Teknologi
Hilmi An Naufal

Beda Pendapat Tak Harus Jadi Perang Komentar, Ini 7 Cara Jadi Netizen Cakap Digital

Beda Pendapat Tak Harus Jadi Perang Komentar, Ini 7 Cara Jadi Netizen Cakap Digital

13 Agustus 2026 | 08:33

KebonCinta.com – Media sosial membuat hampir semua orang mempunyai ruang untuk berbicara. Satu unggahan dapat dikomentari ratusan orang, sebuah informasi dapat tersebar hanya dalam beberapa menit, sementara perdebatan yang awalnya sederhana bisa berubah menjadi pertengkaran panjang.

Masalahnya, kemampuan menggunakan smartphone belum tentu sama dengan kemampuan menggunakan ruang digital secara bijak.

Seseorang mungkin sangat mahir mengedit video, menggunakan AI, membuat konten, atau mengoperasikan berbagai aplikasi. Namun kecakapan digital juga menyangkut kemampuan memeriksa informasi, menjaga keamanan, memahami etika, serta menghormati orang lain yang memiliki latar belakang dan pendapat berbeda.

Gerakan Nasional Literasi Digital di Indonesia menggunakan empat pilar yang dikenal dengan CABE: Cakap Digital, Aman Digital, Budaya Digital, dan Etika Digital. Etika digital mencakup tanggung jawab ketika berinteraksi, sementara keamanan digital menyangkut perlindungan diri dan data dalam menggunakan teknologi.

Pada 2025, Indeks Masyarakat Digital Indonesia juga tercatat meningkat menjadi 44,53. Namun peningkatan kemampuan digital bukan berarti tantangan di media sosial selesai. Pemerintah masih menempatkan keterampilan, keamanan, budaya, dan etika sebagai bagian penting dari pembangunan masyarakat digital.

Lalu seperti apa perilaku netizen yang benar-benar cakap digital?

1. Jangan Jadikan Tombol Share Lebih Cepat daripada Pikiran

Sebuah informasi masuk ke grup WhatsApp.

Judulnya mengejutkan.

Tanpa membuka sumber aslinya, seseorang langsung menekan tombol teruskan.

Kebiasaan seperti ini menjadi salah satu persoalan terbesar dalam lingkungan informasi digital.

Riset Mafindo terhadap 2.011 responden di 20 provinsi pada 2024 menemukan tingkat literasi hoaks masyarakat Indonesia berada pada kategori sedang. Dalam riset tersebut, masih banyak responden yang tidak dapat mengenali sejumlah contoh klaim palsu.

Karena itu, sebelum membagikan informasi, lakukan pemeriksaan sederhana.

Siapa yang menerbitkannya?

Apakah ada tanggalnya?

Apakah judul sesuai dengan isi?

Apakah media atau lembaga resmi lain juga memberitakan hal yang sama?

UNESCO bahkan menyarankan tiga pertanyaan sederhana sebelum membagikan sesuatu: apakah sumbernya dapat dipercaya, apakah faktanya sudah diverifikasi, dan apakah kata-kata tersebut berpotensi merugikan seseorang atau memperbesar perpecahan.

Kadang menjadi netizen yang bertanggung jawab berarti tidak ikut membagikan sesuatu.

2. Bedakan Kritik terhadap Pendapat dan Serangan terhadap Orang

Media sosial tidak harus menjadi tempat semua orang sepakat.

Perbedaan pendapat justru wajar.

Masalah muncul ketika argumentasi berubah menjadi hinaan terhadap fisik, keluarga, suku, agama, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan, atau identitas seseorang.

Contohnya sederhana.

Kalimat:

“Saya tidak setuju dengan pendapat ini karena datanya tidak sesuai dengan...”

berbeda jauh dengan:

“Dasar bodoh, orang seperti kamu memang tidak layak bicara.”

Keduanya sama-sama menunjukkan ketidaksetujuan.

Namun yang pertama menyerang argumen, sedangkan yang kedua menyerang manusia.

Microsoft dalam Digital Civility Challenge pernah menawarkan prinsip sederhana untuk interaksi online: menghormati perbedaan, berhenti sejenak sebelum membalas, memperlakukan orang dengan empati, serta membantu orang lain ketika menjadi sasaran perilaku berbahaya.

Perdebatan tidak harus hilang.

Yang perlu dihilangkan adalah anggapan bahwa berbeda pendapat memberi izin untuk merendahkan orang lain.

3. Berhenti Sejenak Sebelum Membalas Saat Emosi

Komentar kasar sering mendapat balasan kasar.

Kemudian balasan mendapat balasan lagi.

Dalam beberapa menit, diskusi mengenai topik awal sudah berubah menjadi pertengkaran pribadi.

Salah satu kebiasaan paling sederhana dalam berkomunikasi digital adalah tidak selalu membalas seketika.

Microsoft menyebut pause before replying sebagai salah satu prinsip keadaban digital. Tujuannya agar pengguna berhenti sebentar sebelum mengirim sesuatu yang bisa menyakiti orang lain, merusak reputasi, atau menimbulkan masalah keamanan.

Jika sebuah komentar membuat emosi naik, tidak ada kewajiban untuk langsung merespons dalam lima detik.

Tutup aplikasinya.

Baca ulang.

Kemudian tanyakan: apakah balasan ini memperjelas pembicaraan atau hanya memperpanjang konflik?

Tidak semua komentar membutuhkan jawaban.

4. Jangan Percaya Screenshot Tanpa Konteks

Salah satu kelemahan informasi di media sosial adalah konteks sangat mudah dipotong.

Screenshot percakapan bisa kehilangan pesan sebelumnya.

Potongan video 15 detik dapat menghilangkan penjelasan sebelum dan sesudahnya.

Foto lama bisa diunggah kembali seolah-olah baru terjadi hari ini.

Karena itu, jangan berhenti pada screenshot.

Cari unggahan asli.

Lakukan pencarian terhadap nama, peristiwa, atau kalimat pentingnya.

Untuk informasi yang diduga hoaks, masyarakat Indonesia juga dapat menggunakan sumber pengecekan fakta seperti CekFakta.com, TurnBackHoax, Kalimasada, dan basis data pemeriksaan fakta Mafindo.

Pada 2025, Mafindo juga mengembangkan pemanfaatan CekSumber untuk membantu masyarakat menelusuri sumber informasi dengan dukungan teknologi AI.

Teknologinya semakin canggih.

Tetapi kebiasaan paling penting tetap sama: jangan berhenti pada konten pertama yang muncul di layar.

5. Ruang Digital yang Inklusif Berarti Tidak Semua Orang Harus Sama

Indonesia terdiri dari banyak bahasa, budaya, agama, kondisi ekonomi, tingkat pendidikan, usia, dan kemampuan fisik yang berbeda.

Perbedaan itu juga hadir di internet.

Karena itu, ruang digital yang inklusif bukan berarti semua orang dipaksa memiliki pandangan yang sama.

Sebaliknya, orang tetap mempunyai ruang berpendapat tanpa diperlakukan lebih rendah hanya karena identitas atau latar belakangnya.

UNESCO menempatkan literasi media dan informasi sebagai kemampuan penting untuk membangun masyarakat digital yang inklusif, tangguh, kritis, dan terlibat, sekaligus menghadapi misinformasi, disinformasi, serta ujaran kebencian.

Hal sederhana bisa dimulai dari bahasa.

Hindari istilah yang merendahkan kelompok tertentu.

Jangan menjadikan kondisi fisik, ras, agama, atau identitas seseorang sebagai bahan ejekan.

Jika membuat konten informasi, gunakan bahasa yang mudah dipahami.

Untuk video yang banyak berisi percakapan, subtitle juga bisa membantu pengguna yang tidak dapat mendengar audio dengan jelas.

Inklusif bukan sekadar slogan.

Ia terlihat dari siapa saja yang tetap merasa aman untuk ikut berbicara.

6. Jaga Privasi, Termasuk Privasi Orang Lain

Tidak semua yang kita ketahui harus diunggah.

Nomor telepon, alamat rumah, identitas anak, lokasi real-time, dokumen pribadi, hingga percakapan orang lain dapat membawa risiko jika disebarkan sembarangan.

Konsep Aman Digital menjadi salah satu dari empat pilar literasi digital nasional. Siberkreasi juga mendorong kebiasaan dasar seperti berhati-hati membuka tautan, tidak memasang aplikasi sembarangan, dan menggunakan perlindungan akun yang memadai.

Tetapi privasi juga menyangkut orang lain.

Sebelum mengunggah percakapan pribadi, pertimbangkan apakah pihak lain setuju.

Sebelum membagikan foto seseorang dalam situasi sensitif, pikirkan dampaknya.

Dan ketika terjadi konflik, jangan menganggap menyebarkan nomor telepon, alamat rumah, atau informasi keluarga sebagai cara memenangkan perdebatan.

Menang argumentasi tidak pernah membutuhkan pembukaan data pribadi seseorang.

7. Gunakan Fitur Block dan Report Tanpa Merasa Bersalah

Menjadi netizen yang inklusif tidak berarti harus menerima semua perilaku.

Ada perbedaan antara kritik dengan pelecehan.

Ada perbedaan antara perdebatan dengan ancaman.

Jika sebuah akun terus melakukan intimidasi, menyebarkan informasi pribadi, melakukan pelecehan, atau mengirim ancaman, pengguna mempunyai hak untuk membatasi interaksi.

Gunakan fitur mute, block, atau report yang disediakan platform.

Microsoft dalam Digital Civility Challenge juga mendorong pengguna membela diri sendiri dan orang lain ketika menghadapi risiko online serta melaporkan aktivitas yang mengancam keselamatan.

Ruang digital yang sehat bukan ruang tanpa moderasi.

Ia adalah ruang tempat kebebasan berbicara tetap berjalan tanpa membuat orang lain harus menerima intimidasi.

Apakah Netizen Indonesia Benar-benar “Paling Tidak Sopan”?

Kalimat ini masih sering muncul ketika membicarakan perilaku pengguna internet Indonesia.

Namun konteksnya harus diperjelas.

Digital Civility Index Microsoft yang banyak dijadikan dasar berasal dari survei yang dilakukan April hingga Mei 2020 terhadap sekitar 16 ribu responden di 32 wilayah. Dalam hasil yang diumumkan pada Februari 2021, Indonesia berada di peringkat 29 dari 32 wilayah yang disurvei.

Jadi data tersebut tidak tepat digunakan seolah-olah merupakan peringkat terbaru pada 2026.

Lebih berguna melihatnya sebagai pengingat bahwa keadaban digital memang pernah menjadi tantangan besar.

Apalagi masalah yang diukur tidak hanya komentar kasar.

Microsoft ketika itu juga mencatat risiko seperti hoaks, penipuan, ujaran kebencian, diskriminasi, pelecehan, hingga berbagai risiko reputasi dan privasi.

Artinya, cakap digital jauh lebih luas daripada sekadar “jangan berkata kasar”.

Hoaks Masih Menjadi Pekerjaan Rumah

Perkembangan teknologi bahkan membuat tantangannya semakin kompleks.

Dulu orang mungkin cukup waspada terhadap tulisan palsu.

Sekarang gambar bisa dibuat menggunakan AI.

Suara dapat ditiru.

Video dapat dimanipulasi.

Konten palsu juga dapat dibuat dengan tampilan yang semakin meyakinkan.

UNESCO menempatkan kemampuan berpikir kritis, memeriksa informasi, dan mengambil keputusan secara etis sebagai bagian penting dari pendidikan kewargaan digital. Internet memang membuka ruang bagi beragam ekspresi, tetapi sekaligus mempercepat penyebaran misinformasi, disinformasi, ujaran kebencian, dan kekerasan online.

Mafindo pun masih menemukan bahwa kemampuan membedakan hoaks dan fakta belum merata. Dalam survei 2024, sebanyak 52,2 persen netizen yang dirujuk dalam hasil riset disebut tidak mengecek informasi yang diterima melalui gambar, video, berita, situs, maupun unggahan media sosial.

Dengan kata lain, tombol share mungkin sangat mudah ditemukan.

Kebiasaan verifikasi belum tentu sama mudahnya.

Cakap Digital Bukan Hanya Bisa Menggunakan Teknologi

Internet Indonesia tidak membutuhkan masyarakat yang hanya mahir membuka aplikasi.

Yang jauh lebih penting adalah pengguna yang tahu bagaimana bersikap ketika berada di dalamnya.

Bisa mencari informasi.

Bisa mempertanyakan informasi.

Bisa melindungi data.

Bisa menyampaikan kritik.

Bisa mendengar pendapat berbeda.

Dan bisa berhenti ketika diskusi berubah menjadi serangan.

Mafindo menggambarkan pemanfaatan media sosial yang positif sebagai ruang agar kelompok masyarakat dapat saling menginspirasi, berbagi, membangun, dan berempati.

Itulah mungkin ukuran masyarakat digital yang lebih relevan.

Bukan berapa banyak aplikasi yang dikuasai.

Bukan pula berapa cepat sebuah unggahan bisa menjadi viral.

Tetapi apakah teknologi membuat kita lebih kritis terhadap informasi, lebih aman ketika berinternet, dan tetap mampu memperlakukan orang lain sebagai manusia meskipun hanya bertemu melalui layar.

Tags:
teknologi

Komentar Pengguna