Parenting
M. Panji Maulana

Anak Terlambat Bicara? Kenali Tanda Berdasarkan Usia, Penyebab, dan Cara Menstimulasinya

Anak Terlambat Bicara? Kenali Tanda Berdasarkan Usia, Penyebab, dan Cara Menstimulasinya

08 November 2026 | 09:37

KebonCinta.com – Setiap orang tua tentu menantikan momen ketika anak mulai mengucapkan kata pertamanya. Mulai dari memanggil "Mama" atau "Papa", menyebut nama benda, hingga menyusun kalimat sederhana untuk menyampaikan keinginannya. Perkembangan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam proses tumbuh kembang anak.

Namun, tidak semua anak menunjukkan perkembangan kemampuan berbicara pada waktu yang sama. Ada anak yang sudah mampu mengucapkan banyak kata sebelum berusia dua tahun, sementara anak lainnya masih kesulitan menyampaikan keinginan melalui kata-kata meskipun usianya sudah bertambah.

Kondisi ini sering membuat orang tua bertanya-tanya, apakah anak hanya membutuhkan waktu lebih lama untuk berbicara atau justru mengalami keterlambatan perkembangan bahasa?

Dalam dunia kesehatan, keterlambatan perkembangan bicara dan bahasa sering dikenal dengan istilah speech delay. Kondisi ini perlu diperhatikan karena kemampuan komunikasi tidak hanya berkaitan dengan jumlah kata yang diucapkan, tetapi juga kemampuan anak memahami perkataan, menggunakan gerakan tubuh, merespons orang lain, dan menyampaikan kebutuhan.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan bahwa perkembangan bicara dan bahasa anak perlu dipantau sejak dini. Apabila terdapat tanda keterlambatan, orang tua dianjurkan melakukan pemeriksaan agar penyebabnya dapat diketahui dan penanganan diberikan sesuai kebutuhan.

Lantas, apa saja tanda anak mengalami keterlambatan bicara berdasarkan usia? Apa penyebabnya, bagaimana cara memberikan stimulasi di rumah, dan kapan orang tua perlu membawa anak ke dokter atau terapis wicara?

Apa Itu Speech Delay pada Anak?

Speech delay merupakan istilah yang umum digunakan untuk menggambarkan keterlambatan kemampuan anak dalam mengembangkan keterampilan berbicara sesuai tahapan perkembangannya.

Namun, dalam pemeriksaan tumbuh kembang, dokter biasanya membedakan beberapa aspek komunikasi yang saling berkaitan.

Pertama, kemampuan berbicara (speech).

Kemampuan ini berkaitan dengan bagaimana anak menghasilkan suara, mengucapkan kata, dan membentuk bunyi bahasa agar dapat dipahami orang lain.

Anak yang mengalami gangguan pada aspek ini mungkin mengetahui kata yang ingin disampaikan, tetapi kesulitan mengucapkan bunyinya secara jelas.

Kedua, kemampuan bahasa (language).

Kemampuan bahasa berkaitan dengan pemahaman dan penggunaan kata untuk menyampaikan pikiran, kebutuhan, serta informasi.

Kemampuan ini terbagi menjadi dua bagian:

  • Bahasa reseptif: Kemampuan memahami perkataan, instruksi, pertanyaan, dan pesan yang disampaikan orang lain.
  • Bahasa ekspresif: Kemampuan menggunakan kata, kalimat, atau bentuk komunikasi lain untuk menyampaikan keinginan dan pikiran.

Dengan demikian, anak yang belum lancar berbicara belum tentu hanya mengalami kesulitan mengucapkan kata. Ada kemungkinan ia juga mengalami kesulitan memahami bahasa atau berkomunikasi secara sosial.

Perbedaan tersebut penting karena penanganan keterlambatan bicara perlu disesuaikan dengan aspek perkembangan yang mengalami hambatan.

Tahapan Perkembangan Bicara Anak Berdasarkan Usia

Orang tua perlu memahami bahwa perkembangan komunikasi berlangsung secara bertahap. Anak tidak langsung mampu menyusun kalimat panjang, tetapi terlebih dahulu melalui tahapan mendengarkan, merespons suara, mengoceh, menggunakan gestur, hingga menggabungkan kata.

Berikut gambaran beberapa kemampuan komunikasi yang perlu diperhatikan berdasarkan pedoman IDAI, CDC, dan ASHA.

1. Usia 0–6 Bulan

Pada usia ini, anak mulai mengenali suara dan menunjukkan respons terhadap orang-orang di sekitarnya.

Beberapa perkembangan yang dapat diamati antara lain:

  • Bereaksi terhadap suara keras.
  • Menenangkan diri ketika mendengar suara orang tua.
  • Tersenyum ketika diajak berbicara.
  • Mengeluarkan suara vokal seperti "aaa" dan "uuu".
  • Mulai merespons interaksi melalui suara dan ekspresi wajah.

Pada tahap ini, orang tua dapat mengajak bayi berbicara, bernyanyi, dan melakukan interaksi sederhana meskipun anak belum mampu mengucapkan kata.

2. Usia 7–12 Bulan

Memasuki usia ini, kemampuan komunikasi anak mulai berkembang melalui ocehan dan penggunaan gerakan tubuh.

Beberapa kemampuan yang dapat diamati meliputi:

  • Mengeluarkan rangkaian ocehan seperti "bababa" atau "mamama".
  • Merespons ketika namanya dipanggil.
  • Menoleh ketika mendengar suara tertentu.
  • Menggunakan gerakan seperti melambaikan tangan.
  • Menunjuk benda yang menarik perhatiannya.
  • Mulai menggunakan kata bermakna seperti "Mama" atau "Papa".

Gestur seperti menunjuk dan melambaikan tangan merupakan bagian penting dari perkembangan komunikasi, bukan sekadar gerakan biasa.

3. Usia 13–18 Bulan

Pada rentang usia ini, anak mulai menggunakan lebih banyak kata untuk menyampaikan keinginan dan mengenali benda di sekitarnya.

Menurut CDC, pada usia 18 bulan sebagian besar anak sudah mencoba mengucapkan setidaknya tiga kata selain "Mama" atau "Papa" dan dapat mengikuti instruksi satu langkah tanpa bantuan gerakan.

Beberapa kemampuan lainnya meliputi:

  • Mengucapkan kata sederhana.
  • Menunjuk benda yang diminta.
  • Mengenali nama benda atau anggota keluarga.
  • Mengikuti instruksi sederhana.
  • Menggunakan suara dan gestur untuk menyampaikan kebutuhan.

IDAI juga memberikan perhatian khusus apabila anak belum mempunyai kata bermakna pada usia 16 bulan.

Jika kondisi tersebut terjadi, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter anak untuk mendapatkan penilaian perkembangan.

4. Usia 19–24 Bulan

Pada usia mendekati dua tahun, perkembangan kosakata biasanya semakin pesat. Anak mulai menggabungkan dua kata menjadi ungkapan sederhana.

Contohnya:

  • "Mau susu."
  • "Mama datang."
  • "Bola jatuh."
  • "Mau makan."

Anak juga mulai memahami instruksi yang lebih kompleks, mengenali benda, dan menyebutkan beberapa hal yang sering ditemui.

IDAI menekankan bahwa salah satu tanda yang perlu diwaspadai adalah belum adanya kalimat dua kata yang dapat dimengerti pada usia 24 bulan.

Sementara itu, CDC mencantumkan kemampuan menggabungkan sedikitnya dua kata sebagai salah satu tonggak perkembangan pada usia dua tahun.

5. Usia 25–30 Bulan

Memasuki usia dua setengah tahun, kemampuan berbahasa anak seharusnya semakin berkembang.

CDC mencantumkan beberapa tonggak perkembangan pada usia 30 bulan, antara lain:

  • Mengucapkan sekitar 50 kata.
  • Menggabungkan dua kata atau lebih, termasuk kata kerja.
  • Menyebutkan nama benda dalam buku ketika ditunjukkan.
  • Menggunakan kata seperti "aku", "saya", atau "kita".
  • Mengikuti instruksi dua langkah sederhana.

Pada tahap ini, anak juga mulai menggunakan bahasa untuk menceritakan pengalaman dan berinteraksi dengan orang lain.

6. Usia 3–5 Tahun

Pada usia prasekolah, kemampuan komunikasi anak semakin berkembang.

Anak mulai mampu:

  • Melakukan percakapan sederhana.
  • Menjawab pertanyaan.
  • Menceritakan pengalaman.
  • Menyebutkan nama benda dan aktivitas.
  • Menggunakan kalimat yang lebih panjang.
  • Memahami cerita dan mengikuti percakapan.

Pada usia empat tahun, IDAI menyebutkan bahwa kemampuan berbicara anak umumnya sudah dapat dipahami oleh orang lain.

Perlu dipahami bahwa tonggak perkembangan merupakan panduan untuk mengenali kemampuan yang umumnya sudah dimiliki anak pada rentang usia tertentu, bukan alat untuk mendiagnosis keterlambatan secara mandiri.

Perbedaan bahasa yang digunakan di rumah, kesempatan berinteraksi, dan kondisi perkembangan setiap anak juga perlu dipertimbangkan.

Tanda-Tanda Speech Delay yang Perlu Diwaspadai Orang Tua

Tidak semua anak yang belum banyak berbicara mengalami gangguan perkembangan. Namun, terdapat beberapa tanda yang sebaiknya tidak diabaikan.

Berikut tanda yang dapat menjadi perhatian berdasarkan pedoman IDAI dan ASHA.

Usia AnakTanda yang Perlu Diwaspadai
6–9 bulanBelum menunjukkan ocehan atau respons suara yang berkembang
12 bulanBelum menggunakan gestur komunikasi seperti menunjuk atau melambaikan tangan
16 bulanBelum mempunyai kata bermakna
18 bulanBelum mencoba mengucapkan beberapa kata selain Mama atau Papa
24 bulanBelum menggabungkan dua kata bermakna
30 bulanKosakata dan kemampuan menggabungkan kata masih sangat terbatas
3 tahunKesulitan melakukan percakapan sederhana atau berkomunikasi dengan anak lain

Selain tanda berdasarkan usia, orang tua juga perlu memperhatikan beberapa kondisi berikut:

  1. Anak tidak merespons ketika dipanggil namanya.
  2. Anak jarang melakukan kontak mata atau berbagi perhatian terhadap benda yang menarik.
  3. Anak tidak memahami instruksi sederhana sesuai tahap perkembangannya.
  4. Anak lebih sering menarik tangan orang tua untuk meminta sesuatu tanpa menggunakan gestur atau kata.
  5. Anak kesulitan meniru suara, kata, atau gerakan sederhana.
  6. Anak kehilangan kemampuan berbicara atau keterampilan komunikasi yang sebelumnya sudah dimiliki.

Tanda-tanda tersebut tidak langsung menunjukkan diagnosis speech delay, autisme, atau gangguan tertentu. Namun, kondisi tersebut merupakan alasan untuk melakukan evaluasi perkembangan.

Hal yang sangat penting: Jika anak kehilangan kemampuan komunikasi atau kemampuan lain yang sebelumnya sudah dikuasai, jangan menunggu sampai usianya bertambah. Segera konsultasikan kepada dokter.

Apa Penyebab Anak Mengalami Keterlambatan Bicara?

Keterlambatan bicara dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Tidak semua kasus mempunyai penyebab yang sama sehingga pemeriksaan perlu dilakukan secara individual.

Berikut beberapa kemungkinan penyebab yang perlu diketahui orang tua.

1.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 4
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Parenting speech delay anak terlambat bicara Tumbuh kembang anak terapi wicara Kesehatan Anak

Komentar Pengguna