AACAP menyarankan evaluasi lebih lanjut apabila ledakan emosi berlangsung sangat sering, disertai agresi fisik, atau tetap menjadi masalah ketika anak sudah lebih besar.
Pertimbangkan konsultasi dengan dokter anak atau psikolog apabila:
Dokter atau psikolog dapat membantu mengevaluasi penyebab perilaku, termasuk kemungkinan kesulitan pengaturan emosi, masalah perkembangan, kecemasan, atau kondisi lain.
Perlu diingat bahwa sering berteriak bukan diagnosis gangguan psikologis tertentu. Pemeriksaan harus dilakukan berdasarkan riwayat perkembangan dan kondisi anak secara menyeluruh.
Jika terdapat risiko langsung anak melukai dirinya sendiri atau orang lain, segera amankan situasi dan cari bantuan profesional.
Berteriak merupakan salah satu bentuk ekspresi yang dapat muncul ketika anak merasa marah, kecewa, frustrasi, atau ingin mendapatkan perhatian.
Pada anak usia dini, perilaku tersebut dapat berkaitan dengan kemampuan bahasa dan pengendalian emosi yang masih berkembang. Sementara itu, pada anak yang lebih besar, kebiasaan berteriak perlu dilihat berdasarkan pengalaman, lingkungan, dan kondisi emosionalnya.
Orang tua sebaiknya tidak langsung memberikan label anak nakal, kasar, atau sulit diatur. Sebaliknya, cari tahu penyebab perilaku dan ajarkan cara berkomunikasi yang lebih tepat.
Melalui respons yang tenang, batasan yang konsisten, perhatian positif, dan contoh komunikasi yang baik, anak dapat belajar menyampaikan perasaan tanpa harus meninggikan suara.
Namun, jika teriakan berlangsung sangat sering, intens, atau mengganggu kehidupan anak, jangan ragu mencari bantuan profesional.
Pada akhirnya, tujuan pengasuhan bukan membuat anak selalu diam, tetapi membantu mereka memahami emosi, menyampaikan kebutuhan, dan belajar menghargai orang lain melalui komunikasi yang sehat.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir