Bagi sebagian anak, konsep bergiliran lebih mudah dipahami daripada harus langsung menyerahkan mainan kepada orang lain.
Orang tua dapat memulai dengan permainan sederhana.
Misalnya:
Gunakan kalimat yang jelas, seperti "Sekarang giliran Kakak, setelah itu giliran Adik."
Jika diperlukan, gunakan pengatur waktu sederhana agar anak memahami kapan gilirannya berakhir.
Permainan bersama dapat membantu anak memahami bahwa aktivitas menyenangkan tidak selalu harus dilakukan sendiri.
Orang tua dapat mengajak anak menyusun puzzle bersama, membangun menara balok, menggambar pada kertas besar, atau bermain permainan kelompok.
Dalam kegiatan tersebut, setiap anak mempunyai peran.
Misalnya, satu anak menyusun balok, sedangkan anak lainnya mengambilkan potongan yang dibutuhkan.
Pengalaman bekerja sama membantu anak memahami bahwa kegiatan bersama dapat memberikan kesenangan bagi semua pihak.
Berbagi harus disertai penghormatan terhadap kepemilikan.
Jangan hanya mengajarkan anak memberikan mainannya kepada teman, tetapi juga ajarkan untuk meminta izin sebelum menggunakan barang milik orang lain.
Contohnya:
"Boleh aku pinjam mobilmu?"
"Kalau sudah selesai, boleh aku bermain?"
"Terima kasih sudah meminjamkan mainanmu."
Dengan demikian, anak belajar bahwa berbagi bukan berarti semua orang boleh mengambil barang tanpa persetujuan pemiliknya.
Tidak semua mainan harus dipinjamkan.
Jika anak mempunyai benda yang sangat disayangi, orang tua dapat mengajarkan bahwa barang tersebut boleh disimpan dan tidak harus digunakan bersama.
Ketika ada teman datang bermain, ajak anak memilih beberapa mainan yang bersedia digunakan bersama.
Mainan yang sangat istimewa dapat disimpan terlebih dahulu.
Pendekatan tersebut membantu anak merasa aman sekaligus belajar berbagi melalui benda yang memang bersedia digunakannya.
Ketika anak berhasil meminjamkan mainan atau bergantian dengan teman, berikan apresiasi yang spesifik.
Contohnya:
"Terima kasih sudah memberikan kesempatan kepada adik untuk bermain."
"Kamu sudah sabar menunggu giliran. Bagus sekali."
Pujian tersebut membantu anak memahami perilaku positif yang sedang dipelajari.
Namun, jangan memberikan tekanan bahwa anak harus selalu berbagi untuk mendapatkan pujian atau hadiah.
Empati merupakan kemampuan memahami dan mempertimbangkan perasaan orang lain.
Orang tua dapat membantu anak mengenali perasaan teman melalui situasi sederhana.
Misalnya:
"Adik terlihat sedih karena belum mendapat giliran."
"Temanmu juga ingin bermain dengan mobil itu."
"Bagaimana kalau kalian bermain bersama?"
Gunakan pertanyaan sederhana agar anak mulai mempertimbangkan sudut pandang orang lain.
Jangan memaksa anak langsung merasa bersalah. Tujuannya adalah membangun pemahaman secara bertahap.
Kemampuan sosial membutuhkan pengalaman nyata.
Ajak anak bermain dengan saudara, teman sebaya, atau mengikuti kegiatan kelompok yang sesuai dengan usianya.
Mulailah dari kelompok kecil agar anak tidak merasa kewalahan.
Orang tua dapat mendampingi ketika terjadi konflik, membantu menyelesaikan perebutan mainan, dan mengajarkan cara meminta giliran.
Seiring waktu, anak akan memperoleh lebih banyak kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan sosial yang sudah dipelajari.
Konflik saat bermain merupakan kesempatan bagi anak untuk belajar menyelesaikan masalah.
Namun, orang tua tetap perlu memastikan tidak ada tindakan yang membahayakan.
Jika dua anak menginginkan mainan yang sama, lakukan beberapa langkah berikut:
Pertama, hentikan tindakan yang membahayakan.
Jika anak saling menarik, mendorong, atau memukul, pisahkan dengan tenang.
Kedua, jelaskan situasinya secara sederhana.
"Kalian berdua ingin bermain dengan mobil yang sama."
Ketiga, tanyakan siapa yang sedang menggunakan mainan terlebih dahulu.
Jika salah satu anak sedang bermain, berikan kesempatan untuk menyelesaikan gilirannya.
Keempat, tawarkan solusi.
Anak dapat bergantian, menggunakan mainan lain, atau bermain bersama jika keduanya bersedia.
Kelima, bantu anak menyampaikan keinginan.
Ajarkan kalimat seperti "Setelah kamu selesai, aku ingin bermain."
ZERO TO THREE menyarankan orang tua untuk membantu anak memahami konflik, memberikan kesempatan bermain bergiliran, dan menggunakan pengatur waktu apabila diperlukan.
Jangan langsung memaksa anak yang sedang menggunakan mainan untuk menyerahkannya hanya karena ada teman yang meminta.
Orang tua dapat melatih kebiasaan berbagi melalui kegiatan sehari-hari tanpa harus membuat latihan khusus.
| Aktivitas | Keterampilan yang Dilatih |
|---|---|
| Membagi buah bersama saudara | Berbagi dan kepedulian |
| Bermain lempar bola bergantian | Menunggu giliran |
| Menyusun puzzle bersama | Kerja sama |
| Menggambar pada satu kertas besar | Berbagi ruang dan alat |
| Bermain memasak-masakan | Berbagi peran |
| Meminjamkan buku cerita | Menghargai kepemilikan |
| Membantu teman merapikan mainan | Empati dan tanggung jawab |
Pastikan aktivitas disesuaikan dengan usia anak dan dilakukan dalam suasana menyenangkan.
Niat mengajarkan kepedulian terkadang justru menimbulkan tekanan apabila dilakukan dengan cara yang kurang tepat.
Beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari antara lain:
Memaksa anak menyerahkan barang yang sedang digunakan dapat membuatnya merasa kehilangan kendali.
Lebih baik ajarkan konsep bergiliran dan minta izin secara bertahap.
Anak yang lebih tua tidak harus selalu mengalah kepada adiknya.
Setiap anak perlu mendapatkan kesempatan yang adil untuk menggunakan mainan dan menyampaikan keinginan.
Label negatif dapat membuat anak merasa dirinya mempunyai karakter buruk.
Fokuslah pada perilaku yang perlu diperbaiki, bukan memberikan penilaian terhadap kepribadiannya.
Anak tetap mempunyai hak atas barang pribadinya.
Mengajarkan berbagi juga harus disertai pemahaman mengenai batasan dan persetujuan.
Keterampilan sosial sebaiknya dilatih dalam aktivitas sehari-hari, bukan hanya ketika anak sedang bertengkar.
Orang tua dapat memberikan contoh berbagi dan bekerja sama ketika suasana keluarga sedang tenang.
Tidak semua anak yang menolak berbagi membutuhkan pemeriksaan khusus.
Namun, orang tua perlu memperhatikan apabila kesulitan berinteraksi muncul bersama tanda perkembangan sosial atau komunikasi lainnya.
Pertimbangkan konsultasi dengan dokter anak atau psikolog apabila:
Penolakan berbagi saja tidak cukup untuk menunjukkan gangguan perkembangan tertentu.
Dokter atau tenaga profesional perlu mengevaluasi kemampuan komunikasi, interaksi sosial, perkembangan emosi, dan kondisi anak secara menyeluruh.
Berbagi merupakan keterampilan sosial yang perlu dipelajari melalui pengalaman dan pendampingan.
Anak yang tidak mau meminjamkan mainan belum tentu tidak mempunyai empati. Bisa jadi ia masih belajar memahami kepemilikan, bergiliran, dan perasaan orang lain.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak langsung memaksa atau memberikan label negatif ketika anak menolak berbagi.
Mulailah dengan memberikan contoh, mengajarkan bergiliran, menghargai barang pribadi, serta menciptakan kesempatan bermain bersama.
Selain itu, anak perlu memahami bahwa berbagi dilakukan dengan kesadaran dan rasa saling menghormati, bukan karena ancaman atau paksaan.
Pada akhirnya, tujuan pengasuhan bukan membuat anak selalu menyerahkan barang miliknya, tetapi membantu mereka menjadi pribadi yang peduli, mampu bekerja sama, menghargai orang lain, dan memahami batasan dalam hubungan sosial.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir