KebonCinta.com – Mendampingi anak belajar di rumah terkadang membutuhkan kesabaran ekstra. Ada anak yang baru membuka buku beberapa menit sudah beralih bermain, mudah terganggu oleh suara di sekitarnya, sering melamun, atau membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan pekerjaan rumah.
Sebagian orang tua mungkin menganggap anak kurang disiplin, malas belajar, atau terlalu banyak bermain. Padahal, kesulitan mempertahankan perhatian dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kurang tidur, lingkungan belajar yang tidak kondusif, tekanan emosional, hingga kesulitan memahami materi pelajaran.
Konsentrasi merupakan kemampuan mengarahkan dan mempertahankan perhatian terhadap suatu aktivitas dalam periode tertentu. Kemampuan ini berkembang secara bertahap seiring bertambahnya usia dan kematangan anak.
Karena itu, kemampuan fokus anak usia taman kanak-kanak tentu berbeda dengan anak sekolah dasar maupun remaja. Orang tua tidak sebaiknya menuntut semua anak mampu duduk diam dan belajar dalam durasi yang sama.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga menjelaskan bahwa kesulitan belajar dapat berkaitan dengan berbagai kondisi, termasuk gangguan belajar, gangguan pendengaran, dan gangguan perkembangan tertentu. Bahkan, anak yang mengalami anemia akibat kekurangan zat besi dapat menunjukkan gejala mudah lelah dan sulit berkonsentrasi.
Lantas, mengapa anak sulit fokus ketika belajar? Bagaimana membedakan gangguan konsentrasi biasa dengan kemungkinan ADHD? Berikut penyebab, tanda yang perlu diperhatikan, serta 10 cara orang tua membantu meningkatkan konsentrasi anak.
Kesulitan berkonsentrasi tidak selalu disebabkan oleh kurangnya motivasi. Anak bisa saja ingin belajar, tetapi mengalami hambatan untuk mempertahankan perhatian atau memahami tugas yang sedang dikerjakan.
Berikut beberapa penyebab yang perlu diketahui orang tua.
Tidur mempunyai peran penting dalam perkembangan otak, kemampuan mengingat, dan pengaturan perhatian.
Anak yang sering tidur larut malam atau mempunyai kualitas tidur buruk dapat mengalami kesulitan berkonsentrasi ketika mengikuti pelajaran.
American Academy of Pediatrics (AAP) menjelaskan bahwa kurang tidur berkaitan dengan masalah perhatian, perubahan perilaku, dan gangguan suasana hati.
Anak mungkin terlihat sering melamun, mudah marah, mengantuk ketika belajar, atau tidak mampu menyelesaikan tugas dengan baik.
Karena itu, orang tua perlu memperhatikan durasi dan kualitas tidur anak, bukan hanya jumlah waktu yang dihabiskan untuk belajar.
Anak membutuhkan lingkungan yang mendukung agar dapat mempertahankan perhatian.
Televisi yang menyala, suara percakapan, notifikasi telepon genggam, atau mainan yang berada di sekitar meja belajar dapat mengalihkan perhatian.
Pada anak yang masih mengembangkan kemampuan pengendalian diri, gangguan kecil dapat membuatnya kehilangan fokus dan sulit kembali mengerjakan tugas.
Lingkungan belajar yang terlalu ramai juga dapat membuat anak membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami materi.
Penggunaan gawai yang tidak teratur dapat mengurangi waktu anak untuk melakukan aktivitas yang membutuhkan perhatian berkelanjutan, seperti membaca, menggambar, dan menyelesaikan tugas.
Konten digital yang berganti dengan cepat juga dapat membuat anak terbiasa menerima rangsangan visual dan suara secara terus-menerus.
Namun, penting dipahami bahwa tidak tepat menyimpulkan penggunaan gawai sebagai penyebab langsung ADHD atau gangguan perhatian.
Orang tua sebaiknya melihat durasi penggunaan, jenis konten, waktu pemakaian, serta apakah aktivitas digital telah menggantikan tidur, bermain aktif, membaca, dan interaksi langsung.
Terkadang anak terlihat tidak fokus bukan karena tidak mampu memperhatikan, tetapi karena tidak memahami apa yang sedang dipelajari.
Misalnya, anak terus mengalihkan perhatian ketika mengerjakan soal matematika karena belum memahami konsep dasarnya.
Begitu pula ketika anak kesulitan membaca instruksi, memahami bacaan, atau menyelesaikan tugas menulis.
IDAI menjelaskan bahwa gangguan belajar dapat membuat anak membutuhkan usaha lebih besar dan waktu lebih panjang untuk menyelesaikan pekerjaan akademik dibandingkan teman sebayanya.
Jika kesulitan tersebut tidak dikenali, anak dapat terlihat bosan, menghindari tugas, atau menunjukkan perilaku yang mengganggu kegiatan belajar.
Masalah keluarga, konflik dengan teman, perundungan, tekanan akademik, atau pengalaman tidak menyenangkan di sekolah dapat memengaruhi konsentrasi.
Anak mungkin terus memikirkan persoalan yang dialami sehingga sulit mengarahkan perhatian pada materi pelajaran.
Sebagian anak juga menunjukkan perubahan perilaku, seperti menjadi lebih pendiam, mudah tersinggung, atau tidak bersemangat mengikuti kegiatan.
Karena itu, orang tua perlu memperhatikan kondisi emosional anak, bukan hanya menilai kemampuan akademiknya.
Anak yang mempunyai jadwal terlalu padat dapat mengalami kelelahan.
Aktivitas sekolah, les, pekerjaan rumah, dan kegiatan tambahan yang berlangsung tanpa waktu istirahat cukup dapat membuat anak kehilangan energi untuk belajar.
Sebaliknya, anak juga membutuhkan aktivitas fisik dan permainan untuk mendukung kesehatan serta perkembangan secara keseluruhan.
Orang tua perlu menyeimbangkan waktu belajar, bermain, bergerak, dan beristirahat.
Kesulitan melihat tulisan di papan, membaca buku, atau mendengar instruksi guru dapat membuat anak tampak tidak memperhatikan.
Misalnya, anak sering mendekatkan wajah ke buku, menyipitkan mata, meminta pengulangan instruksi, atau terlihat tidak merespons ketika dipanggil.
Jika terdapat tanda tersebut, orang tua perlu mempertimbangkan pemeriksaan penglihatan dan pendengaran.
Jangan langsung menganggap anak tidak fokus sebelum memastikan bahwa ia mampu menerima informasi dengan baik.
Beberapa kondisi kesehatan dapat memengaruhi energi dan kemampuan konsentrasi anak.
Salah satunya adalah anemia defisiensi besi.
IDAI menjelaskan bahwa anak dengan kekurangan zat besi dapat menunjukkan gejala seperti mudah lelah, lesu, sulit berkonsentrasi, dan berkurangnya semangat bermain.
Selain itu, gangguan tidur, penyakit kronis, dan kondisi kesehatan lainnya juga dapat memengaruhi perhatian.
Jika kesulitan fokus disertai pucat, mudah lelah, pusing, atau keluhan kesehatan lainnya, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter.
Kemampuan mempertahankan perhatian berkembang sesuai usia dan karakteristik masing-masing anak.
Anak yang lebih kecil umumnya lebih mudah berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain dibandingkan anak yang lebih besar.
Namun, apabila kesulitan memperhatikan berlangsung terus-menerus, terlihat dalam berbagai situasi, dan mengganggu kegiatan sehari-hari, orang tua perlu melakukan evaluasi lebih lanjut.
Salah satu kondisi yang dapat berkaitan dengan kesulitan perhatian adalah Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) atau gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH).
Kesulitan konsentrasi dapat terlihat melalui beberapa perilaku dalam kegiatan sehari-hari.
Namun, satu atau dua tanda saja belum cukup untuk menunjukkan bahwa anak mengalami gangguan perhatian.
Berikut beberapa perilaku yang dapat diperhatikan.
| Perilaku Anak | Contoh Situasi |
|---|---|
| Mudah terdistraksi | Berhenti belajar ketika mendengar suara kecil |
| Sering melamun | Terlihat tidak memperhatikan penjelasan guru |
| Sulit menyelesaikan tugas | Berpindah ke aktivitas lain sebelum pekerjaan selesai |
| Sering lupa instruksi | Tidak mengingat langkah yang baru dijelaskan |
| Kehilangan barang | Sering lupa menyimpan buku atau alat tulis |
| Menghindari tugas panjang | Menolak membaca atau mengerjakan soal yang membutuhkan waktu |
| Terburu-buru | Membuat kesalahan karena kurang memperhatikan detail |
| Sulit mengatur kegiatan | Tidak tahu tugas mana yang harus dikerjakan lebih dahulu |
Orang tua perlu mengamati apakah perilaku tersebut hanya muncul ketika anak belajar atau juga terjadi saat bermain, mengikuti kegiatan keluarga, dan berinteraksi dengan teman.
Tidak.
Kesulitan berkonsentrasi tidak otomatis menunjukkan bahwa anak mengalami ADHD.
ADHD merupakan gangguan perkembangan saraf yang ditandai pola menetap berupa kurang perhatian dan/atau hiperaktivitas-impulsivitas yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan serta mengganggu fungsi kehidupan.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), anak dengan ADHD dapat menunjukkan beberapa karakteristik, seperti:
Gejala ADHD dapat muncul dalam tiga presentasi, yaitu:
1. Predominantly Inattentive Presentation
Anak lebih dominan menunjukkan kesulitan mempertahankan perhatian, mengikuti instruksi, mengatur tugas, dan menyelesaikan aktivitas.
2. Predominantly Hyperactive-Impulsive Presentation
Anak lebih dominan menunjukkan aktivitas berlebihan dan perilaku impulsif, seperti sulit duduk diam, sering menyela, atau kesulitan menunggu giliran.
3.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir