Parenting
M. Panji Maulana

Anak Tiba-Tiba Tidak Mau Berangkat Sekolah? Kenali Penyebab dan Cara Menghadapinya

Anak Tiba-Tiba Tidak Mau Berangkat Sekolah? Kenali Penyebab dan Cara Menghadapinya

08 November 2026 | 09:02

Anak Mengalami Kesulitan Mengikuti Pelajaran

Tidak semua anak mempunyai kecepatan belajar yang sama. Ada yang mudah memahami penjelasan guru, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu lebih panjang dan pendampingan tambahan.

Kesulitan membaca, menulis, berhitung, memahami instruksi, atau berkonsentrasi dapat membuat kegiatan sekolah terasa melelahkan.

Jika kesulitan tersebut berlangsung tanpa bantuan yang sesuai, anak mungkin mulai menganggap sekolah sebagai tempat yang penuh kegagalan.

American Academy of Child and Adolescent Psychiatry juga mengingatkan bahwa sebagian anak yang mengalami penolakan sekolah ternyata mempunyai kesulitan belajar atau kebutuhan perkembangan yang belum teridentifikasi.

Karena itu, orang tua sebaiknya tidak langsung menganggap anak kurang rajin. Perlu diperiksa apakah terdapat hambatan belajar yang membutuhkan perhatian khusus.

6. Anak Tidak Nyaman dengan Lingkungan Sekolah

Lingkungan sekolah mempunyai pengaruh terhadap rasa aman dan kenyamanan anak.

Hubungan yang kurang baik dengan guru, aturan yang tidak dipahami, suasana kelas yang terlalu menekan, atau pengalaman dipermalukan di depan teman dapat membuat anak enggan kembali ke sekolah.

Anak mungkin tidak mampu menjelaskan persoalan tersebut secara rinci. Mereka hanya mengatakan takut bertemu guru tertentu atau tidak ingin masuk kelas.

Orang tua perlu mendengarkan penjelasan anak tanpa langsung menyimpulkan bahwa guru atau sekolah merupakan pihak yang bersalah.

Langkah yang lebih tepat adalah mengumpulkan informasi dari anak dan pihak sekolah untuk memahami situasi sebenarnya.

7. Anak Mengalami Perubahan dalam Keluarga

Perubahan dalam lingkungan keluarga juga dapat memengaruhi kesiapan emosional anak untuk bersekolah.

Contohnya adalah perceraian orang tua, konflik keluarga, kehilangan anggota keluarga, pindah rumah, atau perubahan pola pengasuhan.

Anak mungkin merasa tidak aman, kehilangan rutinitas, atau membutuhkan perhatian lebih besar dari orang tua.

Dalam situasi seperti ini, penolakan sekolah bisa menjadi salah satu bentuk respons terhadap tekanan yang sedang dialami.

Karena itu, orang tua perlu melihat kondisi anak secara menyeluruh, bukan hanya berfokus pada masalah kehadiran di sekolah.

Tanda-Tanda Anak Mengalami Penolakan Sekolah

Penolakan sekolah dapat terlihat melalui perubahan perilaku maupun keluhan fisik. Beberapa tanda berikut perlu diperhatikan, terutama jika muncul berulang kali dan berkaitan dengan jadwal sekolah.

Tanda yang TerlihatKemungkinan yang Perlu Diperiksa
Menangis ketika akan berangkatKecemasan atau ketidaknyamanan di sekolah
Sering mengeluh sakit perut pada pagi hariRespons fisik terhadap tekanan atau masalah kesehatan
Meminta terus-menerus untuk tinggal di rumahKesulitan menghadapi situasi sekolah
Takut berpisah dengan orang tuaKecemasan berpisah
Mendadak menarik diri dari temanKemungkinan masalah sosial
Takut menghadapi ujian atau pelajaran tertentuTekanan akademik
Tidur terganggu menjelang hari sekolahKecemasan atau perubahan rutinitas
Penurunan semangat dan perubahan suasana hatiTekanan emosional yang perlu diperiksa

Tidak semua tanda tersebut menunjukkan school refusal. Orang tua perlu memperhatikan frekuensi, durasi, situasi pemicu, serta dampaknya terhadap kehidupan anak.

Jika keluhan berlangsung berulang, jangan menunggu sampai anak benar-benar kehilangan keterikatan dengan kegiatan sekolah.

8 Cara Menghadapi Anak yang Tidak Mau Berangkat Sekolah

Setelah memahami kemungkinan penyebabnya, orang tua perlu mengambil langkah yang tepat. Tujuannya bukan sekadar membuat anak berangkat sekolah, tetapi membantu anak kembali merasa aman dan mampu mengikuti kegiatan belajar.

1. Jangan Langsung Memarahi atau Mengancam Anak

Ketika anak menangis dan menolak berangkat, respons pertama orang tua sangat menentukan suasana yang akan terbentuk.

Hindari kalimat seperti:

  • "Kamu malas sekali, sekolah saja tidak mau."
  • "Kalau tidak sekolah, nanti tidak punya masa depan."
  • "Anak lain saja berani, kenapa kamu tidak?"
  • "Kalau tidak masuk, Ayah atau Ibu tidak sayang lagi."

Kalimat tersebut dapat membuat anak merasa tidak dipahami dan semakin sulit menjelaskan apa yang sedang dialaminya.

Sebagai gantinya, orang tua dapat mengatakan:

"Ibu tahu kamu sedang merasa tidak nyaman. Kita cari tahu bersama apa yang membuat kamu tidak ingin sekolah, ya."

Respons yang tenang membantu anak memahami bahwa orang tua bersedia mendengarkan tanpa langsung memberikan penilaian.

2. Ajak Anak Berbicara pada Waktu yang Tepat

Jangan selalu memaksa anak menjelaskan masalahnya ketika sedang menangis atau panik pada pagi hari.

Pilih waktu ketika suasana lebih tenang, misalnya setelah pulang sekolah atau ketika sedang melakukan kegiatan bersama.

Gunakan pertanyaan terbuka agar anak mempunyai kesempatan menjelaskan pengalamannya.

Contohnya:

  • Apa bagian yang paling kamu sukai dan tidak sukai dari sekolah?
  • Apakah ada sesuatu yang membuat kamu takut ketika berada di kelas?
  • Bagaimana hubunganmu dengan teman-teman?
  • Apakah ada pelajaran yang terasa terlalu sulit?
  • Apa yang bisa Ibu dan Ayah bantu agar kamu merasa lebih nyaman?

Hindari pertanyaan yang terkesan menyudutkan, seperti "Kamu pasti cuma malas, kan?"

Jika anak belum bersedia bercerita, jangan terus mendesak. Berikan kesempatan dan tunjukkan bahwa orang tua siap mendengarkan kapan pun dibutuhkan.

3. Periksa Kondisi Kesehatan Anak

Jika anak mengeluhkan sakit perut, sakit kepala, mual, pusing, atau keluhan lainnya, orang tua perlu memperhatikan kondisi fisiknya.

Jangan langsung menganggap keluhan tersebut sebagai alasan untuk menghindari sekolah.

Periksa apakah anak mengalami demam, gangguan pencernaan, infeksi, atau masalah kesehatan lainnya.

Jika keluhan terus berulang, mengganggu aktivitas, atau disertai gejala yang mengkhawatirkan, konsultasikan dengan dokter.

Pemeriksaan kesehatan juga membantu membedakan apakah penolakan sekolah berkaitan dengan kondisi medis, tekanan emosional, atau kombinasi keduanya.

4. Cari Tahu Situasi Anak di Sekolah

Orang tua tidak harus menyelesaikan masalah sendirian. Guru, wali kelas, dan guru bimbingan konseling dapat membantu memahami kondisi anak selama berada di sekolah.

Cobalah berkomunikasi dengan pihak sekolah untuk mengetahui:

  • Apakah anak terlihat berbeda dari biasanya?
  • Apakah anak mempunyai teman dekat di kelas?
  • Apakah terdapat konflik dengan teman sebaya?
  • Apakah anak mengalami kesulitan mengikuti pelajaran?
  • Apakah ada perubahan perilaku selama kegiatan sekolah?

Informasi tersebut dapat membantu orang tua menemukan penyebab yang sebelumnya tidak diketahui.

Jika ditemukan masalah seperti perundungan atau perlakuan tidak pantas, sekolah perlu dilibatkan untuk memastikan keselamatan dan perlindungan anak.

5. Bangun Rutinitas Pagi yang Lebih Teratur

Sebagian anak merasa semakin cemas ketika harus menghadapi pagi yang terburu-buru.

Persiapan sekolah yang dilakukan mendadak dapat menambah tekanan, terutama bagi anak yang sedang mengalami kesulitan beradaptasi.

Orang tua dapat membantu dengan membuat rutinitas yang lebih konsisten.

Contohnya:

  • Menyiapkan seragam dan perlengkapan sekolah pada malam sebelumnya.
  • Mengatur waktu tidur dan bangun secara teratur.
  • Menyediakan sarapan yang cukup.
  • Menghindari pertengkaran atau ancaman pada pagi hari.
  • Memberikan waktu yang cukup untuk bersiap.
  • Mengantar anak sesuai kebutuhan dan kesepakatan dengan sekolah.

Rutinitas yang konsisten dapat membantu anak merasa lebih siap menghadapi aktivitas sekolah.

6. Berikan Dukungan Bertahap untuk Kembali ke Sekolah

Jika anak mengalami kecemasan yang cukup berat, proses kembali ke sekolah mungkin membutuhkan pendekatan bertahap.

Orang tua dapat bekerja sama dengan guru untuk menyusun rencana kehadiran yang sesuai dengan kondisi anak.

Misalnya, anak mulai dengan bertemu guru yang dipercaya, kemudian mengikuti sebagian kegiatan pembelajaran, sebelum secara bertahap kembali menjalani jadwal penuh.

Namun, proses tersebut perlu disusun bersama pihak sekolah dan tenaga profesional apabila kecemasannya berat.

Hindari dua pendekatan ekstrem: memaksa anak secara kasar tanpa memahami penyebabnya atau membiarkan anak terus menghindari sekolah tanpa rencana pendampingan.

Tujuannya adalah membangun kembali rasa aman sekaligus membantu anak menghadapi situasi yang sebelumnya dihindari.

7. Hargai Kemajuan Kecil Anak

Anak yang sebelumnya menolak sekolah mungkin membutuhkan waktu untuk kembali merasa nyaman.

Karena itu, orang tua perlu menghargai setiap kemajuan, termasuk ketika anak mulai bersedia mengenakan seragam, menyiapkan tas, bertemu guru, atau mengikuti kegiatan sekolah.

Berikan apresiasi yang spesifik, misalnya:

"Ibu senang kamu sudah berusaha menyiapkan perlengkapan sekolah sendiri hari ini."

Apresiasi tersebut membantu anak memahami bahwa usaha dan perkembangan dirinya dihargai.

Namun, hindari menjadikan hadiah material sebagai satu-satunya alasan anak mau bersekolah. Fokus utama tetap pada pengembangan rasa aman, kemampuan menghadapi kesulitan, dan motivasi belajar dari dalam diri.

8.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
2 / 4
HALAMAN SEBELUMNYA Sebelumnya LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Parenting Anak Tidak Mau Sekolah school refusal Psikologi Anak Pola Asuh Pendidikan Anak

Komentar Pengguna