan orang lain tidak harus dianggap sebagai ancaman bagi dirinya.
Membangun kepercayaan diri tidak berarti membuat anak selalu merasa lebih hebat daripada orang lain.
Tujuannya adalah membantu anak memahami bahwa dirinya mempunyai nilai, kemampuan, dan kesempatan berkembang tanpa harus terus-menerus membandingkan diri dengan teman.
Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan.
Ketika anak mengatakan dirinya tidak sepintar teman atau tidak semenarik orang lain, jangan langsung menjawab:
"Ah, kamu tidak begitu."
"Kamu jauh lebih hebat daripada dia."
"Kamu harus percaya diri."
Respons tersebut mungkin bermaksud baik, tetapi belum tentu membantu anak memahami perasaannya.
Cobalah bertanya:
"Apa yang membuat kamu merasa begitu?"
"Apakah ada kejadian di sekolah yang membuat kamu merasa kurang percaya diri?"
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan?"
Dengan mendengarkan terlebih dahulu, orang tua dapat mengetahui sumber perbandingan dan kebutuhan emosional anak.
Ajak anak mengenali hal-hal yang disukai dan mampu dilakukannya.
Misalnya:
Jangan hanya berfokus pada kemampuan akademik.
Anak mempunyai berbagai potensi yang dapat berkembang melalui pengalaman dan latihan.
Alih-alih membandingkan anak dengan teman, bantu ia melihat perkembangan dirinya dari waktu ke waktu.
Contohnya:
"Dulu kamu masih kesulitan membaca satu halaman. Sekarang kamu sudah bisa menyelesaikan satu cerita."
"Dulu kamu belum berani bertanya kepada guru. Sekarang kamu sudah mulai mencoba."
Pendekatan ini membantu anak memahami bahwa kemajuan dapat diukur melalui usaha dan perkembangan pribadi.
Pujian sebaiknya tidak hanya diberikan ketika anak berhasil memperoleh prestasi.
Hargai juga usaha, ketekunan, keberanian mencoba, dan sikap baik yang ditunjukkan.
Contohnya:
"Ibu menghargai usahamu menyelesaikan tugas sampai selesai."
"Kamu sudah berusaha memperbaiki kesalahan tadi."
"Bagus, kamu mau membantu teman yang kesulitan."
AAP menjelaskan bahwa pengakuan terhadap usaha, kemampuan, dan pencapaian yang realistis dapat membantu membangun harga diri anak.
Anak perlu memahami bahwa teman yang berhasil bukan berarti dirinya gagal.
Ketika teman memperoleh penghargaan atau prestasi, ajak anak memberikan apresiasi.
Misalnya:
"Temanmu berhasil memenangkan lomba. Kita bisa ikut senang dan belajar dari usahanya."
Jika anak merasa iri, bantu ia memahami bahwa perasaan tersebut boleh muncul, tetapi tidak harus membuatnya merendahkan orang lain.
Orang tua perlu mengevaluasi cara berbicara kepada anak.
Hindari membandingkan nilai, penampilan, kemampuan, atau perilaku anak dengan saudara maupun teman.
Jika ingin mendorong perubahan, sampaikan perilaku yang perlu diperbaiki secara spesifik.
Misalnya, daripada mengatakan "Kamu tidak serajin temanmu", lebih baik mengatakan:
"Mari kita buat jadwal belajar supaya tugasmu bisa selesai lebih teratur."
Dengan cara tersebut, anak memperoleh arahan yang jelas tanpa merasa dirinya lebih rendah daripada orang lain.
Jika anak sudah menggunakan media sosial, orang tua perlu mendampingi aktivitas digitalnya.
Beberapa hal yang dapat dilakukan:
AAP mengingatkan bahwa konten media sosial yang berfokus pada penampilan ideal dapat memengaruhi citra tubuh sebagian anak dan remaja.
Karena itu, pendampingan digital perlu dilakukan tanpa sekadar melarang seluruh aktivitas daring.
Anak membutuhkan pengalaman untuk menemukan bidang yang sesuai dengan minat dan kemampuannya.
Orang tua dapat mengenalkan berbagai aktivitas, seperti olahraga, seni, membaca, kegiatan sosial, eksperimen sains, atau keterampilan praktis.
Jangan langsung menuntut anak menjadi yang terbaik.
Biarkan anak mencoba, mengalami kesulitan, dan menentukan aktivitas yang benar-benar disukainya.
Pengalaman tersebut membantu anak membangun rasa mampu melalui proses, bukan hanya melalui pengakuan orang lain.
Tidak semua perbandingan sosial berkaitan dengan nilai atau prestasi.
Sebagian anak merasa kurang percaya diri karena bentuk tubuh, warna kulit, pakaian, telepon genggam, kendaraan, atau kondisi ekonomi keluarga.
Situasi tersebut perlu ditangani dengan hati-hati karena dapat berkaitan dengan citra diri dan penerimaan sosial.
Orang tua dapat melakukan beberapa hal berikut:
Pertama, hindari merendahkan kondisi anak.
Jangan menjadikan bentuk tubuh, warna kulit, atau kondisi ekonomi sebagai bahan candaan yang dapat melukai perasaan anak.
Kedua, jelaskan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh penampilan dan barang yang dimiliki.
Bantu anak memahami bahwa kepemilikan materi bukan ukuran tunggal keberhasilan maupun kualitas seseorang.
Ketiga, ajarkan perawatan diri yang sehat.
Bantu anak menjaga kebersihan, kesehatan, dan penampilan tanpa menanamkan tuntutan untuk selalu mengikuti standar kecantikan tertentu.
Keempat, perhatikan lingkungan pergaulan.
Jika anak diejek atau dikucilkan karena kondisi fisik maupun ekonomi, orang tua perlu berkomunikasi dengan pihak sekolah.
Kelima, berikan pengalaman positif.
Libatkan anak dalam kegiatan yang membuatnya merasa mampu, diterima, dan mempunyai kontribusi.
Perasaan minder sesekali merupakan hal yang dapat terjadi selama perkembangan anak.
Namun, orang tua perlu lebih waspada apabila anak terus-menerus merasa tidak berharga atau mengalami perubahan perilaku yang mengganggu kehidupan sehari-hari.
Pertimbangkan konsultasi dengan psikolog anak apabila:
Jika anak mengungkapkan keinginan menyakiti diri, segera cari bantuan profesional dan pastikan keselamatannya.
Psikolog dapat membantu memahami sumber masalah dan memberikan pendampingan sesuai kebutuhan anak.
Membandingkan diri dengan orang lain merupakan bagian dari proses seseorang memahami kemampuan dan posisinya dalam lingkungan sosial.
Namun, anak perlu belajar bahwa perbandingan bukan satu-satunya cara untuk menilai dirinya.
Teman yang lebih pintar, lebih populer, atau mempunyai kemampuan tertentu tidak membuat anak menjadi kurang berharga.
Setiap anak mempunyai proses perkembangan, pengalaman, dan potensi yang berbeda.
Orang tua dapat membantu dengan membangun komunikasi yang terbuka, mengurangi kebiasaan membandingkan, menghargai usaha, dan memberikan kesempatan kepada anak untuk menemukan kelebihannya.
Selain itu, penting untuk mengajarkan anak menghargai keberhasilan orang lain tanpa merasa harus selalu bersaing.
Pada akhirnya, tujuan pengasuhan bukan membuat anak merasa lebih unggul daripada teman-temannya, tetapi membantu mereka mengenali nilai dirinya, menerima kekurangan, dan terus berkembang tanpa kehilangan rasa percaya diri.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir