Orang tua dapat memberikan pertanyaan sederhana seperti yang mungkin diajukan guru atau teman sekelas.
8. Berikan dukungan sebelum tampil.
Ingatkan anak bahwa tugasnya adalah menyampaikan apa yang sudah dipelajari, bukan menunjukkan penampilan yang sempurna.
Dengan latihan yang konsisten, anak dapat semakin terbiasa menghadapi situasi presentasi.
Ada anak yang sebenarnya mampu berbicara lancar di rumah, tetapi mendadak diam ketika berada di sekolah atau bertemu orang tertentu.
Jika kondisi tersebut terjadi secara konsisten, orang tua perlu memperhatikan kemungkinan adanya selective mutism atau mutisme selektif.
Selective mutism merupakan kondisi ketika anak secara konsisten tidak mampu berbicara dalam situasi sosial tertentu, meskipun dapat berbicara dalam lingkungan lain yang membuatnya merasa nyaman.
Kondisi ini bukan sekadar sifat pemalu atau keputusan anak untuk tidak berbicara.
American Academy of Child and Adolescent Psychiatry (AACAP) menjelaskan bahwa selective mutism dapat berkaitan dengan kecemasan dan membutuhkan evaluasi profesional.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
Jika menemukan tanda tersebut, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan psikolog anak atau psikiater anak dan remaja.
Jangan memaksa anak berbicara di depan orang lain, mengancam, atau memberikan hukuman karena tidak menjawab pertanyaan.
Rasa gugup sebelum presentasi merupakan hal yang wajar. Namun, orang tua perlu mempertimbangkan bantuan profesional apabila ketakutan anak mulai menghambat aktivitas sehari-hari.
Beberapa kondisi yang perlu diperhatikan antara lain:
Psikolog anak dapat membantu mengevaluasi tingkat kecemasan dan menentukan strategi pendampingan yang sesuai.
Jika ditemukan kecemasan sosial atau selective mutism, penanganan dapat melibatkan terapi psikologis, latihan bertahap, serta kerja sama antara keluarga dan sekolah.
Orang tua sebaiknya tidak menunggu sampai anak benar-benar kehilangan kesempatan mengikuti kegiatan sekolah untuk mencari bantuan.
Salah satu hal yang perlu dipahami orang tua adalah bahwa kepercayaan diri tidak selalu ditunjukkan melalui keberanian berbicara dengan keras atau tampil di hadapan banyak orang.
Anak yang tenang dan lebih suka mengamati juga dapat mempunyai kepercayaan diri yang baik.
Ada anak yang nyaman berbicara di depan kelas, sedangkan anak lainnya lebih percaya diri ketika menulis, menggambar, melakukan eksperimen, atau bekerja dalam kelompok kecil.
Karena itu, tujuan pengasuhan bukan mengubah semua anak menjadi pribadi yang sama.
Yang lebih penting adalah membantu anak mempunyai kemampuan menyampaikan pikiran, mengungkapkan kebutuhan, dan menghadapi situasi baru sesuai kapasitasnya.
Keberanian tampil di depan umum dapat menjadi salah satu keterampilan yang dikembangkan, tetapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan perkembangan anak.
Anak yang takut tampil di depan umum membutuhkan kesempatan untuk belajar menghadapi rasa gugup tanpa merasa dipermalukan.
Orang tua dapat memulai dari hal sederhana, seperti membiasakan anak bercerita di rumah, memberikan kesempatan menyampaikan pendapat, dan mengajak latihan berbicara dalam kelompok kecil.
Ketika anak mulai berani mencoba, hargai setiap kemajuan tanpa menuntut penampilan yang sempurna.
Selain itu, penting untuk membedakan sifat pemalu yang masih wajar dengan kecemasan yang sudah mengganggu aktivitas anak. Jika ketakutan berlangsung terus-menerus atau disertai kesulitan berkomunikasi dalam situasi tertentu, bantuan profesional dapat diperlukan.
Pada akhirnya, anak tidak harus menjadi orang yang paling berani di antara teman-temannya. Mereka hanya perlu mempunyai kesempatan untuk berkembang, merasa aman ketika mencoba, dan mengetahui bahwa orang tua akan tetap mendukung meskipun suatu saat mereka melakukan kesalahan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir