Keboncinta.com — Husnul khatimah merupakan istilah dalam Islam yang berarti akhir kehidupan yang baik. Seseorang dikatakan memperoleh husnul khatimah apabila meninggal dunia dalam keadaan beriman dan mendapatkan keridaan Allah SWT.
Dalam buku Menuju Kepulangan: Hakikat Kematian dalam Islam karya Fahmi Hidayat, husnul khatimah dijelaskan sebagai keadaan ketika seseorang mengakhiri kehidupannya dalam keimanan dan ketaatan kepada Allah SWT.
Hal ini sejalan dengan hadis Rasulullah SAW yang menjelaskan keutamaan seseorang yang mengakhiri hidupnya dengan kalimat tauhid.
Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa yang akhir perkataannya adalah la ilaha illallah, maka dia akan masuk surga."
(HR Abu Dawud)
Sebaliknya, terdapat istilah suul khatimah, yaitu akhir kehidupan yang buruk. Kondisi ini berkaitan dengan seseorang yang meninggal dalam keadaan kufur atau terus-menerus melakukan kemaksiatan tanpa bertobat.
Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa penilaian terhadap akhir kehidupan seseorang tidak boleh hanya didasarkan pada apa yang terlihat selama hidupnya.
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa ada seseorang yang menurut pandangan manusia mengamalkan amalan penghuni surga, tetapi akhirnya termasuk penghuni neraka. Sebaliknya, ada pula seseorang yang tampak mengamalkan amalan penghuni neraka, tetapi akhirnya termasuk penghuni surga.
Hadis tersebut mengingatkan bahwa manusia tidak mengetahui secara pasti bagaimana akhir kehidupan seseorang. Karena itu, setiap muslim hendaknya senantiasa menjaga keimanan dan memperbaiki amal.
Baca Juga: Doa untuk Orang Tua yang Masih Hidup dan Sudah Meninggal Lengkap Arab, Latin, dan Arti
Meninggal dunia pada hari Jumat memang memiliki keutamaan yang disebutkan dalam sebuah hadis Rasulullah SAW.
Hadis tersebut diriwayatkan dari Abdullah bin Amr RA. Rasulullah SAW bersabda:
"Tidaklah seorang muslim meninggal dunia pada hari Jumat atau malam Jumat, melainkan Allah akan melindunginya dari fitnah kubur."
(HR At-Tirmidzi dan Ahmad)
Hadis ini menjadi dasar keyakinan sebagian umat Islam mengenai keutamaan meninggal pada hari Jumat atau malam sebelumnya.
Meski demikian, terdapat pembahasan mengenai kualitas hadis tersebut. Imam At-Tirmidzi menyebut riwayat ini sebagai hadis gharib dan menjelaskan bahwa sanadnya tidak bersambung.
Sejumlah ulama hadis kemudian memberikan penilaian berbeda setelah mempertimbangkan jalur periwayatan lainnya. Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, misalnya, menilai hadis tersebut hasan atau sahih dengan mempertimbangkan keseluruhan jalur periwayatannya.
Dengan demikian, hadis tentang keutamaan meninggal pada hari Jumat tidak bisa diabaikan begitu saja, tetapi kualitas dan pemahamannya juga perlu dijelaskan secara proporsional.
Hal penting lainnya adalah memahami bahwa hadis tersebut menyebut perlindungan dari fitnah kubur. Hadis itu tidak secara langsung menyatakan bahwa setiap orang yang meninggal pada hari Jumat pasti memperoleh seluruh tanda husnul khatimah atau dijamin masuk surga.
Karena itu, wafat pada hari Jumat dapat dipandang sebagai keutamaan berdasarkan hadis tersebut, tetapi bukan satu-satunya ukuran untuk memastikan akhir kehidupan seseorang.
Hari Jumat dikenal sebagai salah satu hari paling utama dalam Islam. Keistimewaannya dijelaskan dalam berbagai hadis dan berkaitan dengan banyaknya kesempatan bagi umat Islam untuk beribadah.
Salah satunya adalah adanya waktu mustajab untuk berdoa. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa pada hari Jumat terdapat waktu ketika seorang muslim memohon kebaikan kepada Allah SWT, maka Allah akan mengabulkan permohonannya.
Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan:
"Pada hari Jumat terdapat suatu waktu. Jika seorang muslim berdoa kepada Allah pada waktu tersebut untuk memohon kebaikan, niscaya Allah akan memberikannya."
Selain itu, hari Jumat juga menjadi waktu pelaksanaan salat Jumat bagi kaum muslimin yang memenuhi ketentuannya. Ibadah ini memiliki kedudukan penting dan menjadi salah satu bentuk penghambaan kepada Allah SWT.
Hari Jumat juga disebut sebagai Sayyidul Ayyam, yang berarti penghulu segala hari. Keistimewaan tersebut menjadikan hari Jumat sebagai kesempatan bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah, membaca Al-Qur'an, berselawat, bersedekah, dan memanjatkan doa.
Namun, keutamaan hari Jumat tidak berarti seseorang harus menunggu hari tersebut untuk memperbaiki diri. Setiap hari merupakan kesempatan untuk bertobat dan meningkatkan kualitas keimanan.
Baca Juga: Sering Dibaca Dalam Hati, Doa Masuk WC Ternyata Lebih Utama Dikeraskan Karena Alasan Ini
Setiap muslim tentu berharap dapat mengakhiri kehidupannya dalam keadaan beriman dan memperoleh keridaan Allah SWT.
Husnul khatimah bukan sesuatu yang cukup diharapkan tanpa disertai usaha. Seorang muslim perlu menjaga keimanan dan membiasakan diri melakukan amal saleh sepanjang hidupnya.
Berikut beberapa amalan yang dapat dilakukan sebagai ikhtiar memperoleh husnul khatimah.
Manusia tidak pernah luput dari kesalahan dan dosa. Karena itu, memperbanyak tobat dan istigfar menjadi salah satu cara untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.
Tobat hendaknya dilakukan dengan sungguh-sungguh, disertai penyesalan, meninggalkan perbuatan dosa, dan bertekad tidak mengulanginya.
Salat merupakan kewajiban utama bagi setiap muslim. Menjaga salat lima waktu menjadi salah satu bentuk ketaatan kepada Allah SWT.
Kebiasaan melaksanakan salat tepat waktu juga membantu seseorang menjaga kedisiplinan dalam beribadah dan mengingat Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir