Parenting
M. Panji Maulana

Anak Sering Meminta Pindah dari Pesantren? Kapan Harus Bertahan dan Kapan Perlu Dievaluasi?

Anak Sering Meminta Pindah dari Pesantren? Kapan Harus Bertahan dan Kapan Perlu Dievaluasi?

08 November 2026 | 09:16

Evaluasi Kualitas Pendampingan Pesantren

Orang tua perlu mengetahui apakah pesantren mempunyai sistem pendampingan yang memadai.

Beberapa hal yang dapat diperiksa meliputi:

  • Ketersediaan pengasuh yang dapat dihubungi.
  • Sistem pengaduan santri.
  • Mekanisme penanganan konflik dan perundungan.
  • Pendampingan konseling atau bimbingan.
  • Pengawasan kehidupan asrama.
  • Ketersediaan layanan kesehatan.
  • Kebijakan perlindungan santri.

Pesantren yang mempunyai sistem pendampingan baik akan lebih siap membantu anak melewati kesulitan adaptasi maupun persoalan lain.

6. Pertimbangkan Konsultasi dengan Psikolog

Jika anak terus mengalami kesedihan, kecemasan, kesulitan tidur, atau perubahan perilaku yang mengganggu kehidupannya, pertimbangkan konsultasi dengan psikolog anak dan remaja.

Psikolog dapat membantu memahami apakah anak mengalami homesickness, kecemasan, tekanan penyesuaian diri, atau persoalan psikologis lain.

Penelitian Rahmah dan Hasanah (2025) dalam Character: Jurnal Penelitian Psikologi menunjukkan bahwa konseling dapat membantu sebagian santri mengembangkan strategi menghadapi homesickness. Namun, pendekatannya perlu disesuaikan dengan kondisi individual karena tidak semua metode memberikan hasil yang sama bagi setiap anak.

7. Berikan Kesempatan kepada Anak untuk Terlibat dalam Keputusan

Keputusan pindah pesantren sebaiknya tidak hanya menjadi keputusan sepihak orang tua.

Anak perlu dilibatkan sesuai usia dan tingkat kematangannya.

Diskusikan pilihan yang tersedia, termasuk kemungkinan memperbaiki kondisi di pesantren saat ini, menyesuaikan program belajar, atau mencari lembaga pendidikan lain.

Dengan melibatkan anak, orang tua dapat membantu membangun rasa tanggung jawab terhadap keputusan pendidikan yang dijalani.

8. Jangan Menganggap Pindah sebagai Kegagalan

Apabila setelah evaluasi ternyata pesantren tidak sesuai dengan kebutuhan anak atau lingkungannya tidak aman, pindah bukan berarti anak gagal menjalani pendidikan.

Setiap anak mempunyai kebutuhan perkembangan yang berbeda. Tidak semua anak cocok dengan sistem pendidikan berasrama, dan hal tersebut bukan sesuatu yang perlu dipermalukan.

Orang tua dapat mencari lingkungan pendidikan lain yang lebih sesuai dengan kondisi, minat, dan kebutuhan anak.

Tujuan utama pendidikan bukan mempertahankan anak di satu lembaga dengan segala cara, melainkan memastikan anak memperoleh pendidikan yang baik dan lingkungan yang aman.

Kementerian Agama Perkuat Perlindungan Santri melalui Juknis Safeguarding 2026

Perlindungan santri menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan orang tua ketika memilih atau mengevaluasi pesantren.

Pada 5 November 2026, Kementerian Agama mengumumkan penerbitan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Transformasi Tata Kelola Sistem Perlindungan Santri atau Himayatu Thalabah melalui Model Safeguarding.

Petunjuk teknis tersebut ditetapkan melalui Keputusan Direktur Jenderal Pesantren Nomor 13 Tahun 2026 pada 2 November 2026.

Kebijakan ini menjadi pedoman bagi pesantren dalam membangun sistem perlindungan santri yang terintegrasi dengan tata kelola lembaga.

Salah satu hal penting yang diatur adalah penguatan saluran pelaporan, pendampingan korban, pengawasan, dan koordinasi penanganan dugaan kekerasan.

Kementerian Agama juga menjelaskan bahwa mekanisme pengaduan tidak hanya tersedia melalui jalur internal pesantren, tetapi juga melalui kanal eksternal, termasuk layanan AMAN dan SAPA 129.

Orang tua dapat mempelajari informasi mengenai sistem pengaduan melalui laman resmi berikut:

AMAN merupakan platform resmi Kementerian Agama untuk menerima laporan dugaan kekerasan di lembaga pendidikan agama dan keagamaan. Kanal tersebut dapat digunakan oleh korban, saksi, orang tua, maupun pihak lain yang mengetahui dugaan kekerasan.

Jika anak menghadapi ancaman keselamatan, orang tua tidak perlu menunggu penyelesaian internal pesantren sebelum mencari bantuan dari pihak berwenang.

Hal yang Perlu Diperiksa Orang Tua Sebelum Memindahkan Anak ke Pesantren Lain

Jika keputusan pindah telah dipertimbangkan, orang tua sebaiknya tidak terburu-buru memilih lembaga pengganti hanya berdasarkan popularitas atau rekomendasi orang lain.

Beberapa aspek berikut perlu diperiksa.

AspekHal yang Perlu Diperhatikan
KurikulumKesesuaian program pendidikan dengan kebutuhan anak
PengasuhKetersediaan pendamping dan kompetensi pengasuhan
KeamananPengawasan asrama dan mekanisme perlindungan santri
KesehatanAkses layanan kesehatan dan penanganan kondisi darurat
KonselingKetersediaan pendampingan psikologis atau bimbingan
KomunikasiAturan komunikasi antara santri dan keluarga
Lingkungan sosialBudaya pergaulan dan pola pembinaan santri
Kegiatan belajarKeseimbangan kegiatan akademik, keagamaan, dan istirahat
PengaduanSaluran pelaporan yang jelas dan aman
Keterlibatan anakKesempatan anak mengenal dan mempertimbangkan lingkungan baru

Jika memungkinkan, ajak anak mengunjungi pesantren yang menjadi pilihan sebelum mengambil keputusan.

Berikan kesempatan kepada anak untuk melihat lingkungan asrama, mengenal pengasuh, dan memperoleh gambaran mengenai kegiatan sehari-hari.

Dengan demikian, keputusan pindah dapat menjadi awal yang lebih baik, bukan sekadar memindahkan anak dari satu lingkungan ke lingkungan lain tanpa menyelesaikan persoalan sebelumnya.

Anak Meminta Pindah Pesantren, Orang Tua Perlu Mendengarkan Sebelum Memutuskan

Keinginan anak untuk pindah dari pesantren tidak seharusnya langsung dianggap sebagai bentuk ketidakmandirian atau kurangnya kesungguhan dalam belajar agama.

Ada anak yang memang membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan kehidupan asrama. Namun, ada pula anak yang menghadapi persoalan serius dan membutuhkan perlindungan serta perubahan lingkungan pendidikan.

Orang tua perlu membedakan kedua kondisi tersebut melalui komunikasi terbuka, pengamatan terhadap perubahan perilaku, koordinasi dengan pesantren, dan bantuan profesional apabila diperlukan.

Jika anak masih merasa aman dan kesulitannya berkaitan dengan proses penyesuaian diri, pendampingan dapat menjadi pilihan yang tepat. Namun, apabila terdapat dugaan kekerasan, ancaman, atau kondisi yang membahayakan kesehatan dan keselamatan, perlindungan anak harus menjadi prioritas.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan pesantren tidak hanya diukur dari kemampuan anak bertahan mengikuti aturan dan kegiatan asrama. Hal yang lebih penting adalah apakah anak dapat belajar, berkembang, membangun karakter, serta tumbuh dalam lingkungan yang aman dan mendukung.

Anak tidak harus dipaksa bertahan di setiap keadaan. Yang perlu dijaga adalah kesempatan mereka untuk mendapatkan pendidikan yang baik tanpa mengorbankan keselamatan dan kesejahteraan dirinya.

Referensi

  1. Anikoh, I., Rahman, A., & Sa'diah, H. (2026). Homesickness in new santri: Family attachment and social adjustment in Islamic boarding schools. Jurnal At-Taujih, 6(2). https://doi.org/10.30739/jbkid.v6i2.5586
  2. Endi, E., Utami, F. S., & Alwan, F. F. (2026). Far from home: Adjustment and social support related to homesickness among Islamic boarding school students. Qalamuna: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama, 18(1).
LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
3 / 5
HALAMAN SEBELUMNYA Sebelumnya LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Parenting anak ingin pindah pesantren anak keluar pondok pola asuh santri Homesickness Pendidikan Pesantren

Komentar Pengguna