KebonCinta.com – Anak yang menangis keras ketika keinginannya tidak dipenuhi merupakan situasi yang sering membuat orang tua kebingungan. Misalnya, anak meminta mainan baru, tetapi orang tua tidak membelikannya. Anak kemudian berteriak, menangis, duduk di lantai, atau menolak diajak pulang.
Keadaan seperti ini dapat terjadi di rumah, pusat perbelanjaan, maupun tempat umum. Sebagian orang tua akhirnya menuruti permintaan anak agar tangisannya berhenti, sedangkan sebagian lain merespons dengan bentakan atau ancaman hukuman.
Padahal, tantrum membutuhkan penanganan yang lebih terarah.
Dalam panduan pengasuhan UNICEF, tantrum dijelaskan sebagai salah satu bentuk kesulitan anak kecil dalam mengelola emosi yang sangat kuat. Kemampuan mengendalikan dorongan dan menyampaikan perasaan masih berkembang pada usia dini.
Namun, memahami emosi anak bukan berarti orang tua harus menyetujui semua permintaannya.
Orang tua tetap perlu menetapkan batasan yang jelas sambil membantu anak belajar menghadapi kekecewaan.
Pada usia dini, anak mulai mempunyai keinginan dan pilihan sendiri. Akan tetapi, kemampuan memahami alasan penolakan belum berkembang sepenuhnya.
Misalnya, seorang anak menginginkan mainan yang dilihat di toko. Baginya, keinginan tersebut terasa sangat penting.
Ketika orang tua mengatakan tidak, anak mungkin belum mempunyai keterampilan untuk mengungkapkan rasa kecewa secara tenang.
Selain itu, kondisi lapar, mengantuk, lelah, terlalu banyak stimulasi, atau perubahan rutinitas dapat membuat anak lebih mudah mengalami ledakan emosi.
American Academy of Pediatrics (AAP) menjelaskan bahwa tantrum dapat lebih mudah terjadi ketika anak sedang lelah, lapar, atau mengalami tekanan.
Karena itu, orang tua perlu melihat keseluruhan situasi, bukan hanya permintaan yang sedang ditolak.
Langkah pertama adalah mengendalikan respons orang tua.
Ketika anak mulai berteriak, keinginan untuk segera menghentikannya dapat membuat orang dewasa ikut berbicara dengan nada tinggi.
Namun, bentakan sering membuat suasana semakin tegang.
Orang tua dapat berbicara dengan suara rendah dan menggunakan kalimat singkat.
Misalnya:
"Ibu tahu kamu kecewa karena belum boleh membeli mainan itu."
Kalimat tersebut menunjukkan bahwa orang tua memahami perasaan anak.
Namun, memahami perasaan tidak berarti menyetujui permintaannya.
Jika orang tua merasa terlalu marah, ambil waktu singkat untuk menenangkan diri selama keselamatan anak tetap terjaga.
Ketika keputusan sudah dibuat berdasarkan alasan yang tepat, orang tua perlu menyampaikan batasan secara konsisten.
Misalnya, anak meminta tambahan waktu bermain gawai padahal kesepakatan sudah berakhir.
Orang tua dapat mengatakan:
"Kamu masih ingin bermain, tetapi waktunya sudah selesai. Sekarang kita simpan gawainya."
Hindari menjelaskan aturan menggunakan ceramah panjang ketika anak sedang menangis hebat.
AAP menyarankan penggunaan kalimat yang singkat dan tenang saat anak mengalami ledakan emosi.
Penjelasan lebih panjang dapat diberikan setelah anak mampu mendengarkan.
Anak perlu memahami bahwa setiap perasaan boleh dikenali, tetapi tidak semua tindakan dapat diterima.
Marah, sedih, dan kecewa merupakan bagian dari pengalaman manusia.
Namun, memukul orang lain, menendang, atau melempar benda berbahaya tetap harus dihentikan.
Orang tua dapat mengatakan:
"Kamu boleh marah, tetapi tidak boleh memukul."
Pernyataan tersebut memberikan dua pesan sekaligus.
Pertama, perasaan anak tidak dianggap salah.
Kedua, batas perilaku tetap berlaku.
Anak kemudian perlu dibantu menemukan cara lain untuk mengekspresikan kemarahan.
Jika tantrum disertai tindakan melempar benda keras, memukul, atau berlari ke tempat berbahaya, orang tua perlu segera menjaga keselamatan.
Pindahkan benda berbahaya dari jangkauan.
Jika berada di tepi jalan atau lokasi ramai, arahkan anak ke tempat yang lebih aman.
Namun, jangan menggunakan tindakan fisik kasar untuk menghukum anak.
Jika anak membutuhkan ruang untuk tenang, dampingi sesuai keadaan dan usianya.
Anak kecil yang sedang sangat tertekan sebaiknya tidak ditinggalkan sendirian dalam kondisi yang membahayakan.
Tujuannya adalah mencegah cedera sambil membantu emosi anak mereda.
Salah satu tantangan terbesar adalah mempertahankan batasan ketika anak terus menangis.
Misalnya, sejak awal orang tua menyatakan bahwa hari itu tidak akan membeli mainan.
Namun, setelah anak menangis selama beberapa menit, orang tua akhirnya membelikan mainan tersebut.
Jika keadaan ini terus berulang, anak mungkin belajar bahwa menangis keras dapat mengubah keputusan.
Karena itu, orang tua perlu bersikap konsisten.
Namun, konsistensi tidak berarti kaku terhadap semua keadaan.
Jika keputusan awal ternyata tidak tepat atau terdapat kebutuhan anak yang sebelumnya tidak diketahui, orang tua tetap dapat memperbaiki keputusan dengan alasan yang jelas.
Yang perlu dihindari adalah mengubah aturan semata-mata karena tekanan tantrum.
Baca Juga: Anak Sedang Tantrum? Psikolog Ingatkan Orang Tua Jangan Ikut Marah, Begini Cara Meresponsnya
Ketika anak mulai lebih tenang, pilihan sederhana dapat membantu mengembalikan perasaan memiliki kendali.
Misalnya, setelah waktu bermain selesai, orang tua dapat menawarkan:
"Kamu mau menyimpan mobil-mobilan dulu atau menyusun baloknya?"
Kedua pilihan tetap mengarah pada kegiatan membereskan mainan.
Namun, anak diberi kesempatan menentukan urutannya.
Cara ini berbeda dari membiarkan anak memilih apakah aturan akan berlaku atau tidak.
Pilihan sebaiknya sesuai usia dan kemampuan memahami instruksi.
Jangan memberikan terlalu banyak alternatif ketika anak masih sulit berkonsentrasi.
Setelah keadaan tenang, ajak anak mengenali apa yang terjadi.
Misalnya:
"Tadi kamu sedih karena ingin mainan itu."
Kemudian tanyakan apa yang dapat dilakukan ketika rasa kecewa datang lagi.
Anak dapat diajari meminta bantuan, menarik napas perlahan, atau menyampaikan keinginan menggunakan kata-kata.
Bagi anak yang masih sangat kecil, latihan dapat dilakukan melalui permainan dan contoh sederhana.
Jangan mengharapkan perubahan langsung setelah satu percakapan.
Kemampuan mengelola emosi berkembang melalui pendampingan dan pengulangan.
Ketika tantrum terjadi di tempat umum, orang tua mungkin merasa malu karena diperhatikan orang lain.
Namun, rasa malu tersebut tidak seharusnya dilampiaskan kepada anak.
Hindari kalimat seperti:
"Dasar anak nakal, semua orang melihat kamu!"
Kalimat tersebut tidak membantu anak memahami cara menghadapi kekecewaan.
Lebih baik fokus pada situasi saat itu.
Jika perlu, ajak anak menuju tempat yang lebih tenang tanpa mempermalukannya.
Setelah anak siap, jelaskan kembali batasan secara singkat.
Tantrum tidak selalu dapat dicegah, tetapi beberapa pemicu dapat dikurangi.
Misalnya, sebelum pergi ke toko, orang tua menjelaskan bahwa keluarga hanya akan membeli kebutuhan tertentu.
Anak dapat diberi tugas sederhana, seperti membantu mencari barang dalam daftar belanja.
Jika kegiatan akan berlangsung lama, perhatikan waktu makan dan istirahat.
Begitu pula sebelum mengakhiri permainan, berikan pemberitahuan yang sesuai kemampuan anak.
Persiapan tidak menjamin tantrum tidak terjadi, tetapi dapat membuat transisi lebih mudah dipahami.
Anak dapat menangis karena sakit, takut, lapar, atau membutuhkan pertolongan.
Tangisan juga dapat muncul ketika anak mengalami kesulitan komunikasi atau kondisi sensoris tertentu.
Karena itu, jangan langsung menganggap setiap tangisan sebagai tindakan untuk memperoleh keinginan.
Periksa apakah ada kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi.
Jika anak mengalami nyeri, demam, cedera, atau gejala lain, tangani sesuai keadaan kesehatan.
Kebutuhan keselamatan dan kesehatan tidak boleh diabaikan demi mempertahankan aturan perilaku.
Situasi pertama: Anak meminta mainan baru
Respons:
"Kamu suka mainan itu, ya.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir