Parenting
M. Panji Maulana

Anak Sering Meminta Pindah dari Pesantren? Kapan Harus Bertahan dan Kapan Perlu Dievaluasi?

Anak Sering Meminta Pindah dari Pesantren? Kapan Harus Bertahan dan Kapan Perlu Dievaluasi?

08 November 2026 | 09:16

KebonCinta.com – Memasukkan anak ke pondok pesantren merupakan keputusan besar bagi keluarga. Orang tua biasanya berharap anak memperoleh pendidikan agama yang lebih mendalam, belajar mandiri, membangun kedisiplinan, dan tumbuh dengan karakter yang baik. Namun, tidak semua anak dapat langsung merasa nyaman menjalani kehidupan di lingkungan pesantren.

Sebagian orang tua menghadapi situasi ketika anak berulang kali menelepon dan meminta dijemput, menangis saat berbicara dengan keluarga, mengeluh tidak betah, bahkan meminta agar dipindahkan ke sekolah lain. Ada pula anak yang awalnya terlihat baik-baik saja, tetapi setelah beberapa bulan mulai menunjukkan perubahan perilaku dan kehilangan semangat mengikuti kegiatan pesantren.

Situasi tersebut sering membuat orang tua berada dalam dilema. Di satu sisi, mereka ingin anak belajar menghadapi tantangan dan tidak mudah menyerah. Di sisi lain, mereka khawatir keputusan untuk memaksa anak bertahan justru membuat kondisi emosionalnya semakin buruk.

Dalam psikologi perkembangan, perubahan lingkungan dan perpisahan dari keluarga dapat menimbulkan kesulitan penyesuaian diri. Kondisi ini dapat disertai homesickness, yaitu perasaan rindu rumah yang muncul ketika seseorang berada jauh dari lingkungan keluarga dan tempat yang sudah dikenalnya.

Namun, keinginan pindah pesantren tidak selalu disebabkan oleh homesickness. Kesulitan mengikuti pelajaran, konflik dengan teman, ketidakcocokan pola pembinaan, perundungan, hingga dugaan kekerasan juga perlu diperiksa.

Karena itu, orang tua tidak sebaiknya langsung menyuruh anak bertahan ataupun buru-buru memindahkannya. Keputusan perlu didasarkan pada penyebab, tingkat kesulitan yang dialami, keamanan lingkungan, dan kondisi psikologis anak.

Lantas, mengapa anak sering meminta pindah dari pesantren? Kapan orang tua sebaiknya memberikan kesempatan untuk beradaptasi dan kapan perlu mempertimbangkan pemindahan? Berikut penjelasannya.

Mengapa Anak Sering Meminta Pindah dari Pesantren?

Keinginan anak untuk meninggalkan pesantren dapat muncul karena berbagai alasan. Sebagian berkaitan dengan proses adaptasi yang masih berlangsung, sedangkan sebagian lainnya dapat menunjukkan adanya persoalan yang membutuhkan penanganan lebih serius.

Berikut beberapa penyebab yang perlu dipahami orang tua.

1. Anak Belum Mampu Beradaptasi dengan Kehidupan Pesantren

Kehidupan pesantren mempunyai pola yang berbeda dibandingkan kehidupan anak di rumah.

Santri harus mengikuti jadwal kegiatan, tinggal bersama teman dalam satu asrama, mematuhi tata tertib, serta menjalankan berbagai tanggung jawab secara mandiri.

Bagi anak yang sebelumnya selalu mendapatkan bantuan orang tua, perubahan tersebut dapat terasa cukup berat.

Anak mungkin belum terbiasa mengatur waktu, mencuci pakaian sendiri, menjaga perlengkapan pribadi, bangun lebih awal, atau mengikuti kegiatan yang sudah dijadwalkan.

Ketika menghadapi berbagai tuntutan tersebut secara bersamaan, sebagian anak merasa kewalahan dan mulai berpikir bahwa kehidupan di pesantren tidak sesuai dengan dirinya.

Dalam kondisi seperti ini, orang tua perlu membantu anak memahami bahwa kemampuan beradaptasi berkembang secara bertahap. Namun, pendampingan dari pengasuh dan pihak pesantren juga diperlukan agar proses tersebut tidak menjadi beban yang berlebihan.

2. Anak Mengalami Homesickness atau Rindu Rumah

Homesickness merupakan salah satu pengalaman yang dapat muncul ketika anak harus tinggal jauh dari keluarga.

Anak mungkin merindukan orang tua, saudara, suasana rumah, makanan kesukaan, atau kebiasaan yang sebelumnya dilakukan setiap hari.

Perasaan tersebut dapat semakin kuat ketika anak baru memasuki pesantren, terutama jika belum mempunyai teman dekat atau belum merasa menjadi bagian dari lingkungan asrama.

Penelitian Endi, Utami, dan Alwan (2026) dalam Qalamuna: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama menemukan bahwa penyesuaian diri dan dukungan sosial berkaitan dengan tingkat homesickness pada santri baru.

Penelitian tersebut melibatkan 81 santri baru di salah satu pesantren di Bandung. Hasilnya menunjukkan bahwa kemampuan penyesuaian diri dan dukungan sosial yang lebih baik berkaitan dengan tingkat homesickness yang lebih rendah.

Artinya, anak tidak hanya membutuhkan waktu untuk terbiasa dengan lingkungan baru, tetapi juga membutuhkan hubungan yang mendukung, baik dari teman, pengasuh, maupun keluarga.

3. Anak Kesulitan Menjalin Pertemanan

Tinggal di pesantren berarti anak harus membangun hubungan sosial dengan orang-orang yang mempunyai latar belakang dan kebiasaan berbeda.

Tidak semua anak langsung mampu menemukan teman dekat. Ada yang membutuhkan waktu untuk mengenal lingkungan, memahami kebiasaan teman sekamar, dan menyesuaikan diri dengan kehidupan kelompok.

Sebagian anak mungkin merasa kesepian, tidak mempunyai teman berbicara, atau kesulitan mengikuti dinamika pergaulan di asrama.

Jika kondisi tersebut berlangsung lama, anak dapat merasa bahwa dirinya tidak diterima dan semakin ingin meninggalkan pesantren.

Penelitian Yasmin dan Langerya (2022) dalam Jurnal Ilmu Perilaku yang melibatkan 193 siswa baru sekolah berasrama menunjukkan bahwa kualitas pertemanan dan self-compassion berperan dalam menjelaskan variasi homesickness pada siswa.

Temuan tersebut memperlihatkan pentingnya dukungan sosial dalam membantu anak merasa lebih nyaman di lingkungan pesantren.

4. Anak Merasa Tertekan dengan Jadwal dan Tuntutan Belajar

Kegiatan pesantren sering kali menggabungkan pembelajaran formal, pendidikan agama, ibadah berjamaah, kegiatan asrama, serta aktivitas pengembangan diri.

Bagi sebagian anak, banyaknya kegiatan tersebut dapat menimbulkan kelelahan fisik dan mental, terutama ketika belum terbiasa mengatur waktu dan energi.

Anak mungkin kesulitan membagi waktu antara sekolah, mengaji, menghafal, mengerjakan tugas, dan beristirahat.

Apabila tuntutan kegiatan tidak diimbangi dengan waktu istirahat dan pendampingan yang memadai, anak dapat kehilangan motivasi dan mulai merasa tidak sanggup menjalani kehidupan pesantren.

Orang tua perlu mencari tahu apakah persoalan tersebut berasal dari kesulitan mengatur waktu, beban pembelajaran, kurangnya istirahat, atau pola kegiatan yang memang perlu dievaluasi.

5. Anak Mengalami Perundungan atau Perlakuan Tidak Menyenangkan

Ini merupakan salah satu penyebab yang tidak boleh dianggap sepele.

Anak mungkin meminta pindah karena mengalami ejekan, intimidasi, pengucilan, kekerasan fisik, ancaman, atau perlakuan tidak pantas dari teman maupun pihak yang mempunyai kewenangan di lingkungan pesantren.

Dalam beberapa situasi, anak tidak langsung berani menceritakan pengalaman tersebut karena takut mendapat ancaman, merasa malu, atau khawatir tidak dipercaya.

Perubahan perilaku seperti ketakutan berlebihan, menarik diri, tidak mau kembali ke asrama, atau terlihat sangat tertekan ketika membicarakan seseorang perlu diperhatikan.

Jika terdapat dugaan kekerasan, orang tua tidak boleh menganggapnya sebagai bagian dari proses pendewasaan atau ujian agar anak lebih kuat.

Keselamatan anak harus menjadi prioritas.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 5
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Parenting anak ingin pindah pesantren anak keluar pondok pola asuh santri Homesickness Pendidikan Pesantren

Komentar Pengguna