Tidak semua anak mempunyai kecepatan belajar yang sama. Ada yang mudah memahami penjelasan guru, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu lebih panjang dan pendampingan tambahan.
Kesulitan membaca, menulis, berhitung, memahami instruksi, atau berkonsentrasi dapat membuat kegiatan sekolah terasa melelahkan.
Jika kesulitan tersebut berlangsung tanpa bantuan yang sesuai, anak mungkin mulai menganggap sekolah sebagai tempat yang penuh kegagalan.
American Academy of Child and Adolescent Psychiatry juga mengingatkan bahwa sebagian anak yang mengalami penolakan sekolah ternyata mempunyai kesulitan belajar atau kebutuhan perkembangan yang belum teridentifikasi.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak langsung menganggap anak kurang rajin. Perlu diperiksa apakah terdapat hambatan belajar yang membutuhkan perhatian khusus.
Lingkungan sekolah mempunyai pengaruh terhadap rasa aman dan kenyamanan anak.
Hubungan yang kurang baik dengan guru, aturan yang tidak dipahami, suasana kelas yang terlalu menekan, atau pengalaman dipermalukan di depan teman dapat membuat anak enggan kembali ke sekolah.
Anak mungkin tidak mampu menjelaskan persoalan tersebut secara rinci. Mereka hanya mengatakan takut bertemu guru tertentu atau tidak ingin masuk kelas.
Orang tua perlu mendengarkan penjelasan anak tanpa langsung menyimpulkan bahwa guru atau sekolah merupakan pihak yang bersalah.
Langkah yang lebih tepat adalah mengumpulkan informasi dari anak dan pihak sekolah untuk memahami situasi sebenarnya.
Perubahan dalam lingkungan keluarga juga dapat memengaruhi kesiapan emosional anak untuk bersekolah.
Contohnya adalah perceraian orang tua, konflik keluarga, kehilangan anggota keluarga, pindah rumah, atau perubahan pola pengasuhan.
Anak mungkin merasa tidak aman, kehilangan rutinitas, atau membutuhkan perhatian lebih besar dari orang tua.
Dalam situasi seperti ini, penolakan sekolah bisa menjadi salah satu bentuk respons terhadap tekanan yang sedang dialami.
Karena itu, orang tua perlu melihat kondisi anak secara menyeluruh, bukan hanya berfokus pada masalah kehadiran di sekolah.
Penolakan sekolah dapat terlihat melalui perubahan perilaku maupun keluhan fisik. Beberapa tanda berikut perlu diperhatikan, terutama jika muncul berulang kali dan berkaitan dengan jadwal sekolah.
| Tanda yang Terlihat | Kemungkinan yang Perlu Diperiksa |
|---|---|
| Menangis ketika akan berangkat | Kecemasan atau ketidaknyamanan di sekolah |
| Sering mengeluh sakit perut pada pagi hari | Respons fisik terhadap tekanan atau masalah kesehatan |
| Meminta terus-menerus untuk tinggal di rumah | Kesulitan menghadapi situasi sekolah |
| Takut berpisah dengan orang tua | Kecemasan berpisah |
| Mendadak menarik diri dari teman | Kemungkinan masalah sosial |
| Takut menghadapi ujian atau pelajaran tertentu | Tekanan akademik |
| Tidur terganggu menjelang hari sekolah | Kecemasan atau perubahan rutinitas |
| Penurunan semangat dan perubahan suasana hati | Tekanan emosional yang perlu diperiksa |
Tidak semua tanda tersebut menunjukkan school refusal. Orang tua perlu memperhatikan frekuensi, durasi, situasi pemicu, serta dampaknya terhadap kehidupan anak.
Jika keluhan berlangsung berulang, jangan menunggu sampai anak benar-benar kehilangan keterikatan dengan kegiatan sekolah.
Setelah memahami kemungkinan penyebabnya, orang tua perlu mengambil langkah yang tepat. Tujuannya bukan sekadar membuat anak berangkat sekolah, tetapi membantu anak kembali merasa aman dan mampu mengikuti kegiatan belajar.
Ketika anak menangis dan menolak berangkat, respons pertama orang tua sangat menentukan suasana yang akan terbentuk.
Hindari kalimat seperti:
Kalimat tersebut dapat membuat anak merasa tidak dipahami dan semakin sulit menjelaskan apa yang sedang dialaminya.
Sebagai gantinya, orang tua dapat mengatakan:
"Ibu tahu kamu sedang merasa tidak nyaman. Kita cari tahu bersama apa yang membuat kamu tidak ingin sekolah, ya."
Respons yang tenang membantu anak memahami bahwa orang tua bersedia mendengarkan tanpa langsung memberikan penilaian.
Jangan selalu memaksa anak menjelaskan masalahnya ketika sedang menangis atau panik pada pagi hari.
Pilih waktu ketika suasana lebih tenang, misalnya setelah pulang sekolah atau ketika sedang melakukan kegiatan bersama.
Gunakan pertanyaan terbuka agar anak mempunyai kesempatan menjelaskan pengalamannya.
Contohnya:
Hindari pertanyaan yang terkesan menyudutkan, seperti "Kamu pasti cuma malas, kan?"
Jika anak belum bersedia bercerita, jangan terus mendesak. Berikan kesempatan dan tunjukkan bahwa orang tua siap mendengarkan kapan pun dibutuhkan.
Jika anak mengeluhkan sakit perut, sakit kepala, mual, pusing, atau keluhan lainnya, orang tua perlu memperhatikan kondisi fisiknya.
Jangan langsung menganggap keluhan tersebut sebagai alasan untuk menghindari sekolah.
Periksa apakah anak mengalami demam, gangguan pencernaan, infeksi, atau masalah kesehatan lainnya.
Jika keluhan terus berulang, mengganggu aktivitas, atau disertai gejala yang mengkhawatirkan, konsultasikan dengan dokter.
Pemeriksaan kesehatan juga membantu membedakan apakah penolakan sekolah berkaitan dengan kondisi medis, tekanan emosional, atau kombinasi keduanya.
Orang tua tidak harus menyelesaikan masalah sendirian. Guru, wali kelas, dan guru bimbingan konseling dapat membantu memahami kondisi anak selama berada di sekolah.
Cobalah berkomunikasi dengan pihak sekolah untuk mengetahui:
Informasi tersebut dapat membantu orang tua menemukan penyebab yang sebelumnya tidak diketahui.
Jika ditemukan masalah seperti perundungan atau perlakuan tidak pantas, sekolah perlu dilibatkan untuk memastikan keselamatan dan perlindungan anak.
Sebagian anak merasa semakin cemas ketika harus menghadapi pagi yang terburu-buru.
Persiapan sekolah yang dilakukan mendadak dapat menambah tekanan, terutama bagi anak yang sedang mengalami kesulitan beradaptasi.
Orang tua dapat membantu dengan membuat rutinitas yang lebih konsisten.
Contohnya:
Rutinitas yang konsisten dapat membantu anak merasa lebih siap menghadapi aktivitas sekolah.
Jika anak mengalami kecemasan yang cukup berat, proses kembali ke sekolah mungkin membutuhkan pendekatan bertahap.
Orang tua dapat bekerja sama dengan guru untuk menyusun rencana kehadiran yang sesuai dengan kondisi anak.
Misalnya, anak mulai dengan bertemu guru yang dipercaya, kemudian mengikuti sebagian kegiatan pembelajaran, sebelum secara bertahap kembali menjalani jadwal penuh.
Namun, proses tersebut perlu disusun bersama pihak sekolah dan tenaga profesional apabila kecemasannya berat.
Hindari dua pendekatan ekstrem: memaksa anak secara kasar tanpa memahami penyebabnya atau membiarkan anak terus menghindari sekolah tanpa rencana pendampingan.
Tujuannya adalah membangun kembali rasa aman sekaligus membantu anak menghadapi situasi yang sebelumnya dihindari.
Anak yang sebelumnya menolak sekolah mungkin membutuhkan waktu untuk kembali merasa nyaman.
Karena itu, orang tua perlu menghargai setiap kemajuan, termasuk ketika anak mulai bersedia mengenakan seragam, menyiapkan tas, bertemu guru, atau mengikuti kegiatan sekolah.
Berikan apresiasi yang spesifik, misalnya:
"Ibu senang kamu sudah berusaha menyiapkan perlengkapan sekolah sendiri hari ini."
Apresiasi tersebut membantu anak memahami bahwa usaha dan perkembangan dirinya dihargai.
Namun, hindari menjadikan hadiah material sebagai satu-satunya alasan anak mau bersekolah. Fokus utama tetap pada pengembangan rasa aman, kemampuan menghadapi kesulitan, dan motivasi belajar dari dalam diri.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir