Rutinitas yang konsisten membantu anak mengenali bahwa waktu tidur sudah dekat.
Orang tua dapat menyusun kegiatan sederhana, seperti:
Lakukan kegiatan tersebut dengan urutan yang relatif sama setiap malam.
National Health Service (NHS) merekomendasikan rutinitas yang tenang dan dapat diprediksi untuk membantu anak lebih mudah beristirahat.
Sebagian anak merasa lebih nyaman ketika tidur bersama benda yang dikenalnya.
Misalnya, boneka kesayangan, bantal kecil, atau selimut yang biasa digunakan.
Benda tersebut dapat menjadi bagian dari rutinitas tidur dan membantu anak merasa lebih tenang.
Namun, penggunaan benda di tempat tidur harus memperhatikan usia serta prinsip keselamatan tidur. Untuk bayi, hindari menempatkan boneka, bantal, dan selimut longgar di area tidur karena dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan.
Jika anak takut gelap, orang tua dapat mengenalkan kondisi pencahayaan yang lebih redup secara perlahan.
Mulailah dengan kegiatan singkat pada siang hari, misalnya bermain di ruangan dengan lampu yang sedikit diredupkan.
Setelah anak merasa nyaman, latihan dapat dilakukan dalam durasi lebih panjang dan situasi yang berbeda.
Jangan langsung mematikan seluruh lampu jika anak masih sangat takut.
Pendekatan bertahap dapat membantu anak memperoleh pengalaman bahwa suasana gelap atau redup tidak selalu berarti ada sesuatu yang membahayakan.
Jika anak terbiasa meminta orang tua berada di sampingnya sampai tertidur, pendampingan dapat dikurangi secara bertahap.
Misalnya:
Lakukan perubahan sesuai kesiapan anak.
AAP menekankan bahwa kecemasan berpisah membutuhkan pendekatan yang penuh kasih sayang dan konsisten.
Jangan meninggalkan anak yang sedang mengalami ketakutan berat tanpa dukungan hanya untuk memaksanya mandiri.
Perhatikan konten yang dilihat anak sebelum tidur.
Hindari film horor, video dengan adegan kekerasan, permainan yang menakutkan, atau cerita yang membuat anak terus memikirkan hal negatif.
Sebagai gantinya, pilih cerita yang menenangkan dan sesuai usia.
Jika anak sudah terlanjur melihat sesuatu yang menakutkan, ajak berbicara pada siang hari agar ia dapat memahami perbedaan antara cerita dan kenyataan.
Berikut contoh rutinitas sederhana yang dapat disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak.
| Waktu | Aktivitas |
|---|---|
| 18.00 | Makan malam |
| 18.30 | Bermain ringan bersama keluarga |
| 19.00 | Mandi dan membersihkan diri |
| 19.15 | Menggosok gigi dan memakai pakaian tidur |
| 19.30 | Membaca cerita atau berbincang |
| 19.45 | Berdoa dan mempersiapkan kamar |
| 20.00 | Waktu tidur |
Jadwal tersebut hanya contoh dan perlu disesuaikan dengan kebutuhan tidur anak.
Jika anak membutuhkan waktu tidur lebih awal, orang tua dapat memajukan seluruh rutinitas.
Anak yang terbangun karena mimpi buruk atau ketakutan membutuhkan respons yang menenangkan.
Orang tua dapat mendekati anak, memastikan kondisinya aman, dan memberikan kesempatan untuk menceritakan apa yang dialami.
Jika anak mengingat mimpi buruk, jelaskan bahwa mimpi tersebut bukan kejadian nyata.
Namun, jika anak mengalami night terror, responsnya berbeda.
NHS menjelaskan bahwa ketika mengalami night terror, anak sebenarnya masih berada dalam keadaan tidur. Mereka dapat berteriak, bergerak, atau terlihat sangat ketakutan, tetapi biasanya tidak sepenuhnya sadar dan tidak mengingat kejadian tersebut.
Dalam kondisi tersebut:
Jika episode terjadi berulang kali, menimbulkan risiko cedera, atau disertai keluhan lain, konsultasikan kepada dokter.
Sebagian besar ketakutan masa kanak-kanak dapat berkurang dengan dukungan dan rutinitas yang tepat.
Namun, orang tua perlu mempertimbangkan bantuan profesional apabila:
AAP menyarankan orang tua berkonsultasi dengan dokter apabila kecemasan anak mulai mengganggu aktivitas normal, termasuk tidur sendiri, bermain, dan bersekolah.
Dokter anak atau psikolog dapat membantu mengevaluasi apakah ketakutan masih berkaitan dengan perkembangan normal atau membutuhkan pendampingan khusus.
Ketakutan terhadap gelap dan keinginan untuk tidur bersama orang tua dapat terjadi selama proses perkembangan anak.
Sebagian anak membutuhkan waktu lebih panjang untuk merasa aman ketika berada di kamar sendiri.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak memaksa, mengejek, atau membandingkan anak dengan teman sebaya yang sudah mampu tidur sendiri.
Bangun rasa aman melalui komunikasi, rutinitas malam, lingkungan tidur yang nyaman, dan latihan kemandirian secara bertahap.
Jika ketakutan semakin berat atau mengganggu aktivitas sehari-hari, bantuan profesional perlu dipertimbangkan.
Pada akhirnya, tujuan mendampingi anak bukan sekadar membuat mereka berani tidur tanpa orang tua, tetapi membantu mereka memahami perasaan takut dan mengembangkan kemampuan menghadapi ketidaknyamanan dengan lebih percaya diri.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir